ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Bayangkan pengalaman adalah sebuah biji dan refleksi adalah tanah dan airnya. Sebuah biji akan tetap menjadi biji jika ditelakkan di atas meja, ia berpotensi tapi tidak tumbuh. Jika ditanam pada tanah dan rutin menyiramnya, ia akan tumbuh dan memberikan penghidupan. Tanpa refleksi, pengalaman adalah biji yang mati, ia butuh kesediaan hati untuk menguburnya dalam renungan agar tumbuh menjadi kebijaksanaan. Begitupun dengan MAMDA Fair, bagi saya momen itu hanya akan menjadi tumpukan kenangan yang akan terulang kembali setiap semester, dengan malakukan refleksi, saya memaknai pentingnya momen ini untuk menyatukan kekompakan dalam menjalankan misi pendidikan.
Pagi itu senin, 15 desember 2025 suasana kantor penuh dengan isi kepala yang berisik, perasaan yang bercampur antara senang, was-was dan deg-degan, semuanya sibuk mempersiapkan dan menyempurnakan konsep acara MAMDA Fair yang recananya akan digelar hari selasa, 16 desember 2025. Ini konsep pengambilan rapor yang tidak biasa, acara ini bukan hanya sekadar perayaan menyambut liburan, tetapi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreatifitas dan menumbuhkan bonding dengan orang tua. Acara ini memang sederhana secara rupa, tapi kaya secara makna dan membekas disetiap hati yang disapa. Hal sederhana inilah yang seringkali membuat saya merasa bangga menjadi bagian dari madrasah. Semua pihak bekerja sama mensukseskan acara, menyatukan banyak hati agar kembali saling memeluk, menenun retak dan saling menguatkan. Bahwa ternyata, perjalanan yang bernama belajar ini tidak selalu menyenangkan, ada banyak lelah yang berharga, dan layak dijalani dengan penuh kesadaran.
MAMDA Fair dibuat agar siswa bisa mengekspresikan berbagai bakatnya dan orangtua bisa menyaksikan secara langsung. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada motivasi belajarnya. Di sisi lain, karena basisnya MA Miftahul Huda adalah madrasah entrepreneur school, maka kegiatan bazar menjadi bagian penting dalam acara tersebut. Mengusung konsep my class my company, siswa belajar mengelola kelasnya untuk berwirausaha dengan menyediakan bazar lengkap dengan menu kelas masing-masing. Responnyapun sangat bagus, usaha untuk menyediakan bazar effortnya luar biasa, apalagi saat selesai acara semua menu habis terjual, mereka seperti menemukan kepuasaan tersendiri dan itu layak untuk diapresiasi. Menariknya dari acara ini adalah bagian inti acara, yaitu pengambilan rapor yang tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Siswa yang menyerahkan hasil belajarnya kepada orangtua secara langsung. Suasana menjadi sakral dan penuh haru, mengajak semua yang hadir memahami betapa berharga dan pentingnya dukungan orangtua, guru, lingkungan, dan kerja keras dalam belajar.
Madrasah kami memang sangat sederhana dan jauh dari kata sempurna, tapi kami terus berusaha menjadi lebih baik setiap hari. Salah satunya dengan melakukan hal-hal sederhana seperti membangun budaya apresiasi atas tindakan baik, bukan hanya prestasi akademik. Dengan ini, siswa tidak hanya terisi penuh otaknya tetapi juga hatinya. Contohnya dalam acara MAMDA Fair kemarin, ada satu anak laki-laki yang secara akademik tidak begitu unggul dan mempunyai beberapa kekurangan dalam hal berbicara tapi punya sikap yang baik. Ia mendapat penghargaan sebagai siswa kepribadian terbaik. Ini adalah momen yang sangat menyentuh, ada seorang ibu yang menyadari anaknya memiliki keterbatasan dalam pelajaran. Namun, saat nama anaknya diumumkan dalam deretan siswa berprestasi, wajah yang mulai menua itu tiba-tiba basah, ada rasa sesak yang indah lalu menjelma air mata. Ia menyadari satu hal, bahwa anaknya mungkin tak mampu menaklukkan kata-kata dan angka, tapi ia berhasil menyentuh hati banyak orang dengan keindahan sikapnya.
Mendatangkan orang tua ke sekolah merupakan momen langka. Ditengah kesibukan bekerja, mengurus rumah, dan aktivitas lain, kehadiran mereka dalam acara MAMDA Fair menjadi kesempatan emas untuk membangun makna bersama. Mungkin ini yang dimaksud Tree Way Conference, kegiatan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Kegiatan yang dapat menjadi media komunikasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan siswa di sekolah maupun di rumah. Sehingga tercipta Kerjasama yang berkelanjutan dalam mendukung pembelajaran dan penguatan karakter. Penerimaan rapor ini menjadi acara yang tidak lagi kaku, siswa tidak lagi menjadi satu-satunya objek yang dibicarakan, tetapi semua terlibat dalam satu forum dialog penuh makna. Beberapa hari sebelumnya seluruh siswa dibimbing untuk menulis refleksi selama satu semester dengan beberapa pertanyaan panduan, salah satunya ucapan terimakasih, permohonan maaf, sekaligus harapan mereka kepada orang tua. Tulisan tersebut diabadikan pada buku literasi sekolah dan dijadikan satu bendel dengan buku rapor untuk dibaca orang tua.
Dari acara MAMDA Fair, saya menyadari bahwa madrasah yang baik tidak selalu diukur dari seberapa megah gedung yang ia bangun, seberapa lengkap fasilitas yang ia suguhkan, bukan pula dari banyaknya program yang dibuat, melainkan dari bagaimana madrasah menumbuhkan tiga pilar penting yaitu kesadaran, refleksi, dan kolaborasi. Kesadaran adalah akar dari segala perubahan. Madrasah tanpa refleksi hanyalah pabrik kegiatan. Sejatinya, dari sebuah refleksi lahirlah kebijaksanaan. Guru, siswa, orang tua, dan lingkungan semua bagian dari ekosistem belajar. Tanpa kolaborasi, tak akan ada kemajuan.
Karya Wasiatul Khusna
“We do not learn from experience. We learn from reflecting on experience.”
(John Dewey)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?