Banner Iklan

Madrasah: Tempat Api Tekad yang Terus Menyala

Admin JSN
03 Januari 2026 | 21.40 WIB Last Updated 2026-01-03T14:40:22Z


Madrasah: Tempat Api Tekad yang Terus Menyala

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Langkah pertama saya menjejakkan kaki di gerbang Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pasuruan terasa begitu asing. Di saat bersamaan, terasa getaran api yang merambat di dalam jiwa, menyulut kembali kepingan-kepingan ingatan yang melintas di benak dan batin saya, tentang masa ketika saya bersama ibu mendatangi sekolah lama, meminta surat rekomendasi kejuaraan dan dukungan, demi mendaftar di satu-satunya Madrasah Tsanawiyah yang ada di Kota Bangil.

Di hari itu saya sudah membulatkan tekad untuk mendaftar lewat jalur prestasi yang lebih dulu dibuka, tetapi semua tekad yang membara bagai api biru itu malah dipadamkan oleh ucapan beberapa guru yang seolah-olah meremehkan saya dan madrasah impian saya.

Semua kalimat bagai ranjau tajam yang siap mengahmbat jalannya roda kehidupan saya itu meluncur tanpa pertimbangan. Membuat saya merasa emosi, was-was, dan kecewa dalam satu waktu. Rasa itu masih terekam jelas di dalam diri saya, dampak yang saya rasakan cukup besar meski hanya satu kalimat yang mereka lontarkan.

Pertanyaan-pertanyaan batin mulai melengkapi keheningan malam saya. Menelan habis tekad kuat yang sudah saya bentuk. Apa saya akan berkembang di sana nantinya? Kenapa mereka sampai berbicara seperti itu? Apa bersekolah di madrasah seburuk itu?

Saya merasa semua orang beranggapan bahwa madrasah adalah tempat bagi murid-murid yang tak diterima di sekolah impian mereka, mungkin penyebabnya karena nilai akademik yang tidak mencukupi syarat atau karena faktor non-akademik lainnya. Padahal untuk mendaftar saja diperlukan penyaringan ketat dan menyeluruh bagi calon siswa dan siswi yang hendak ikut serta menjadi bagian madrasah.

Tapi karena saya sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari, saya tetap keras kepala atas keputusan saya. Berulang kali kedua orang tua saya bertanya mengenai persoalan yang sama agar saya tidak menyesal di kemudian hari. Namun nyatanya saya tetap memegang erat keputusan pertama, yaitu menjadi salah satu bagian dari madrasah. Saya akan membuktikan pada mereka bahwa madrasah itu tidak seburuk yang mereka kira.

Memasuki hari pertama pembelajaran aktif di kelas VII, semuanya terasa asing bagi saya, apalagi status saya sebagai siswi lulusan SD (Sekolah Dasar) yang belum terbiasa dengan banyaknya mata pelajaran agama di kelas. Kesusahan adalah hal pasti yang saya alami ketika harus memaksakan diri dengan hal baru di dunia pembelajaran saya. Tapi dengan semua peluru semangat yang masih tersimpan dalam diri saya, saya tetap giat menjalani kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh madrasah.

Meski sempat merasa asing pada awal saya meginjakkan kaki di madrasah, tapi saya seperti menemukan rumah sesungguhnya. Beragam ekstrakurikuler yang disediakan madrasah memberi saya ruang untuk mencoba, mengekspresikan diri, dan bertumbuh, hingga akhirnya saya merasa nyaman dan mulai aktif mengikuti beberapa di antaranya. Dari sekian banyaknya nama-nama ekstra, magnet minat yang bersarang pada diri saya mulai tertarik dengan dua ekstra, yakni MTQ (Musabawah Tilawatil Qur'an) dan juga kepenulisan.

Saya mulai konsisten mengikuti pembelajaran ekstra, merelakan waktu untuk datang ke madrasah saat pulang sekolah untuk api minat yang membara. Api-api yang nantinya saya gunakan sebagai bentuk pembuktian bahwa saya bisa berkembang ke depannya.

Sudah lewat minggu pertama saya mengikuti ekstra MTQ, ekstra yang dijadwalkan pada hari Rabu setiap pulang sekolah. Sebagai pengalaman pertama saya mengikuti ekstra MTQ saya tertegun ketika pembimbing ekstra mengutus saya untuk mengikuti Lomba Porseni antar Madrasah tahun 2024 cabang MTQ Putri. Saya yang pada awalnya memang tak pernah mengikuti lomba ini pun merasa cemas, tetapi lagi dan lagi ingatan abu-abu yang saya alami kembali membuat saya ingin terus membuktikan bahwa saya mampu.

Berminggu-minggu berlatih, rela meninggalkan jam pelajaran yang masih berjalan di kelas, demi mengharumkan nama Madrasah. Latihannya berjalan panjang dan sudah pasti tak semudah yang saya kira, butuh proses panjang untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, tentu tak lepas dari yang namanya drama bawang-bawangan yang memberikan kelengkapan usaha yang saya jalani. Menghabiskan waktu sebagai siswi semester pertama kelas VII dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan seni nada tertentu.

Di tengah kegelisahan yang saya alami ketika latihan dan tampil di acara, saya dibuat lemas seketika saat mendengar hasil penilaian juri bahwa saya menjadi Juara 1 lomba Porseni antar Madrasah tahun 2024 cabang MTQ Putri tingkat Kecamatan, yang dibimbing oleh ibu Sholikhah S.Pd. Tak berhenti sampai di situ saja, sebagai juara pertama saya harus berlatih kembali untuk lanjut bertanding ke tingkat Kabupaten.

Proses latihan kali ini naik level sedikit lebih tinggi, tentu dengan variasi nada yang berbeda lagi dengan Maqra'–ialah istilah MTQ yang merujuk pada paket bacaan atau ayat-ayat tertentu yang disiapkan oleh panitia–berbeda dengan Maqra' sebelumnya. Namun sepertinya istilah, “Usaha tidak akan mengkhianati hasil” itu benar adanya.

Saya kembali memenangkan Juara 1 lomba Porseni antar Madrasah tahun 2024 cabang MTQ Putri tingkat Kabupaten Pasuruan, rasa senang tak lagi dapat terbendung pada saat itu, sebagai siswi kelas VII semester awal yang masih membawa jiwa kekanakan saat masih SD dulu. Namun sayang, saya gugur pada tingkat Provinsi.

Semester dua saya lewati dengan kembali aktif mengikuti pembelajaran di kelas yang awalnya banyak terpotong karena latihan dan juga kembali mengikuti ekstra yang memang menarik minat saya dari awal. Karena di ekstra MTQ saya sudah membawa pulang setidaknya dua penghargaan, saya juga mempunyai tekad untuk mengantongi prestasi-prestasi di ekstra kepenulisan yang bisa memberikan sekebun bunga pada madrasah dan diri saya nantinya.

Setelah libur akhir tahun ajaran baru, saya membuka kembali buku-buku pelajaran yang hampir tak tersentuh selama liburan tiba, saat itu saya menginjak kelas VIII. Sepertinya magnet minat saya masih setia melekat pada dua ekstra yang sama seperti kelas VII kemarin. Tapi kali ini saya fokus pada pengembangan skill kepenulisan saya yang sempat tertunda kemarin. Saya berusaha tetap adil membagi waktu untuk pembelajaran di kelas dan ekstra yang semakin padat jadwalnya, masih dengan api semangat yang membara.

Saya terus berusaha untuk mengembangkan potensi yang bersembunyi di dalam diri saya, untuk membuktikan kepada mereka yang dulu sempat memadamkan api tekad yang berkobar kuat bagai tertiup angin. Saya tetap mencoba konsisten memasuki ekstra kepenulisan yang dijadwalkan di hari Jum'at sepulang sekolah, walaupun terkadang datang terlambat karena ada kerja kelompok di rumah teman.

Bagai tertusuk jarum di terangnya siang bolong, saya tersentak saat mendengar bahwa di tahun ini ekstra kepenulisan akan berganti menjadi KIR (Karya Ilmiah Remaja), di mana materi yang diberikan akan berfokus pada hal-hal yang berbau Ilmiah. Awalnya saya ragu dengan perubahan yang terjadi, tapi sebisa mungkin saya tetap memahami materi yang diberikan.

Kabar baik datang ketika banjir keraguan hampir menenggelamkan rencana yang saya buat sebelumnya. Kabar ketika saya terpilih untuk mengikuti lomba menulis cerpen di Festival Literasi Bulan Bahasa MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pasuruan 2025. Rela meninggalkan beberapa materi pembelajaran di kelas, untuk kembali berkutat dengan persiapan lomba.


Meskipun terkadang berdebat dengan guru yang sedang mengajar di kelas untuk mendapatkan izin bimbingan di perpustakaan, juga menjawab pertanyaan dari teman-teman yang sepertinya mulai bosan melihat saya terus-terusan izin keluar jam pelajaran. Saya tetap meyakinkan diri saya untuk konsisten berlatih, mungkin sekitar tiga minggu lamanya saya bertarung dengan potongan-potongan kata yang menyebar di seluruh pikiran, untuk nantinya menjadi susunan kalimat penuh makna.

Saya kembali mengumpulkan keberanian untuk menyusuri dasar lautan imajinasi, berkelana bagai makhluk laut yang penuh kebebasan sepanjang mata memandang. Berbekal ilmu kepenulisan yang dibimbing langsung oleh ibu Muthomimah S.Pd. saya bisa mengenal indahnya dunia kepenulisan yang sebelumnya tak pernah saya kenal. Melatih mental dan kemampuan yang selalu bernaung di bawah atap ketakutan.

Di hari perlombaan, rasa tegang mulai menggerogoti keberanian yang sudah saya persiapkan malam sebelum perlombaan, ditambah dengan rasa mual yang mengambil alih kesadaran. Tapi sekali lagi, serpihan ingatan tajam penuh kekecewaann kembali menghujami hati, membuat lampu harapan yang bersarang dalam diri saya hampir padam. Berjalan menuju ruang tanding dengan langkah gontai, kepala yang dipenuhi hafalan alur cerita yang nantinya akan saya jadikan senjata.

Perlahan namun pasti, rangka cerita mulai tersusun sesuai kemauan, menghadap komputer dengan perasaan campur aduk. Usaha saya selama bimbingan, lelahnya guru yang membimbing saya, dan Do'a yang tak berhenti ibu saya lontarkan menjadi jawaban atas hasil yang saya pegang. Saya berhasil membawa pulang penghargaan Juara 1 lomba menulis cerpen di Festival Literasi Bulan Bahasa MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pasuruan 2025, dengan durasi pembuatan selama dua jam.

Setelah berhasil meraih juara I lomba menulis cerpen tingkat SMP dari 120 peserta dan menjadi satu-satunya wakil dari madrasah, saya kembali disibukkan dengan perjuangan berikutnya. Dengan bimbingan intensif selama kurang lebih dua minggu, saya mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba menulis cerpen di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung. Ikhtiar singkat namun penuh kesungguhan itu kembali membuahkan hasil: saya merai00h juara II lomba menulis cerpen tingkat Nasional.


Dari titik inilah saya mampu menepis anggapan miring tentang madrasah, bukan dengan kata-kata, melainkan melalui proses dan hasil yang saya jalani. Madrasah yang saya kenal bukan ruang yang membatasi mimpi, melainkan tempat yang membentuk keberanian, akhlak, dan ketekunan. Di tangan para pendidik yang berdedikasi, saya mendapat bimbingan untuk berani melangkah dan bertanding, sekaligus dibiasakan menjaga nilai-nilai keislaman melalui penguatan karakter dan program Madrasatul Qur’an.

Dari sanalah tekad saya ditempa, tumbuh kuat, berpijak pada iman, dan bergerak dengan keyakinan. Itulah sebabnya, hingga hari ini, saya bangga menjadi bagian dari madrasah yang memberi ruang luas untuk berkembang tanpa kehilangan jati diri.

Pasuruan, 27 Desember 2025


Oleh: Cinta Luna Bunga Azzahra

Siswa kelas VIII-C MTs N 1 Pasuruan


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Madrasah: Tempat Api Tekad yang Terus Menyala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now