Banner Iklan

Memaknai Ikhlas Beramal: Balutan Passion dan Cinta dalam Mengabdi di Kementerian Agama

Admin JSN
02 Januari 2026 | 12.31 WIB Last Updated 2026-01-02T05:31:15Z

Memaknai Ikhlas Beramal: Balutan Passion dan Cinta dalam Mengabdi di Kementerian Agama

Foto: Penulis sedang aksi pendampingan. “Kertas yang putih, bersih, dan halus itu jika diremas-remas, apalagi dirobek-robek, akan sangat sulit dikembalikan lagi seperti semula.” Salah satu contoh aksi implentasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), bahwa “Jangan pernah menyakiti hati murid!”

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Ibarat seorang petani, petualangan pertanianku dimulai pada September 2005. Kujejakkan kakiku dengan bercocok tanam dan merawat tanaman itu dengan penuh gairah dan cinta di lahan sawah, kebun, dan ladang yang bernama “Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan’. Saat itu masih bernama ‘Departemen Agama’. Benih pertama kali yang kutanam dan kurawat adalah ‘Bimbingan Masyarakat Islam’, disingkat Bimas Islam. Sawah, kebun, dan ladangnya berpindah tempat sampai lima kali. Pertama kali aku sebagai ‘buruh tani’ atau staf di Kantor Urusan Agama Kec. Grati, 1995 – 1998. Dua tahun kemudian, persis saat SK PNS-ku turun, aku langsung dipercaya secara berturut-turut sebagai ‘mandor’ atau Kepala KUA Kec. Rembang, 1998 – 2000; Kepala KUA Kec. Lekok, 2000 – 2002; dan Kepala KUA Kec. Kraton, 2002 – 2023.

Meskipun cukup lama di KUA dengan jabatan yang sudah dapat dianggap ‘mapan’ oleh sebagian orang, aku merasa sangat gelisah dan merasa kurang bahagia. Ada sesuatu yang hilang dan ‘kering’ dalam batinku. Pertarungan antara passion sebagai pejabat struktural di KUA Kecamatan yang jauh dari cita-cita pertama saat aku sekolah di jenjang SMPN 2 Pandaan, bahkan sejak kelas akhir di SD Ma’arif Pandaan dulu. Ya, cita-citaku sederhana saja untuk sekelas anak pedesaan saat itu, jadi Pak Guru Agama. Mulai saat itulah kontradiksi dan pertarungan mentalku bergejolak secara hebat. Terus berkarir di KUA atau berhenti. Pindah ke guru.

Didasari oleh cita-citaku itulah, selepas SMP, aku sempat sekolah di SPGN Kota Pasuruan. Sekarang menjadi SMPN 2 Kota Pasuruan. Sayangnya, aku hanya bertahan 14 hari saja di sekolah ini. Aku merasa tidak cocok dengan passion yang kuinginkan. Menjadi guru Agama. Aku terpaksa sekolah di sini, semata-mata mengikuti kehendak keluarga. Keadaan mental seperti itu diperburuk lagi dengan udara panas Kota Pasuruan. Maklum, selama ini aku tinggal di Candiwates-Prigen, desa yang sejuk dan dingin. Gejolak mental akibat korsleting—keadaan tidak bisa berpikir dengan baik---akibat keliru memlilih ‘jurusan akademik itu semakin hari semakin memuncak. Tak pelak lagi, aku jatuh sakit selama tiga bulan lebih. Akhirnya, keputusan berat harus kuambil juga. ‘Terminal’ alias drop out sekolah.

Meskipun demikian, aku bertekad, aku harus sekolah lagi. Singkat cerita, Juli 1986 aku diterima di PGAN Jl. Bandung 7 Malang. Pulangnya ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Jl. Gading Pesantren 38 Malang. Tiga tahun kemudian, Allah berikan kesempatan melalui Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) untuk studi lanjut ke Fakultas Tarbiyah IAIN Malang.

Tentu saja, dengan latar belakang cita-cita dan pendidikan yang aku geluti seperti itu, aku tidak mampu menghapus passion-ku untuk tetap belajar dan mengajar sepanjang hidupku. Apalagi saat mondok di Gading itu, ada petuah singkat, tetapi sangat bermakna dan mendalam. Almarhum KH. Muhammad Yahya, pengasuh pondok Gading pernah berpesan kepada santri-santrinya: “Santri Gading iku kudu mulang!” (Santri Gading itu wajib mengajar). Obor api petuah itulah yang tidak bisa terhapus dari memori jangka panjang pikiran dan hatiku. Ia selalu hidup. Mengobarkan api semangat untuk terus belajar dan mengajar.

Begitulah! Kegelisahanku berlangsung hampir 8,5 tahun. Pada satu sisi, aku harus melakukan pengabdian terbaik sebagai Kepala KUA Kecamatan. Akan tetapi, pada sisi yang lain, hati dan pikiranku remuk redam akibat pekerjaan saat ini belum sesuai passion-ku. Setiap kesulitan pasti akan ada peluang kemudahan. Benar saja, ada peristiwa kecil, tetapi sangat penting dalam merubah perjalanan karirku. Waktu itu ada upacara. Seperti biasa, dilanjut dengan rapat kordinasi dan pembinaan. Aku masih ingat betul. Kejadian di ruang yang saat ini menjadi Ruang Bimas Islam itu. Bapak Zainuddin Jasin, Kepala Depag Kabupaten Pasuruan bertanya, “Ayo Bapak-Bapak, siapa yang mau mengajukan mutasi ke pengawas?” tanyanya kepada beberapa kepala KUA yang lagi ‘ngobrol’ di situ. Segampang itu mutasi jabatan pada waktu itu. Asal mau saja.

Sejurus kemudian, belum ada satu pun yang berucap. Aku berdiri dan menghadap sepenuh badan dan jiwa; “Saya, Bapak!” jawabku tegas sambil membungkukkan badan sebagai tanda hormat.

“Ah, kamu masih terlalu muda (maksudnya belum jelang pansiun)”! timpalnya sambil mendorong dan menyibakkan badanku.

Selesai rapat pembinaan dan kordinasi, aku mengejar dan membuntuti beliau. Saat beliau menoleh ke belakang, secepat kilat aku sampaikan dengan suara pelan, tapi jelas, “Bapak, mohon izin, boleh saya menghadap!” pintaku memelas dan sungguh-sungguh.

“Baiklah!”, sahutnya singkat. “Apa yang mendorong Pak Mahmud mutasi ke guru?”

“Saya ingin dapat mendedikasikan pengabdian terbaik saya kepada Departemen Agama sesuai dengan minat, bakat, dan kompetensi yang saya miliki, Bapak. Saya lebih bisa menikmati kerja di duna akademik,” jawabku dengan penuh hormat.

“Apakah ada alasan lainnya?” sahut beliau menimpali lagi jawabanku.

“Ya, begini, Bapak! Mohon izin dan mohon maaf! Pegawai itu kan berhak untuk sejahtera. Saya merasa, jika saya terus berbakti di jabatan struktural di KUA seperti saat ini, saya merasa belum bisa sejahtera secara mental. Itu belum bisa menjawab kebutuhan saya, khususnya ‘kebutuhan akademik’ yang lebih sesuai dengan semangat, gairah, dan cita-cita saya!” jawabku meyakinkannya.

“Kalau begitu, segera tulis surat permohonan!” pintanya singkat.

Di tengah penantian mutasi jabatan tersebut, sempat juga aku ditawari oleh Bapak Fattah Karnadi, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Depag Kabupaten Pasuruan saat itu. “Bagaimana jika nanti langsung menjadi kepala madrasah saja, kan tinggal sedikit oper persneling saja?” rayunya.

“Terima kasih banyak, Bapak. Mohon dengan hormat lagi sangat. Izinkan dan berikan kesempatan kepada saya untuk menjadi guru yang baik. Jika suatu saat terbukti menurut penilaian Bapak, bahwa saya layak dipercaya untuk jabatan itu, monggo, Bapak. InsyaAllah saya siap. Tetapi, saat ini, saya sudah sangat bersyukur karena permohonan mutasi saya ke guru dapat diproses!”, pintaku terbata-bata menimpali pimpinanku saat itu. Benar saja. Sekitar tiga bulan kemudian, tepatnya September 2023, SK perpindahan dengan permintaan sendiri tersebut kelar.

Liku-liku keberanianku untuk mutasi jabatan tersebut tidaklah mudah. Itu sungguh keputusan yang sangat sulit, pelik, berat, dan menantang!. Tetapi, demi ‘panggilan nurani’ untuk memberikan pengabdian terbaik sesuai passion-ku kepada Departemen Agama, aku harus mengambil keputusan itu. Ya, berpindah pada lahan sawah, kebun, dan ladang serta benih tanaman yang sedikit berbeda: dari struktural ke fungsional akademik. Menjadi pendidik di madrasah.

Bagaimanapun juga, aku bersukur kepada Allah. Rintisan benih tanaman baru yang kurintis di lahan sawah. kebun, dan ladang baruku di dunia akademis madrasah mulai menampakkan hasil yang signifikan. Tidak meleset. Pelan tapi pasti, dunia pendidikan sebagai passion-ku mulai kurengkuh dengan suka cita. Bersama Pak Bawon, guru baru jebolan Al Hikmah Surabaya yang diterima sebagai CPNS di MTsN Rejoso, bahu-membahu bersama guru lainnya untuk mengembangkan madrasah ‘filial’ MTsN Rejoso yang berada di Pohjentrek, cikal bakal MTsN 6 Pasuruan saat ini. Saking senangnya bisa pindah ke guru, sampai-sampai aku sering bermalam di madrasah. Berbaur sepanjang waktu bersama murid-murid. Mendampingi mereka berektrakurikuler sore hari.

Di samping itu, sangat beruntung sekali, aku ditempatkan di madrasah dengan seorang kepala madrasah yang humble—tidak sombong, tidak angkuh, dan rendah hati; visioner, telaten, dan memberdayakan pegawainya. Rusdianto namanya. Demikian pula bantuan kepala madrasah penerusnya, Imam Ghozali yang penyabar dan tekun itu. Juga dukungan para guru dan wakil kepala madrasah membuatku semakin gaspol dan semakin kencang dalam mengajar dan mendidik murid-murid.

Selain itu, sokongan semangat juga diberikan oleh para pengawas madrasah: Pak Moh.Saladin, Pak Abu Nasir, Pak Yusuf Ande, Pak Masyhudi, dan masih banyak lagi pengawas yang lain. Semua memotivasiku untuk terus maju pantang menyerah. Sepertinya mereka sangat memahami kegelisahanku sebagai guru baru. Perlu di-support!

Semua dukungan tersebut bagiku sangat penting dan berarti, karena terlalu lama aku keluar dari ‘orbit pendidikan dan dunia akademik’. Hampir 9 tahun, 1995 – 2003. Beruntung sekali, meskipun aku di KUA, aku tetap menjadi ‘guru terbang’ di madrasah swasta, meski hanya dua jam pelajaran saja pada akhir pekan. Ada dua madrasah yang sempat aku berlabuh agar aku tetap bisa mengekspresikan akademikku: MI Darul Ulum Grati dan MTs Hasyim Asy’ari Gondang Wetan. Kegiatan terakhir ini sedikit mampu mengobati kerinduan passion-ku untuk mengajar dan mendidik benih-benih bibit-bibit generasi masa depan agama dan bangsa.

Dua tahun kemudian, puncak dukungan datang dari kepala madrasah, Mei 2006, yang mengizinkanku untuk studi lanjut. “Pak Mahmud, ini ada peluang yang Sampeyan cari dan tunggu-tunggu!“ kata Bu Masriyatul Badiah, rekan guru di MTsN Rejoso di Pohjentrek.

“Alhamdulillah, ini peluang bagus. Ayo ikut!” timpalku dengan cepat.

Aku pun langsung menghadap kepala madrasah. “Mana suratnya, saya tanda tangani rekomendasinya. Ustadz Mahmud harus ikut tes. Berangkat!” tegas Pak Rusdianto saat aku izin menyampaikan keinginanku.

Alhamdulillah, qadaraAllah, ... aku dapat durian runtuh: lulus tes studi lanjut S-2 dengan beasiswa full dengan status ‘Tugas Belajar’ selama dua tahun. Bersamaan dengan itu pula, istri tercintaku juga dinyatakan lulus dengan status yang sama, guru PAI SMPN 5 Kota Pasuruan untuk tugas belajar di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta.

Tentu, seluk-beluk perjuangan studi yang tidak ringan harus kujalani. Aku harus berpisah dengan istri dan dua anakku yang masih kecil-kecil. Si Kecil Saniyyah Nur Baiti masih kelas ‘nol kecil’. Akhirnya ia harus ikut ibunya ke Yogyakarta. Sementara kakaknya, Muhammad Ahmad Fatih, kelas IV MI aku titipkan ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Al Hidayah Sukorejo, Pasuruan. Akupun harus pandai membagi waktu sedemikian rupa, karena ada tiga ‘dapur’ kegiatan sekaligus: Surabaya, Yogyakarta, dan Pasuruan. Syukurlah, kami berdua bisa menyelesaikan studi tepat waktu, Oktober 2008.

Kenangan indah dan oleh-oleh studi S-2 selama dua tahun tersebut akhirnya kuabadikan dalam karya tulis dalam bentuk buku “Kecerdasan Sosial dalam Al-Qur’an”, diterbitkan oleh Pustaka Media Guru, 2020. Buku ini sangat membantu dalam mengembangkan kecerdasan sosial anak didik. Kajian psikologis pendidikan dikawinkan dengan Al-Qur’an. Melalui pendekatan tafsir tematik, diulas dengan lugas pondasi kecerdasan sosial, nilai-nilai, dan karakteristik penting kecerdasan sosial dalam Al-Qur’an serta implementasinya dalam dunia pendidikan.

Buku tersebut mendapat sambutan dari dosen senior di UIN Sunan Ampel Surabaya. “Saudara Mahmud mengajak kita untuk menelaah lebih luas khazanah keilmuan dan pemahaman kita atas satu jenis kecerdasan yang sangat penting, yang menjadi faktor penting sukses anak-anak dan generasi emas masa depan, yang dikenal dengan “Kecerdasan Sosial” Demikian kutipan kata pengantar yang disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Ahamd Zahra, MA.

Komentar lainnya datang dari Prof. Dr. H. M. Roem Rowi, MA. Kutipan pernyataannya antara lain adalah “Pesan buku ini juga sangat lugas untuk menegaskan kembali makna kesalehan seseorang, yakni kesalehan individu tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kesalehan sosial.”

Tampaknya, dua komentar tersebut bagiku semakin memperkuat khazanah keilmuan dan literasi tentang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang saat ini sedang digarap secara marak dan pesat di madrasah. Literasi paling mengena dalam tulisanku itu terutama pada topik ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya’ dan ‘Cinta kepada diri sendiri serta kepada orang lain’.

Oktober 2008, aku kembali ke madrasah. Ibarat ikan, aku merdeka kembali. Sudah kembali ke habitatku yang asli—kembali ke air—setelah beberapa tahun terdampar di daratan. Mulailah aku mengukir prestasi, meskipun belum istimewa. Hanya runner up alias pemenang ke-2 dalam ajang Lomba Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Pasuruan, Desember 2008.

Akupun mulai mencoba membantu kepala madrasah agar MTsN Rejoso filial di Pohjenterek ini dapat berkembang lebih baik. Aku menangkap celahnya. Ya, melalui kegiatan Pramuka, meskipun sebetulnya aku tidak terlalu ahli seluk beluk Pramuka. Hanya suka dan senang saja. Berbekal kegiatan Pramuka itulah, MTsN Rejoso yang di Pohjentrek ini mulai dikenal oleh masyarakat, terutama di Kecamatan Pohjentrek dan sekitarnya. Apalagi setelah diselenggarakan ajang perkemahan se KKMTs Rejoso di madrasah ini. Kemah Pramuka tersebut sukses menyedot massa, bahkan dihadiri oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur saat itu, Drs. H. Roziqi, M.M., M.BA.

Perkemahan tersebut ternyata membawa berkah. Aku, Bu Masriyyatul Badiah, dan Bu Nur Lailatul Inayah akhirnya mendapatkan panggilan untuk mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka yang ditempatkan di madrasah kami. Akhir ‘drama Pramuka’ ini, aku dijadikan Kordinator Alumni KMD untuk program latihan bersama secara keliling di SD/MI setempat. Tentu saja, kegiatan ini membuat citra madrasah filial Pohjentrek semakin dilirik oleh para kepala sekolah dan guru-guru SD/MI dan masyarakat. Kami pun sukses mengantarkan salah satu anak didik kami berangkat ke Jambore Nasional, Muhammad Kholil namanya. Saat ini ia menjadi pembina Pramuka yang cukup aktif di Kota Pasuruan.

Demikianlah waktu berlalu, setahun kemudian, tepatnya Juni 2009, aku diberi amanah sebagai Kepala MTsN Rejoso—sekarang MTsN 5 Pasurun. Sayang sekali, hanya sekitar 17 bulan saja di sini, tidak sempat berbuat banyak terkait pengembangan akademik dan madrasah. Aku hanya berkutat di sarpras, mengingat sarana madrasah negeri yang paling ‘melas’ nasibnya, mungkin se Jawa Timur saat itu. Bersama Ustadz Mohammad, aku berjuang untuk mendapatkan proyek pembangunan ruang kelas. Berbekal proyek dan kolaborasi dengan komite madrasah, Pak Masyhuri Lekok, bisa menambah beberapa ruang kelas, ruang laboratorium, dan masjid yang belum selesai.

Belum tuntas di Rejoso, Pebruari 2011 aku masuk gerbong mutasi lagi sebagai Kepala MTsN Wonorejo. Sekarang menjadi MTsN 4 Pasuruan. Inovasi pertama di sini adalah membuat program kelas heterogen sesuai pemetaan siswa baru: Kelas Agama, Kelas Bilingual, Kelas Olimpiade, serta Kelas Reguler. Gebrakan ini langsung ‘mengerek’ perolehan PPDB. Semula hanya 3 rombel, langsung naik menjadi 5 rombel.

Inovasi lainnya adalah merintis Madrasah Adiwiyata dan berhasil sebagai Madrasah Tsnawiyah Adiwiyata pertama di Kabupaten Pasuruan, menyusul MAN 1 Bangil. Sukses itu juga berkat kolaborasi yang apik dengan para kepala SD dan MI se Kecamatan Wonorejo. Hampir semua even dan kegiatan SD dan/atau MI berusaha ikut terlibat untuk menyukseskannya. Simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Itulah yang terjadi.

Satu lagi terobosan untuk menaikkan citra madrasah, agar mampu bersaing dengan sekolah tetangga sebelah, maksudku SMPN setempat. Kurun waktu 2014 – 2015 aku putuskan menjalin kerja sama dengan Peace Corps Volunteers, Amerika Serikat. Sarra Elizabet Ballad, nama relawan itu. Ia berasal dari Texas. Cantik, supel, dan pintar bergaul. Sehari-hari ia banyak belajar budaya masyarakat setempat. Tentu saja juga berkolaborasi untuk Team Teaching dalam pembelajaran bahasa Inggris di madrasah.

Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Hampir setiap pekan, ia terlibat membaur mengikuti hampir semua lini kegiatan di masyarakat. Mulai anak-anak balita, sampai kegiatan ibu-ibu PKK dan pengajian di majlis ta’lim. Aku bawa pula ia shilaturrahmi dan berkunjung ke berbagai pesantren dan sekolah keagamaan. Aku fasilitasi juga berlibur ke berbagai destinasi wisata di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Penampilan wajah bule-nya yang khas itu ternyata membuat pamor MTsN Wonorejo menjadi ‘naik daun’. Masyarakat Wonorejo, termasuk para tokoh agama, bisa menerimanya dengan baik.

Kehadiran Elizabet memang ada misi tersembunyi juga di luar kepentingan madrasah. Apalagi kalau bukan keinginanku untuk ikut bersuara kepada dunia: ‘kampanye’ perdamaian dan anti terorisme. Sebisa-bisanya. Aku bermimpi, suatu saat, dia bisa menjadi corong dan duta di Amerika Serikat. Ia dengan tegas akan bersumpah bahwa Indonesia yang muslimnya terbesar di dunia itu adalah negeri yang indah, aman tentram, cinta damai, nyaman, dan ramah. Muslim Indonesia bukan teroris! Dua tahun tinggal di negeri Nusantara ini, tak sekalipun ia mendapatkan perlakuan diskriminatif, apalagi ancaman keamanan dan kekerasan.

Setelah bergelut di sawah. kebun, dan ladang untuk menanam benih dan bibit tanaman sebagai guru dan kepala madrasah selama kurang lebih 13 tahun, aku mencoba peruntungan untuk menanam dan merawat benih dan bibit yang lain. Tetapi, pada posisi yang berbeda: sebagai penjamin mutu, pengawas madrasah. Terhitung sejak Juli 2017, aku resmi mengabdikan khidmahku di madrasah sebagai pendamping guru, kepala, dan tenaga kependidikan di madrasah. Tagline, slogan. atau moto grup madrasah binaanku adalah “Madrasah Inspirtaif” (2017 – 2024) dan “Madrasah Bersinar” (2025 – Sekarang). Cita-citaku, menjadikan madrasah binaaku sebagai madrasah yang mampu menjadi contoh, teladan, dan inspirasi dalam berinovasi serta berkreasi sebagai madrasah unggul dan rujukan, sesuai dengan kekhasan dan keunikan masing-masing.

Tentu tak terhitung suka duka dalam petualanganku sebagai petani yang berposisi sebagai ‘pengawas tanaman madrasah’ itu. Sebagai gambaran sngkat, pada periode 2017 – 2014, tugas dan fungsi pengawas adalah bagaimana menjadikan, minimal tujuh madrasahnya, menjadi unggul dan rujukan sesuai kekhasan dan keunikan masing-masing. Sementara jumlah binaanku berkisar antara 18 - 20 madrasah yang tersebar di delapan kecamatan. Memanjang mulai dari wilayah barat - timur; utara – selatan; pantai – pegunungan. Sebut misalnya MTs NU Lekok yang di pinggir pantai itu. Atau MTs Miftahul Ulum Ya Ihsan Andonosari, Kec. Tutur yang dekat Gunung Bromo itu.

Beruntung, Januari 2025, ada kebijakan teknis untuk menugaskan pengawas berbasis Kelompok Kerja Madrasah (KKM). Imbasnya, wilayah binaanku lebih mengecil. Hanya tiga kecamatan saja yang saling berimpitan: Beji, Bangil, dan Kraton. Sesulit apa pun tantangan ini, tetap aku syukuri dengan tetap memberikan pengabdian terbaikku, karena selalu ingat dengan passion dan cinta. Sedikit duka lara dalam petualangan dalam bertugas, dapat terobati bahkan hilang seketika saat menikmati proses menanam dengan balutan pasiion dan cinta.

Gairah kerja itu harus terus menyala. Apalagi jika merenungi pesan Gus Achmad Syampton Masduqie, pimpinan kita saat ini. Pada grup WA Kemenag Famili, 27-12-2025, beliau menyatakan, “Tidak ada tempat kerja yang 100% nyaman, karena kita tidak mencari nyaman, tetapi mencari nafkah... nafkah pun hanya untuk bekal akhirat....”

Oleh karena itu, untuk mengobati dan memberikan suntkan ‘vitamin kinerja’ kepada diriku sendiri; juga kepada para kepala serta guru madrasah, aku sering menyelipkan pesan-pesan moral dalam setiap pendampinganku. Salah satu selipan vitamin motivasi itu aku beri nama ‘Fokus Islami’. Kupasang pesan ilahi itu di slide awal presentasiku. Pada saat refleksi Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) kemarin misalnya, aku mengutip Q.S. Yasin: 12. “Sungguh Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan ‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).”

Relevansi ayat tersebut dalam kinerja, menurutku, Allah dengan tegas mengingatkan agar kita bersungguh-sungguh untuk berinovasi dan berkreasi secara baik. Allah akan membalas sesuai yang kita lakukan beserta ‘dampaknya sekalian’. Kinerja kita yang baik dan ‘dampaknya’ sekaligus, akan ditiru dan diikuti oleh murid-murid kita sehingga menjadi amal jariyah yang abadi selamanya. Atsar atau dampak kinerja itulah yang akan terus mengalir pahalanya, sampai kapan pun, meskipun kita sudah berkalang tanah, bercerai nyawa dari badan.

Masih dalam urusan ‘Vitamin Kinerja’ tersebut, menurut pendapatku, kinerja yang baik tanpa didasari keikhlasan sangat rapuh dan mudah goyah. Serapuh rumah laba-laba atau al-Ankabut dalam kiasan Al-Qur’an. Oleh karena itu, agar kinerja tidak menurun, perlu ditopang keikhlasan dalam bekerja. Tetapi, memang tidak mudah untuk ‘kampanye’ ikhlas. Apalagi dalam tatanan dunia yang serba hedonis seperti yang dianut oleh banyak orang saat ini. Bahkan di lingkungan madrasah yang nota bene terkenal dengan entitas yang lebih ‘paham agama’ sekalipun.

Akhirnya, aku menemukan cara ‘kampanye’, bagaimana memahami makna ikhlas itu. Aku tarik ‘dunia ikhlas’ ke dalam ‘dunia fisika’. Maksudnya, agar mudah ditangkap oleh rekan-rekan guru dan kepala madrasah, aku tekankan teori hukum ‘Kekalan Energi’ yang digagas oleh James Prescott Joule. Ilmuwan Inggris itu menemukan bahwa panas adalah salah satu bentuk energi. Menurut Joule, energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Energi hanya berubah bentuk.

Karena itu, menurutku, semua kinerja terbaik yang kita baktikan kepada madrasah dan Kementerian Agama ini tidaklah sia-sia, tidak hilang, apalagi musnah. Apa pun pengorbanan yang kita lakukan: tenaga, pikiran bahkan finansial sekalipun, itu semua akan berupa bentuk dalam ‘energi-energi’ positif lainnya. Pendek kata, tidak usah risau dengan ‘pengorbanan dan bakti’ pada madrasah dan Kementerian Agama. Pasti Allah kembalikan dalam berbagai ‘energi’ positif dan nikmat yang beraneka ragam, dalam waktu dekat maupun pada masa mendatang. Dalam bentuk nikmat fisik, maupun non fisik. Kalau hari ini belum terbukti ‘energi positif’ itu di genggaman tangan kita, percayalah bahwa kelak pasti akan diperoleh oleh anak cucu kita. Ingat, masih ada lagi nikmat yang abadi nan sempurna kelak di akhirat.

Makna ikhlas yang demikian itu aku peroleh dari Emosional Spiritual Quation (ESQ) Leadership Training yang diselenggarakan oleh Ary Ginanjar Agustian. Pelatihan itu benar-benar membuka wawasan dan merubah gaya hidupku dalam memahami makna ikhlas yang lebih operasional, sampai sekarang. Itu salah satu prinsip hidupku. Menghunjam di relung hati terdalam.

Agustian juga memberikan perspektif baru dalam pandanganku terkait dengan pemahaman Asmaul Husna yang 99 itu. Bagi Agustian, mestinya kita ini berusaha meniru apa yang terkandung dalam Asmaul Husna itu. Hampir sekitar 70 – 75% Allah hadir dengan sifat jamaliyyah-Nya. Melindungi. Menggemberikan. Sebut saja misalnya: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Hafiz. Hanya 20 – 25% saja yang bersifat jalaliyyah atau mengancam. Tegas. Menakut-nakuti. Sebut saja misalnya: Al-Qahhar, Al-Mutakabbir, Al Muntaqim.

Meskipun secara lahiriyah ada beberapa Asma Allah yang bernada mengancam, sesungguhnya jika direnungkan secara mendalam, pada akhirnya muara akhirnya adalah ketegasan-Nya untuk melindungi hamba-Nya juga. Demi keadilan untuk membela hamba-Nya juga yang mungkin diperlakukan secara dzalim oleh seseorang. Singkat kata, bukankah Nabi Muhammad Saw. menegaskan bahwa “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku (H.R. Bukhari dan Muslim). Bagiku, perspektif seperti ini juga menjadi landasan kuat untuk implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah.

Satu lagi ‘Vitamin Kinerja’ yang aku tekankan kepada diriku sendiri dan rekan-rean guru di madrasah. Ya, apalagi kalau bukan doa. “Allahumma ij’al qauliy wa khuthbatiy wa tilawatiy khalishan mukhlishan Lillahi, shahihan, fashihan, balighan, bayyinan, nafi’an, liy wa liman sami’ahu birahmatika Ya Arhama al-rahimin.” Usai shalat subuh berjamaah di masjid, seringkali aku panjatkan doa kepada Allah, “Ya Allah, aku mohon ridha-Mu. Aku hari ini akan mengajar. Mendampingi madrasah. Jadikan semua yang kulakukan berupa ucapan, pernyataan, penjelasan, dan bacaanku suci bersih ikhlas karena berharap ridha-Mu, benar, tepat, mudah diserap, jelas, dan bermanfaat untuk diriku sendiri serta siapa pun yang mendengarnya, berkah kasih sayang-Mu Ya Allah.” Jika aku lupa, tergesa-gesa, atau tidak sempat berdoa di masjid, doa yang sama aku baca dalam perjalanan atau di madrasah.

Apa yang kulakukan itu ternyata mendapatkan penguatan dari Bapak Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. Beliau menekankan bahwa apa pun materi pelajaran yang di sampaikan di depan murid-murid, ingatlah bahwa ilmu itu tidaklah hampa dan terlepas dari nilai-nilai ilahiyah. Pastikan ilmu yang disampaikan tetap terbungkus dengan nilai-nilai Qur’ani, minimal dibuka dengan surat Al-Fatihah. Demikianlah pengarahan beliau, di hadapan peserta Bimtek Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), di Hotel Bess Mention Surabaya, 25 November 2025 yang lalu.

Nah, sekarang apa suka cita saat menunaikan amanah sebagai pengawas madrasah? Terlalu banyak juga untuk dicertakan. Salah satu momen tak terlupakan sepanjang hidupku adalah momen kepercayaan dari Kemengterian Agama RI sebagai Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia Tahun 2019. Betapa tidak, setelah menunaikan ibadah haji Tahun 2010, dua kali mencoba peruntungan tes petugas haji masih gagal. Baru tes yang ketiga kalinya dinyatakan lulus. Kenangan indah selama bertugas tersebut kutulis dalam bentuk buku “Menggapai Haji Mabrur: Catatan Inspiratif, Edukatif, dan Reflektif”, diterbitkan oleh Pustaka Media Guru, 2018.

Alhamdulillah, buku 150 halaman itu mendapat sambutan hangat dari Bapak Dr. H. Mohammad As’adul Anam, M.Ag., Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pasuruan saat itu. Ia menyatakan, “Sangat bagus! Mampu memberi cara baru untuk belajar dan merefleksikan perjalanan ibadah haji. Problem haji tidak hanya masalah fikih. Tetapi, juga hal-hal lain yang melingkupi perjalanan ibadah haji, yang justru itu yang banyak mengganggu untuk meraih kemabruran. Saya berharap buku ini juga memberi perspektif baru untuk menjaga kemabruran haji ....”

Selain itu, berkah pengalaman sebagai petugas haji dan buku tersebut ternyata berlanjut. Saat ini, hampir setiap pekan, aku dipercaya sebagai sebagai salah satu nara sumber manasik umrah oleh salah satu travel umrah dan haji yang berpusat di Sidoarjo.

Aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya sebagai bentuk implementasi kompetensi sosialku adalah keterlibatanku dalam organisasi kemasyaraakatan. Dalam hal ini, aku mendampingi KH. Mujib Imron. Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Pasuruan itu menjadi Ketua Pengurus Cabang Ma’arif NU Kabupaten Pasuruan, 2011 – 2021. Aku sekretarisnya.

Dalam kurun waktu 10 tahun atau dua periode kepengursan tersebut, banyak kerja-kerja sosial yang dilakukan dalam memberdayakan guru, kepala madrah, dan pemgembangan madrasah di Kabupaten Pasuruan. Sampai hari ini, aku masih tercatat sebagai salah satu pengurus pada Badan Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU pada lembaga yang sama.

Suka cita lainnya adalah saat aku memperoleh ‘gelar kehormatan’ dalam bentuk Anugerah Pengawas Berprestasi Tingkat Kabupaten Pasuruan. Sayang sekali, gelar itu lagi-lagi hanya runner up, sampai-sampai aku dan Kepala Kemenag Bapak As’adul Anam terpingkal bersama pada saat penyerahan hadiah. Ya, gara-gara Juara ke-2 secara estafet dan berturut-turut, Tahun 2018 dan Tahun 2019.

Prestasi anugerah pengawas tersebut membuatku sedikit kecewa. Akan tetapi, tak ada guna penyesalan. Aku harus bangkit. Mengejar momen lain yang lebih bergengsi, kalau perlu tingkat nasional. Lagi-lagi momen dan kesempatan itu datang kembali. Sepanjang 2022, aku mendapat julukan Mahmud, SH. dari rekan-rekan sejawat pengawas. Itu kepanjangan dari ‘Mahmud Sobo Hotel’ (Mahmud Sering di Hotel). Ya, aku aktif sebagai penulis instrumen soal Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI). Tidak terperikan perasaan bahagiaku. Anak desa bisa terbang naik pesawat ke berbagai daerah: Surabaya, Malang, Yogyakarta, Bogor, Jakarta, dan Makasar.

Awal 2023, aku bernafas lega kembali. Momen fantastis dan terhormat itu hadir kembali menghampiriku. Aku mendapatkan mandat dari Dirjen Pendis Kemenag RI sebagai salah satu Instruktur Nasional (IN), yakni sebagai nara sumber untuk membekali para guru, kepala madrasah, dosen, dan widyaiswara dalam ajang Pelatihan Instruktur Visitasi Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI).

Tiga puluh tahun sudah petualangan petani cintaku di Kementerian Agama ini. Menjelang purna bakti 2,5 tahun ke depan, aku terus bertekad agar tetap mampu menanam kebaikan dan kebaikan bagi madrasahku. Pelatihan kompetensi mandiri berbayar jutaan pun aku ikuti. Sebut saja misalnya pelatihan ‘Bedah Otak dan Guru Idaman’ oleh Hanifida Center Jombang, 2013; Education for Trainer Camp and Share oleh NexEdu, pimpinnan Munif Chatib, 2015; serta Penataran dan Lokakarya (Pentalokanas) Sekolah Unggul dan Rujukan oleh Pusat Siswa Mendidik Indonesia, Lembaga Pendidikan Islam Malang, 2024. Terkini, baru saja aku ditugaskan untuk mengikuti Bimtek Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Surabaya, akhir November 2025 yang lalu.

Sampai saat ini, petualangan petani cintaku belum berakhir. Masih jauh dari kata sempurna. Aku bertekad terus menanam benih-benih dan bibit-bibit terbaik di lahan sawah, kebun, dan ladang yang belum sempurna tumbuh dan berkembang di Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan. Memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kemenag RI, 3 Januari 2026 mendatang berarti kita menyalakan obor gairah kinerja secara ikhlas dan penuh cinta.

Aku berharap dan memohon pinta kepada Allah Swt, benih dan bibit tanaman yang telah kusemai selama ini, kelak tumbuh subur menjadi tanaman yang baik. Akarnya kokoh kuat menghunjam ke dasar bumi. Pohon dan dahannya tinggi menjulang ke langit. Buahnya lebat bermanfaat sepanjang waktu, ... untuk agama, bangsa, dan negara Indonesia tercinta. Amin. Semoga!

Oleh: Mahmud


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Memaknai Ikhlas Beramal: Balutan Passion dan Cinta dalam Mengabdi di Kementerian Agama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now