Kayuhan Sepeda dengan Sejuta Bahagia di MI Miftahul Anwar
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Kata orang mengapa sekolah jauh-jauh jika pelajarannya sama. Hemat tenaga dan hemat biaya adalah cermin hidup cerdas. Oh iya ….. memang benar pendapat tersebut. Tapi bagiku setiap kayuhan sepeda adalah langkah menuju kebahagiaan. Aku anak madrasah, namaku adalah Dinda Akromul Khifdhiyah biasanya dipanggil “Dinda”. Aku sekarang kelas 6 di MI Miftahul Anwar Kelurahan Kalianyar Kecamatan Bangil. Madrasahku berada paling utara di Kecamatan. Teman-temanku seperti Ninda, Laras, Ajeng, Azka, akulah rumahnya yang paling jauh sampai melewati 4 SD Negeri dan Lembaga Pendidikan yang lain.
Belajar Mandiri di atas Pedal Sepeda.
Dulu saat aku kelas satu, ayah selalu mengantar dan menjeput ke madrasah. Namun di saat aku kelas 4, aku mulai belajar mandiri. Aku masih ingat bagaimana ayah membuntutiku dan mendorong sepedaku dari belakang supaya aku tidak lelah. Aku merasa bagaikan roket game roblok meluncur dari gunung es. Sepulang madrasah aku kayuh sendiri sampai rumah. Di semester genap kelas 4 aku mulai mandiri. Berangkat dan pulang tanpa sayap ayah di sampingku. Kebetulan setiap pagi kami berangkat bersama keluarga dengan arah yang berbeda. Ayah ke arah timur, mama ke barat, aku sendiri ke arah utara. Di saat berangkat mama selalu berkata “Dinda berdoa dan hati-hati gih…?” itu yang selalu aku dengar.
Aku belum tau seberapa jauh jarak antara rumah dan madrasahku. Tapi jika melihat jam tanganku menunjukkan waktu 45 menit setiap kali berangkat. Aku melewati beberapa sekolah lain seperti SDN Manaruwi 1, SDN Manaruwi 2. Lurus ke utara menyusuri samping pagar MTSN 1 Bangil yang sangat panjang. Bagian paling mendebarkan adalah saat menyeberang jalan besar di depan Ma’had MTSN 1. Setelah itu aku tidak berani menoleh kanan kiri karena takut melihat mobil mobil besar dan kakak kakak nakal yang naik motor dengan kecepatan tinggi. Perjalananku terus berlanjut melewati depan SMP Yadika, SMP Negeri 2, lalu sepanjang pagar SMA Negeri Bangil aku lewati, hingga perkuburan umum Kalirejo. Saat melewati SDN Kalirejo 1 yang katanya sekolah favorit itu, aku sering berpapasan dengan teman seusiaku yang seragamnya berbeda denganku. Melanjutkan perjalananku, tepat di utara toko Al -Yasini tampak pagar hijau yang berdampingan dengan SDN Kalianyar 1. Disitulah Mi Miftahul Anwar madrasah idamanku.
Dibalik hujan dan “Libur” dadakan.
Madrasahku terletak diutara kota Bangil, daerah yang sering terdampak banjir. Di saat musim hujan jika malamnya deras dan turun berjam-jam, air sungai biasanya meluap dan pelan-pelan masuk kehalaman, bahkan sampai menggenangi ruang kelas 1 dan 2. Paginya ustadz ustadzah biasanya mengumumkan “murid hari ini belajar di rumah, dan silakan mengerjakan tugas secara online”, sementara madrasah diliburkan.
Kami bukannya sedih, tapi malah sering sorak gembira karena libur dadakan. Jika air tidak masuk kelas kami tetap masuk, biasanya pulang bersama teman-teman bermain air hujan, tertawa sambil menenteng sepatu agar tidak basah. Bagi kami banjir bukan kesedihan dan penghalang untuk tetap ceria dan bahagia.
MIMA, Surga kecil dibalik Terowongan.
Dari luar mungkin tampak sederhana. Namun saat masuk melewati terowongan langsung terkesima. Terdapat kelas - kelas bersih di depannya ada tempat duduk murid di sepanjang teras depan kelas. Pohon mangga yang rindang dan sejuk menambah oksigen segar di halaman, serta di sebelahnya terdapat bangunan musholla baru yang kokoh dan indah.
Setahun terakhir aku belajar di gedung lantai 2. Rasanya senang sekali dapat melihat keindahan dari atas, persawahan di belakang MIMA tampak jelas luas membentang. Terlihat sangat jelas ruang ruang kelas, SDN Kalianyar 1. Sejak kelas 5 sampai sekarang aku diajar oleh ustadzah Uswatun Hasanah. Beliau guru yang sangat sabar dan pebuh cinta. Di setiap pelajaran beliau selalu menyelipkan nasehat yang membuat kami merasa disayangi. Suatu waktu sepulang dari madrasah aku pernah di ejek anak SD dengan perkataan “MI sepele… MI sepele”. Kata ustadzah, aku tidak boleh marah, dan tidak boleh membalas kata ejekan tersebut dan tetap tersenyum.
Drumband dan serunya PERJUSA.
Seni drumband sebagai ikon salah satu kebanggaan madrasah. Keceriaanku di madrasah semakin lengkap, karena aku aktif di ekstrakurikuler drumband dan sering tampil saat ada acara resmi. Aku bagian depan pemegang bendera. Aku bahagia saat tim mendapat undangan di acara hajatan, acara khitan atau acara wisuda di TPQ warga, karena tampil dengan kostum yang menarik apalagi pulang diberi berkat atau nasi dan kue. Selain itu aku tak pernah melupakan serunya PERJUSA (perkemahan Jum’at Sabtu). Kebersamaan tidur beralas tikar bersama teman-teman MI sunggah bahagia dan menyenangkan.
Penutup
Setiap kayuhan sepedaku selama 45 menit saat berangkat adalah bukti sayangku pada madrasah. Di MIMA, aku belajar tentang banyak hal. Cinta pada Allah dan Rosul, cinta terhadap sesama, keindahan seni drumband, sikap disiplin dan kemandirian dalam pramuka. Selalu tersenyum saat diejek dan menyayangi sesama meskipun beda seragam. Kesederhanaan ustad dan Ustadzah adalah contoh bagiku. MIMA mungkin sederhana, tapi bagiku luar biasa.
Meskipun rumahku paling jauh dibandingkan Ninda, Laras dan teman yang lainnya, setiap tetes keringat saat mengayuh sepeda saat berangkat dan pulang, terbayar lunas dengan kebahagiaan selama di madrasah. Bagiku, MIMA adalah tempat terindah untuk menuntut ilmu dan mengukir kenangan masa kecilku.
Karya Dinda Akromul Khifdhiyah





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?