Hati yang Mengabdi ; Sebuah Catatan Bahagia Sang Guru Madrasah, oleh : Mukhzayadah, S.Si (Guru MTs Darul Ulum Candiwates – Prigen)
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Kehidupan adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Mengisi hidup bagi saya adalah bagaimana menyusun kepingan syukur kepada Allah SWT. Tumbuh sebagai anak dari seorang bapak tukang reparasi sepeda onthel dan ibu seorang penjahit, saya belajar bahwa keberhasilan dalam hidup tidak ditentukan oleh seberapa mewah kendaraan kita, melainkan seberapa kuat kita mengayuh impian. Semangat ketangguhan ini sejalan dengan tema Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama tahun 2026 yakni “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, yang mengajarkan kita bahwa keberhasilan suatu bangsa berawal dari kerukunan dan kerja keras bersama dalam keselarasan. Hari ini, di MTs Darul Ulum Candiwates, saya berdiri bukan hanya sebagai guru IPA, melainkan juga sebagai pembelajar abadi yang bangga menjadi bagian dari madrasah dan berkomitmen untuk merajut moderasi beragama demi membangun bangsa yang lebih sejahtera dan bersatu.
Perjalanan saya di MTs Darul Ulum Candiwates dimulai dari langkah-langkah kecil di ruang kelas sebagai seorang guru IPA. Di sana, saya belajar bahwa mengajar bukan hanya tentang menjelaskan struktur sel atau hukum Newton, melainkan tentang bagaimana menumbuhkan rasa ingin tahu di mata siswa. Ketelitian, kesabaran serta dedikasi yang tinggi dalam mengajar tak lain adalah buah ketekunan yang saya warisi dari gerak jemari seorang ibu saat menjahit dan ketelitian seorang bapak saat merangkai rantai sepeda. Momen paling menyenangkan bagi saya adalah saat berada di dalam kelas, mentransfer ilmu IPA yang kadang dianggap rumit menjadi cerita yang seru. Melihat mata siswa berbinar saat mereka memahami sebuah konsep adalah ‘gaji’ tambahan yang tak ternilai harganya. Ada kepuasan batin yang luar biasa saat melihat mereka berani bertanya dan mencoba hal baru.
Seiring berjalannya waktu, dedikasi tersebut membuka pintu amanah yang lebih besar. Saya dipercaya untuk mengemban tugas sebagai wakil kepala madrasah bidang kurikulum. Transisi ini bukanlah hal yang mudah. Jika sebelumnya fokus saya hanya pada dinamika di dalam satu kelas, kini tanggung jawab saya meluas menjadi nahkoda bagi seluruh arah akademik madrasah. Sebagai wakil kepala madrasah bidang kurikulum, saya menyadari bahwa perubahan besar di madrasah tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit, melainkan dari kedisiplinan sederhana. Me-manage akademik berarti belajar mengatasi permasalahan pembelajaran dan dinamika rekan kerja dengan kepala dingin. Hal ini menuntut saya untuk melihat pendidikan dengan kacamata yang lebih lebar. Saya harus belajar bagaimana menata administrasi tanpa kehilangan substansi, bagaimana menyusun strategi pembelajaran yang adaptif dan yang paling menantang, bagaimana merangkul berbagai karakter rekan sejawat agar satu visi dalam mencerdaskan siswa. Bagi saya, jabatan bukanlah tentang kekuasaan melainkan tentang kesempatan untuk melayani lebih banyak orang dan memastikan bahwa kurikulum yang dijalankan bukan sekadar deretan tulisan di atas kertas, akantetapi sebuah peta jalan menuju masa depan siswa yang lebih cerah.
Gambar.3. Salah satu bentuk kerja nyata penulis di bidang kurikulum
Di tengah kesibukan mengurus kurikulum, saya selalu diingatkan oleh dua buah hati saya, Alby Nasirul Asrofi dan Arsyifa Zidna Ilma bahwa perjuangan ini adalah untuk masa depan mereka juga. Seringkali orang bertanya; “Bagaimana saya membagi waktu antara tumpukan berkas kurikulum di madrasah dengan binar mata kedua buah hati saya di rumah?” Bagi saya, menjadi guru dan menjadi ibu adalah dua napas dalam satu raga. Keluarga adalah amanah utama, sementara madrasah adalah ladang pengabdian yang menjadi tanggung jawab profesional saya. Di rumah, saya adalah madrasah pertama bagi kedua buah hati saya. Dari mereka, saya belajar tentang kesabaran tanpa batas yang kemudian saya bawa ke ruang kelas. Sebaliknya, dari kedisiplinan saya mengelola kurikulum di madrasah, saya belajar cara menata masa depan anak-anak saya dengan lebih terstruktur.
Menyeimbangkan keduanya bukanlah tentang membagi waktu secara matematis, melainkan tentang menghadirkan hati sepenuhnya dimanapun saya berada. Saat di madrasah, saya memberikan seluruh energi saya untuk siswa dan rekan kerja. Namun, saat melangkah masuk ke rumah, saya harus mampu menanggalkan atribut ‘wakil kepala’ saya didepan pintu. Saya kembali menjadi seorang ibu yang siap mendengarkan cerita harian Alby dan Arsyifa. Saya ingin anak-anak saya melihat bahwa ibunya adalah seorang pejuang. Saya ingin mereka belajar bahwa tumbuh dari keluarga sederhana bukan berarti kita tidak bisa menggenggam dunia.
Tahun 2024 menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan karier saya. Terpilih sebagai Instruktur Daring AKMI (Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia) membawa saya terbang ke Jakarta, sebuah perjalanan yang sepenuhnya dibiayai negara. Namun, jalan menuju kancah nasional tidak selalu bertabur bunga. Ada satu momen yang menguji kedalaman sabar dan keteguhan niat saya. Tepat di saat proses penjaringan seleksi Instruktur Daring AKMI sedang berjalan dengan sangat intens melalui zoom meeting, sebuah kabar duka datang menyentak jiwa, kakak dari suami tercinta terpanggil kembali keharibaan sang Kuasa. Dunia seolah berhenti sejenak. Di satu sisi, ada tanggung jawab profesional dan impian yang sedang saya pertaruhkan, di sisi lain ada duka keluarga yang mendalam yang menuntut kehadiran saya secara batin. Di tengah isak tangis dan doa-doa yang terlantun, saya harus belajar menata hati. Saya teringat bahwa setiap langkah saya adalah ibadah dan keluarga adalah amanah yang juga mengajarkan ketabahan. Dalam sujud-sujud panjang, saya mencoba menguatkan diri. Saya meyakini bahwa meneruskan perjuangan ini dengan sebaik-baiknya adalah salah satu cara saya menghormati keluarga. Dengan hati yang masih berbalut duka namun penuh kepasrahan, saya tetap mengikuti seluruh tahapan seleksi. Saya membawa kesedihan itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai pengingat bahwa hidup sangatlah singkat, maka setiap kesempatan untuk menebar manfaat harus dilakukan dengan sepenuh jiwa. Dan ternyata ketulusan dalam menata hati itu berbuah manis, Allah memberikan jalan bagi saya untuk lolos seleksi dan terbang ke Jakarta.
Dalam Pelatihan Instruktur Daring AKMI yang diadakan secara luring tepatnya di Hotel Akmani Jakarta, saya bersama para dosen dan guru hebat dari seluruh Indonesia belajar lebih dalam tentang literasi sains. Saya menyadari bahwa literasi bukan sekadar membaca teks, melainkan kemampuan memahami fenomena. Literasi adalah fondasi bagi siswa untuk memahami instruksi dan konsep sains yang kompleks. Menjadi instruktur daring bukan hanya soal mahir teknologi, tapi soal kemampuan menyederhanakan konsep yang kompleks menjadi strategi yang bisa diterapkan guru di pelosok negeri. Setelah hampir seminggu kami ditempa dari pagi hingga dini hari, pelatihan-pun berakhir namun semangat dalam diri saya baru saja dimulai. Saya memiliki ‘senjata’ baru berupa strategi pedagogis yang segar dan saya siap membagikan ilmu ini kepada rekan guru lainnya, menunjukkan bahwa AKMI bukan sekadar ujian melainkan jembatan untuk mencetak generasi yang berpikir logis, kritis dan saintifik. Setelah dinyatakan lulus, saya tidak lagi duduk sebagai pendengar tetapi berdiri di sisi lain layar sebagai instruktur. Tantangan pun mulai berubah, bagaimana mentransfer pemahaman integrasi literasi dan sains melalui media digital agar tetap menginspirasi. Saya mulai menguasai berbagai alat bantu daring, seperti pengolahan kelas virtual ataupun penggunaan aplikasi kuis interaktif. Sebagai instruktur daring, saya belajar bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada materi pembelajaran, akantetapi pada cara membangun interaksi dalam kelas virtual..
Gambar.4. Penulis bersama instruktur dan peserta Pelatihan Instruktur Daring AKMI 2025
Bertemu dengan para dosen dan guru hebat selama pelatihan menjadikan energi tersendiri bagi saya untuk terus berkarya. Tahun 2025 menjadi medan pembuktian bagi seorang ibu, seorang anak tukang sepeda dan seorang guru madrasah mampu bersaing di kancah nasional. Saya memutuskan untuk mengikuti Kompetisi Nasional Inovasi Media Pembelajaran Berbasis IT. yang diselenggarakan oleh MGMP TIK dibawah naungan Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur. Namun, tantangan yang hadir tidaklah mudah. Sebagai seorang ibu dari dua anak dan tanggung jawab sebagai waka kurikulum, waktu adalah kemewahan yang sulit saya miliki. Saya harus bergelut dengan tenggat waktu yang sangat ketat di tengah padatnya agenda madrasah. Di sinilah ‘oleh-oleh’ dari Jakarta menunjukkan kekuatannya. Jejaring yang saya jalin dengan instruktur seakan tak lekang oleh waktu. Meski pelatihan telah selesai, bagi seorang dosen universitas ternama meluangkan waktu untuk berbagi ilmu, memberikan motivasi, arahan dan bimbingan adalah bentuk pengabdian masyarakat yang sangat besar. Dan hal tersebut merupakan anugerah terindah bagi seorang guru madrasah seperti saya. Dari arahan dan bimbingan inilah yang memberikan perspektif baru tentang bagaimana menyelaraskan teknologi informasi dengan materi IPA yang kompleks dan dengan mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam. “Terima kasih bapak Setia Rahmawan, arahan dan bimbingan bapak mengantarkan saya untuk terus berbenah dengan karya yang sudah ada, terus berinovasi dan terus berjuang meski aral melintang. Semoga bapak senantiasa sehat dan dilindungi oleh Allah SWT dalam setiap langkah. Dan harapan kedepan, semoga silaturrahmi lahir maupun batin tetap terjalin…”
Perjuangan terus saya lakukan, seringkali malam disaat Alby dan Arsyifa terlelap saya menghabiskan waktu untuk merancang media pembelajaran Dengan waktu yang sangat minimal, saya memacu diri untuk memberikan hasil yang maksimal. Saya percaya pada satu prinsip ; "Kemenangan sejati bukan saat menerima tropi, tapi saat kita menolak berhenti di tengah proses yang sulit dilalui.” Dan alhamdulillah, perjuangan itu berbuah manis. Nama seorang guru dari MTs Darul Ulum Candiwates tercantum sebagai salah satu finalis dalam ajang tersebut.
Gambar.5. Semangat Penulis untuk Terus Meraih Asa
Puncak perjuangan saya dalam Kompetisi Nasional Inovasi Media Pembelajaran ini menemui ujian yang paling indah sekaligus mendebarkan. Setelah dinyatakan lolos sebagai finalis, saya harus mempersiapkan presentasi karya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, di saat yang bersamaan, rumah kami diselimuti suasana haru dan syukur yang luar biasa: Setelah 13 tahun penantian, Bapak dan Ibu akan berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Pikiran saya pun terbagi. Sebagai seorang anak, saya ingin memberikan seluruh waktu saya untuk melayani keberangkatan mereka. Sebagai seorang guru, saya memikul tanggung jawab membawa nama baik madrasah di panggung nasional.
Hari yang ditentukan pun tiba, dan itu adalah hari yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Di tanggal 28 Mei 2025 dini hari tepat pukul 02.00 WIB, dalam suasana hening yang penuh tangis doa, saya mengantarkan Bapak dan Ibu menuju titik pemberangkatan haji. Setelah mencium tangan mereka dan melepas keberangkatan mereka dengan linangan air mata doa, saya tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Hanya berselang beberapa jam, tepat pukul 05.00 WIB, saya harus memacu kendaraan menuju Surabaya tepatnya menuju Aula Kantor Kementerian Agama wilayah Jawa Timur untuk mempresentasikan media pembelajaran bersama finalis yang lain di hadapan dewan juri. Rasa kantuk dan lelah fisik seolah hilang, berganti dengan energi yang saya yakini datang dari restu orang tua yang baru saja berangkat ke Baitullah. Di tengah padatnya jadwal dan waktu persiapan yang sangat singkat, saya berdiri di depan juri dengan keyakinan penuh. Saya mempresentasikan karya bukan hanya dengan data dan teknologi, tetapi dengan semangat dan doa yang masih hangat dari pelukan orang tua saya.
Gambar.6. Presentasi penulis dalam Kompetisi Nasional Inovasi Media Pembelajaran berbasis IT
Inovasi media pembelajaran berbasis IT yang saya kembangkan adalah langkah kecil untuk mendukung kemandirian teknologi bangsa, memastikan bahwa anak-anak madrasah tidak gagap teknologi dan siap menghadapi era digital. Sebagai guru madrasah, saya meyakini bahwa hilirisasi ilmu pengetahuan melalui inovasi media pembelajaran berbasis IT adalah cara saya mendukung kemandirian bangsa.
Perjuangan ‘maraton’ antara mengantar keberangkatan haji dan menyajikan presentasi itu akhirnya berujung indah. Penghargaan Best 2 Kategori Kreativitas Media menjadi hadiah terindah yang bisa saya kabarkan kepada Bapak dan Ibu di tanah suci. Pencapaian ini seolah menjadi jawaban atas segala lelah, jawaban atas setiap sujud yang saya lakukan di tengah kesedihan kehilangan kakak ipar, berkat lantunan do’a kedua orang tua dan bukti bahwa guru madrasah mampu bersaing dalam kompetisi.
Gambar.7. Pemberian Apresiasi Madrasah kepada Penulis
Keberhasilan ini bukan semata untuk kebanggaan pribadi, melainkan sebuah pesan untuk Alby dan Arsyifa bahwa dengan kerja keras dan doa, mimpi setinggi langitpun bisa dipetik tanpa harus meninggalkan cinta di rumah. Bagi saya, setiap lelah yang saya rasakan di madrasah akan luruh saat melihat senyum mereka. Dan setiap doa yang mereka panjatkan adalah energi yang membuat saya mampu berdiri tegak menghadapi dinamika di dunia pendidikan. Karena pada akhirnya, keberhasilan terbesar seorang guru adalah saat ia mampu mendidik anak orang lain tanpa mengabaikan cahaya di rumahnya sendiri. Dan pendidikan yang bermartabat dimulai saat seorang guru memilih untuk mencintai sebelum mengajari. Dengan mengajar dari hati, kita tidak hanya membentuk siswa yang cerdas secara logika, tetapi juga manusia yang memiliki kehalusan budi pekerti. Karena saya percaya, mengajar dengan hati adalah satu-satunya cara untuk menyentuh jiwa, sehingga karakter mulia yang kita harapkan pada siswa bukan lagi sekadar impian kurikulum, melainkan sebuah kenyataan yang mereka pegang seumur hidup. Dengan mendidik dari hati, saya tidak hanya sedang mentransfer rumus-rumus IPA, tetapi sedang membangun pondasi karakter anak bangsa yang kokoh demi menyongsong Indonesia Emas. Dan saya yakin bahwa misi Asta Cita Presiden Prabowo untuk memperkuat harmoni dan karakter bangsa melalui pendidikan yang tidak hanya mengasah logika tetapi juga memperhalus budi pekerti akan tercapai.
Selama mengabdi di madrasah, rupanya kebahagiaan seorang guru tidak berhenti saat bel pulang berbunyi. Kehangatan yang sesungguhnya adalah ketika seorang guru sedang di jalan, lalu tiba-tiba mendengar suara, "Assalamualaikum, Ibu!" sapa dan senyum dari seorang pemuda paruh baya yang ternyata adalah alumni MTs Darul Ulum. Meskipun hanya sebuah sapaan singkat dan jabat tangan ta’dzim, di sanalah guru merasa berhasil ketika mengetahui bahwa siswa yang kini sudah beranjak dewasa masih mengingat gurunya. Dan hal ini membuktikan bahwa ilmu dan kasih sayang yang diberikan telah menetap di hati mereka.
Di akhir Catatan Bahagia Sang Guru Madrasah, saya ingin menyampaikan bahwa ; “Bagi pengabdi madrasah seperti saya, ceria dan bahagia di madrasah adalah pilihan. Saya memilih untuk bahagia dengan melayani, ceria dengan berinovasi dan bangga menjadi bagian dari transformasi madrasah menuju masa depan. Latar belakang ekonomi bukanlah pembatas, melainkan titik pijak untuk melompat lebih tinggi. Jika setiap guru madrasah bergerak dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo yakni berinovasi dan mengabdi dengan hati, maka setiap siswa madrasah-pun punya peluang yang sama untuk mengguncang dunia."
***
Prigen, 25 Desember 2025
Essai ini ditulis dalam rangka mengikuti
Lomba Menulis Essai Inspiratif HAB Kemenag kabupaten Pasuruan 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?