Kimia Sebagai Dakwah, Cinta Sebagai Kurikulum, dan Jejak Pengabdian Yang Tak Terlupakan Di Kemenag Kota Malang
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Saya adalah guru kimia di MAN 2 Kota Malang. Di ruang kelas madrasah, di laboratorium kimia, di antara persamaan reaksi dan larutan kimia, saya menjalani pengabdian yang tidak hanya mengasah akal, tetapi juga menumbuhkan iman dan cinta, bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai teladan.
Ketika menjadi bagian dari Kementerian Agama Kota Malang, melalui Kurikulum Berbasis Cinta, saya menemukan makna pendidikan yang utuh, pendidikan yang menyatukan iman, ilmu, dan kasih sayang. Cinta diwujudkan dalam kesabaran membimbing peserta didik yang tertinggal, keadilan dalam penilaian, dan empati terhadap latar belakang mereka yang beragam. Mendidik bukan sekedar mentransfer pengetahuan, melainkan menanamkan nilai-nilai keilahian, kemanusiaan, dan kebangsaan. Setiap ayat yang kami lantunkan sebelum pembelajaran, setiap doa yang kami panjatkan bersama, adalah ikhtiar membangun kesadaran spiritual peserta didik. Sehingga pendidikan bukan sekedar proses akademik, melainkan pembentukan jiwa.
Kemenag Kota Malang mengajarkan makna moderasi beragama yang sejati. Dalam keberagaman latar belakang peserta didik, saya mendidik mereka untuk teguh dalam keyakinan tanpa merendahkan perbedaan, sesuai firman Allah:
“Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13)
Toleransi bukan sekedar konsep, melainkan sikap hidup yang harus dipraktikkan setiap hari. Saya menanamkan bahwa beragama secara benar harusnya melahirkan sikap santun, adil, dan penuh kasih. Inilah nilai luhur yang selaras dengan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, namun bersatu.
Di dalam pendidikan madrasah, sains tidak pernah dibenturkan dengan agama. Justru sebaliknya, sains menjadi jalan untuk membaca kebesaran Allah melalui ayat-ayat kauniyah-Nya. Setiap kali saya menjelaskan tentang keteraturan atom, sifat keperiodikan unsur, hukum kekekalan massa, maupun kesetimbangan reaksi, saya teringat firman Allah yang berbunyi:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Al ‘Imran: 190)
Ayat tersebut meneguhkan bahwa berpikir ilmiah adalah bagian dari ibadah, dan belajar kimia merupakan cara lain untuk bertadabbur. Keteraturan dalam kimia adalah bukti nyata keagungan Allah. Di balik reaksi kimia yang tampak sederhana, terdapat hukum-hukum Allah yang bekerja dengan sangat presisi.
Imam Al-Ghazali pernah menegaskan, “Ilmu tanpa agama adalah kesesatan, dan agama tanpa ilmu adalah kebutaan”. Dengan demikian, kecerdasan tanpa nilai hanya akan melahirkan kekosongan makna. Nilai ini sejalan dengan pemikiran Ibnu Rusyd, yang menegaskan bahwa kebenaran wahyu dan kebenaran akal tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari sumber yang sama, dan seharusnya saling menguatkan.
Jejak sejarah Islam pun turut menguatkan. Jabir bin Hayyan, bapak ilmu kimia, memandang eksperimen sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Atom yang pertama kali beliau temukan, berawal dari Al Qur’an, yaitu surat Al Hadid yang berarti besi. Pada ayat ke 25-26 Allah berfirman:“Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”. Beliau kemudian membawa besi ke laboratorium dan mempelajari atom besi. Ternyata atom besi mempunyai nomor atom 26, dan isotop besi yang paling stabil adalah 57, dimana 57 juga merupakan urutan surat Al Hadid dalam Al Qur’an. Subhanallah, Allah menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya lewat ilmu kimia.
Masih banyak contoh lain ilmu agama yang dapat diintergrasikan ke dalam ilmu kimia. Salah satunya tentang larangan meniup makanan atau minuman yang panas, dari Ibnu Abbas ra. beliau berkata: “Nabi SAW melarang dari bernafas dalam wadah air (bejana) atau meniupnya” (H.R. Tirmidzi). Secara kimia, ketika kita meniup makanan atau minuman yang masih panas, maka kita sedang meniupkan gas karbon dioksida (CO2), yang kemudian dapat terlarut menjadi asam karbonat (H2CO3). Senyawa asam bersifat korosif atau merusak, sehingga tidak baik apabila dikonsumsi. Selain itu, senyawa karbonat yang dihasilkan dapat bereaksi dengan ion logam lain dalam tubuh dan membentuk garam karbonat yang sukar larut. Hal inilah yang menyebabkan terbentuknya endapan dalam tubuh. Endapan yang terus menumpuk dapat menjadi batu ginjal atau batu empedu yang tentunya berbahaya bagi kesehatan.
Kimia juga dapat dihubungkan dengan hukum thaharah, tepatnya pada materi laju reaksi. Hukum najis antara urin bayi laki-laki dan perempuan sampai usia enam bulan dan belum mengkonsumsi apapun selain ASI, yang secara fisik terlihat sama, tapi dalam Islam keduanya dibedakan hukum najisnya. Urin bayi laki-laki digolongkan dalam najis ringan (mukhoffafah) dan urin bayi perempuan digolongkan dalam najis mutawassithah. Berdasarkan hasil penelitian, ammonia pada urin bayi perempuan lebih mudah lepas dan mengikuti pola orde reaksi 2, sedangkan pada urin bayi laki-laki mengikuti pola orde 1. Lepasnya ammonia pada urin, mengindikasikan urin telah mengikat mikroba sehingga urin kurang larut dalam air. Pada urin bayi laki-laki, ammonia masih banyak terikat dalam urin yang mengindikasikan urin hanya sedikit mengikat mikroba sehingga urin mudah larut dalam air. Kemudahan urin bayi perempuan mengikat mikroba dibanding dengan urin bayi laki-laki ini berkaitan dengan perbedaan cara pensuciannya. Seperti yang telah dijelaskan pada hadits rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasai “dari Ibnu Abi ‘Uruubah dari Qatadah dari Abi Harbi bin Abi Aswad dari ayahnya dari Ali ra. berkata: Air kencing anak perempuan dibasuh dan anak laki-laki dipercikan di atasnya ketika bayi itu belum makan”.
Dengan demikian, kimia dapat menjadi media dakwah yang efektif di madrasah, dengan cara yang lembut, tidak menggurui, menyentuh akal, menyadarkan, dan tidak memaksakan. Melalui kimia, saya juga dapat membentuk karakter peserta didik, misalnya jujur ketika praktikum. Karena memalsukan data praktikum, bukan hanya merupakan kesalahan ilmiah, tetapi juga pengkhianatan terhadap nilai amanah. Ilmu pengetahuan harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan, ataupun kecurangan. Semakin dalam siswa memahami kimia, seharusnya makin besar pula rasa takdim dan tunduk di hadapan Allah SWT.
Kemenag Kota Malang juga memberi saya ruang untuk mengintegrasikan nilai religius dan nasionalisme dalam pembelajaran. Cinta tanah air tidak hanya diajarkan sebagai slogan, tetapi juga dibangun melalui karakter. Ketika peserta didik belajar dengan jujur saat praktikum, disiplin dalam mengerjakan laporan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, sesungguhnya mereka sedang belajar menjadi warga negara yang baik. Melalui kimia, saya menanamkan bahwa sains harus diabdikan untuk kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa. Ketika mereka memahami bahwa menjaga kerukunan adalah bagian dari ajaran agama, saat itulah mereka menjadi penjaga persatuan bangsa.
Pengabdian ini tentu tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan sarana, tuntutan zaman digital, dinamika karakter peserta didik hingga tuntutan administrasi sering menguji kesabaran. Namun Kemenag Kota Malang mengajarkan saya untuk tetap berdiri teguh, tidak menyerah, melainkan meresponsnya dengan keikhlasan. Saya belajar bahwa lelah dalam mendidik adalah bagian dari ibadah, dan setiap upaya kecil yang dilakukan dengan tulus akan menemukan jalannya sendiri menuju kebaikan. Sebagaimana firman Allah:“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (QS. At-Talaq: 2).
Kesan yang tak terlupakan bagi saya adalah ketika menyaksikan perubahan dan momen-momen sederhana yang penuh makna pada peserta didik. Tatapan mereka yang mulai memahami pelajaran, perubahan sikap yang menjadi lebih santun, keberanian menyampaikan pendapat dengan tetap menghormati perbedaan, yang awalnya acuh menjadi peduli, yang awalnya ragu menjadi percaya diri, dan yang awalnya memahami agama secara tekstual mulai menghayatinya dalam perilaku. Di situlah saya merasa bahwa pengabdian ini tidak sia-sia, bukan sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa. Saat mereka mulai menyadari bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab moral, ilmu kimia dapat digunakan untuk kebaikan umat, keberagaman adalah sunnatullah yang harus dijaga, saya menyadari bahwa dakwah sedang berjalan, diam-diam, tetapi mengakar. Semua itu adalah hadiah terbesar bagi seorang guru.
Lingkungan kerja yang dibangun di Kemenag kota Malang mendorong tumbuhnya potensi dan semangat pengabdian. Saya menemukan rekan sejawat yang saling menguatkan, pimpinan yang membimbing dengan keteladanan, serta budaya kerja yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Kami bukan hanya bekerja, tetapi berjalan bersama dalam misi yang sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berakar pada nilai-nilai agama. Saya bersyukur menjadi bagian dari Kemenag Kota Malang. Pengabdian ini telah membentuk saya bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai manusia yang terus belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab.
Aku bagian dari Kemenag Kota Malang, bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan ikrar pengabdian. Saya adalah bagian dari perjuangan sunyi yang menjadikan kimia sebagai jalan dakwah, cinta sebagai fondasi kurikulum, dan pendidikan sebagai ikhtiar membangun peradaban. Di ruang kelas madrasah, saya percaya bahwa setiap huruf yang saya ajarkan, setiap nilai yang saya tanamkan, dan setiap doa yang saya panjatkan adalah kontribusi untuk masa depan yang lebih baik. Selama masih ada generasi yang harus dibimbing, selama ilmu masih menjadi cahaya kehidupan, saya akan terus melangkah. Menjadi pendidik di Kemenag Kota Malang bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa, pengabdian yang akan selalu meninggalkan kesan tak terlupakan, di dunia maupun di akhirat.
Oleh : Luluk Mufidah
(luluk.mufidah3998@gmail.com)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?