Banner Iklan

Refleksi Sufistik: Sebuah Dialog tentang Adab dan Ketawadhuan

Admin JSN
18 Januari 2026 | 08.28 WIB Last Updated 2026-01-18T04:00:18Z


Refleksi Sufistik: Sebuah Dialog tentang Adab dan Ketawadhuan

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM Pada suatu sore yang tenang, seorang teman mendekati saya. Tatapannya menyimpan rasa ingin tahu yang tidak sederhana. Setelah ragu sejenak, ia bertanya dengan suara lirih, namun terasa tajam menusuk kesadaran.

“Gus… saya mau tanya. Kenapa panjenengan mau saja tangan panjenengan dicium orang? Apa panjenengan merasa memang sepantas itu dihormati?”

Saya menatapnya sebentar. Tidak segera menjawab. Lalu saya berkata pelan, dengan nada yang lebih ingin menenangkan hatinya daripada memenangkan logika:

“Aku tidak pernah meminta tangan ini dicium. Tidak pula pernah mewajibkan siapa pun melakukannya. Bahkan, sejujurnya, setiap kali ada yang mencium tanganku, aku sering merasa tidak enak.”

Ia terlihat terkejut.

“Lho… kalau begitu, kenapa panjenengan tetap mengizinkan?”

Saya menarik napas panjang, lalu menjawab perlahan:

“Karena hidup tidak selalu soal apa yang kita sukai atau tidak sukai.”

Ia mengernyit.

“Maksudnya bagaimana, Gus?”


Saya berkata pelan, seolah sedang mengurai makna adab itu sendiri:

“Ada orang yang merasa hatinya lebih tenang ketika mencium tangan gurunya. Ada yang merasa langkah hidupnya lebih mantap ketika menundukkan diri dalam penghormatan. Itu bukan karena aku lebih tinggi darinya, tapi karena ia sedang menjaga tata batinnya sendiri.”

Ia terdiam sejenak, lalu bertanya lagi dengan suara yang lebih lembut:

“Jadi… penghormatan itu sebenarnya bukan untuk panjenengan, tapi untuk dirinya sendiri?”

Saya mengangguk pelan.

“Betul. Mencium tangan bukan tentang meninggikan derajatku, tapi tentang bagaimana ia merawat adabnya. Jika tindakan itu membuat hatinya lebih jernih, hidupnya lebih terarah, atau adabnya lebih terjaga, maka aku menerimanya. Bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai pelayanan.”

Ia mengulang kata itu pelan, seolah mencernanya:

“Pelayanan…?”

Saya melanjutkan dengan suara yang lebih dalam:

“Ketika seseorang mencium tanganku demi kemantapan hidupnya, sesungguhnya aku sedang menghormati dirinya. Aku memberi ruang bagi caranya menjaga adab. Aku menundukkan egoku agar ia bisa menegakkan hatinya. Itu bukan kemuliaanku itu pengabdian kecilku.”

Wajahnya kini tampak lebih teduh. Ia mengangguk pelan.

“Saya paham sekarang, Gus. Ternyata yang panjenengan jaga bukan gengsi, tapi hati manusia.”

Saya tersenyum kecil.

“Kadang, menerima penghormatan bukan karena kita membutuhkannya, tetapi karena orang lain membutuhkannya untuk menjaga dirinya tetap utuh. Dan ketika itu terjadi, kita bukan sedang diagungkan kita sedang melayani dan mengabdi.”

Oleh: Saiful Anam


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Refleksi Sufistik: Sebuah Dialog tentang Adab dan Ketawadhuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now