Hijaiyah Yang Tiril oleh: Wahyu Khusnul Khotimah
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Berawal dari sekelumit cita-cita yang telah lama terpendam dan baktiku terhadap pendidikan agama IsLam sebagai alumni S1 Pendidikan Agama Islam tahun 2016 dan S2 Pendidikan Agama Islam tahun 2023 di salah satu Sekolah Tinggi Agama Islam swasta kota Malang.
Kisahku bermula pada tahun 2011-2015 di Sekolah Dasar Al Kautsar, tak jauh dari tempat tinggalku. Berpegang pada prinsip dasar seorang pendidik bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang membentuk akhlak. Bukan sekedar upah, pikirku inilah awal sebuah langkah.
Ditengah prosesku menapaki dunia pendidikan, aku juga menempa bekal keilmuanku di salah satu Sekolah Tinggi Agama Islam di Malang dan menyelesaikan S1 Pendidikan Agama Islam pada tahun 2016. Ditahun yang sama, setelah setahun sebelumnya aku mengajar baca Al Qur'an di Sekolah Dasar Brawijaya Smart School, aku putuskan berpindah naungan ke sebuah Madrasah ternama di Kota Malang. Berbekal gelar dan pengalaman aku pijakkan kaki dan asa di Madrasah tercinta. Meski sama, menyandang status guru outsourcing, tak mengecilkan kepercayaan diriku, tak mengendurkan semangatku, tak menggoyahkan sudut pandangku bahwasannya ALIF BA TA adalah pondasi sebelum nun sukun bertemu BA.
Tahun 2017 dan tahun 2018 adalah peluang pengakuan secara kenegaraan tapi aku gagal menggapai status Aparatur Sipil Negara dibidang guru Pendidikan Agama Islam.
Demikian pula tiga tahun berturut, 2022 - 2024 peluang itu pupus disaat seleksi PPPK, karena namaku tidak terdata dalam SIMPATIKA Kementerian Agama dengan dalih SK mengajar Baca Al Qur'an tidak relevan untuk bisa lolos administrasi pendaftaran PPPK dibidang mata pelajaran agama Islam serta Baca Al Qur'an belum diakui sebagai mata pelajaran didalam kurikulum madrasah.
Lebih kurang 10tahun mengabdi dengan loyalitas dan prestasi, menjadi bagian dari Kementerian Agama (Islam) Kota Malang bukan serta merta akan diakui dan dihargai, faktanya guru Baca Al Qur'an bak anak angkat yang di-tirikan.
Inilah yang terjadi, guru agama kususnya guru Baca Al Qur'an yang berdiri didepan membawa amanah kejujuran ayat ayat ALLAH, justru diuji oleh sistem yang menaunginya.
Guru Baca Al Qur'an yang kali pertama menanam dan memupuk akhLakul karimah anak didik justru dianggap pelengkap semata. Kesejahteraannya terkurung narasi "pengabdian"
Meski demikian banyak guru agama, kususnya guru Baca Al Qur'an bertahan pada regulasi yang tak pasti. Dan aku yakin mengajar Baca Al Qur'an adalah ibadah yang tak membutuhkan tepuk tangan.
Seperti dawuh KH.M Bashori Alwi Murtadlo(Muassis Pondok Pesantren Ilmu Al Qur'an - Singosari) , _"jangan berharap dunia(materi) ketika memutuskan mengajar mengaji._
Mungkin tidak semua sekolah memperlakukan guru Baca Al Qur'an seperti pengalamanku, dan tidak semua guru Baca Al Qur'an merasakan hal yang sama, tetapi keluh yang aku rasakan dibawah naungan Madrasah membuatku berfikir ironis.
Madrasah adalah pintu tetapi didalamnya tidak ada isi,Madrasah adalah rumah tetapi ruh-nya meredup sirna. Madrasah adalah neraca tetapi tidak ada keseimbangan. Kementerian Agama(Islam) adalah sistem yang didalamnya ada keadilan, ada perlindungan institusional yang bukan sekedar slogan.
Kalau memang sistem mengajarkan arti keikhlasan, maka aku akan melangitkan kepasrahan. Bukan sekedar kerelaan, tapi keputusanku tetap dijalan ALLAH, mengajarkan martabat ayat ayat ALLAH, mahraj demi mahraj.
Dibawah naungan Kementerian Agama(Islam) Kota Malang, ada asa yang diRidhoi ALLAH SWT,
HIJAIYAH TAK LAGI DITIRIKAN.
semoga...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?