Banner Iklan

Serunya Menjadi Guru RA

Admin JSN
02 Januari 2026 | 20.59 WIB Last Updated 2026-01-02T14:19:29Z

Serunya Menjadi Guru RA

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Tak pernah terbersit sedikitpun bahwa saya akan menjadi seorang guru. Bagi saya menjadi seorang guru artinya memikul beban dan tanggungjawab sangat berat. Saya pikir, saya tidak akan mampu. Apalagi untuk menjadi guru Raudhatul Athfal (RA).

Perkenalkan nama saya Ardiana Putri. Sebelum menjadi seorang guru, saya adalah ibu rumah tangga biasa karena baru saja berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Singkat cerita, amanah itu datang. Guru TK saya dulu memberikan kepercayaan kepada saya agar saya turut menjadi bagian di sebuah lembaga yang ia kepalai.

“Bu Putri mau tidak mengajar di RA Muslimat?” pertanyaan yang cukup menohok. Saat itu saya masih kurang percaya diri. Jujur saya bukanlah alumni jurusan PG Paud, PGRA, ataupun PGSD. Bahkan latar belakang pendidikan yang pernah saya tekuni jauh dari bidang kependidikan.

Setelah saya berdiskusi panjang dengan keluarga dekat, akhirnya saya mengiyakan penawaran menjadi guru RA. Kebetulan lokasi mengajar tidaklah jauh dari rumah saya. Jadi saya pikir tidak ada kendala yang terlalu berarti saat harus meninggalkan anak di rumah untuk beberapa jam saja.

Rasa gugup bercampur antusias menjadi satu pada hari pertama saya mengajar. Saat anak-anak bertepuk dan bernyanyi saya hanya bisa nyengir dan mengikuti.

“Hahaha.. bu guru gak hafal,” kata seorang anak dengan sedikit meledek. Saya pun tak mau kalah. Saya ajak anak-anak bernyanyi berbekal lagu yang biasa saya putar di kanal Youtube saat bermain bersama anak di rumah. Mereka terhibur. Terlihat dari sorotan mata mereka yang berbinar-binar.

Hari pertama mengajar membuat saya terkesan akan tingkah polah anak-anak. Senyum mereka polos dan energinya seolah tak pernah habis. “Sepertinya menjadi guru RA menjadikan kita awet muda,” pikirku. Bagaimana tidak, berkumpul bersama mereka sepertinya akan selalu tercipta suasana menyenangkan.

Saya pernah mendengar orang bijak berkata, Islam merupakan agama yang memuliakan profesi guru. Hal ini dikarenakan bahwa sumber kebaikan dan kebahagiaan baik di dunia ataupun akhirat berasal dari ilmu. Dalam kitab Tahzibil al Kamal, jilid XVI halaman 20 yang dijelaskan oleh Ibnu Mubarak disebutkan bahwa setelah derajat kenabian, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada menebarkan ilmu. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa selain guru itu mulia, guru juga memiliki kedudukan yang tinggi.

Pernah suatu hari saya dibuat terheran-heran dengan sikap kritis anak-anak. Kebetulan saat itu mereka sedang belajar tentang tema Kehidupan di Desa dan Kota. “Bagaimana rasanya udara di desa?” tanyaku memantik. “Panas bu guru. Lebih enak di kota pakai AC semua,” jawab Kenzie.

Kalau dipikir-pikir masuk akal juga jawaban si Kenzie ini. Realitanya perubahan iklim memang telah mengubah udara desa yang dulunya dingin, kini hampir sama saja dengan udara di kota.

Ini menandakan bahwa anak era Gen Z lebih mampu berpikir kritis. Imajinasi mereka luar biasa. Lebih komunikatif dan inovatif. Maka sebagai seorang guru dengan karakter siswa seperti itu, pendidik juga harus mampu lebih fleksibel dan dinamis.

Hari-hari berlalu, tak terasa lebih dari tiga tahun saya mengabdi di RA Muslimat NU 130 Annaba, Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Banyak hal baik yang saya rasakan selama berkhidmat di lembaga tersebut. Hidup terasa lebih berkah. Begitu banyak kemudahan yang datang.

Lelah itu pasti. Bayangkan saja, saat mengajar di pagi hari, seorang guru RA tidak boleh lesu dan harus tampak selalu semangat. Saat di kelas dan berhadapan dengan lebih dari sepuluh siswa, banyak hal tak terduga pasti terjadi. Bertengkar, menangis, minta pipis. Itu menjadi sarapan sehari-hari seorang guru RA. Namun, saat siswa mampu menyerap apa yang guru sampaikan, itulah yang menjadi sebuah kebanggaan.

Berbekal cinta yang tulus, guru RA tidak sekadar mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi kita diharapkan mampu menanamkan nilai moral, akhlak yang baik, dan kreativitas melalui pendekatan bermain, mendongeng, serta metode inovatif lainnya.

Profesi guru, khususnya di jenjang Raudhatul Athfal (RA) sering kali dipandang sebelah mata. "Jadi guru RA pasti gajinya tidak seberapa," begitulah selentingan beberapa orang. Namun ini bukan persoalan gaji. Bagi saya, menjadi guru RA bukan hanya sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk mendidik calon penerus bangsa di usia emas mereka.


BIODATA PENULIS

Nama: Sofwatul Widad Ardiana Putri

Tempat/Tanggal Lahir: Pasuruan/ 08 Agustus 1996

Alamat: Dusun Ranggeh Selatan RT 02 RW 04, Desa Ranggeh, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan

Tempat Mengajar: RA MUSLIMAT NU 130 ANNABA’, Jalan Raya Ranggeh No. 06, Gondangwetan



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Serunya Menjadi Guru RA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now