Banner Iklan

Hari Gizi Nasional 2026, Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Sehat sebagai Fondasi SDM Unggul Menuju Indonesia Emas

Anis Hidayatie
25 Januari 2026 | 14.55 WIB Last Updated 2026-01-25T07:56:11Z

 


Hari Gizi Nasional 2026, Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Sehat sebagai Fondasi SDM Unggul Menuju Indonesia Emas

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: 25 Januari 2026 – Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) 2026 menjadi momentum penting bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meneguhkan komitmen dalam memperkuat pembangunan gizi masyarakat. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa penguatan gizi merupakan fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Melalui program Jatim Sehat yang menjadi bagian dari Nawa Bhakti Satya, Pemprov Jatim menempatkan pembangunan gizi sebagai prioritas strategis dan investasi jangka panjang. Menurut Khofifah, gizi yang baik tidak hanya menentukan kesehatan individu, tetapi juga kualitas masa depan daerah dan bangsa.

“Gizi adalah pilar pembentuk manusia Jawa Timur yang sehat, produktif, dan kompetitif. Melalui Jatim Sehat, kami memastikan pemenuhan gizi seimbang menjadi prioritas utama. Gizi yang baik adalah investasi jangka panjang bagi generasi masa depan dan penentu terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Khofifah di Surabaya, Minggu (25/1).

Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu menekankan bahwa pembangunan generasi emas harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Pola konsumsi dan kebiasaan makan sehat di rumah menjadi fondasi pembentukan perilaku hidup sehat masyarakat.

“Sehat itu tidak harus mahal. Membangun generasi emas bisa dimulai dari piring makan di rumah. Dari sanalah kebiasaan hidup sehat dibentuk, dari piring kita sendiri,” tegasnya.

Upaya penguatan gizi di Jawa Timur dilakukan secara komprehensif melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif. Program tersebut meliputi penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, optimalisasi peran Posyandu, pemantauan asupan gizi balita, pemenuhan gizi remaja, hingga edukasi gizi lintas siklus kehidupan.

Seluruh program dijalankan secara kolaboratif bersama pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam pembangunan gizi berkelanjutan.

Meski demikian, Khofifah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pembangunan gizi, khususnya percepatan penurunan stunting. Tantangan tersebut antara lain daya beli masyarakat dan akses terhadap pangan sumber protein hewani yang masih dirasakan cukup berat bagi keluarga prasejahtera. Oleh sebab itu, tema HGN 2026 “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dinilai sangat relevan dan strategis.

Khofifah menuturkan, Jawa Timur memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari padi, jagung, umbi-umbian, ikan, telur, sayur, buah, hingga kacang-kacangan. Jika dikelola dan dikonsumsi secara seimbang, pangan lokal sesungguhnya telah mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Tantangan lainnya adalah literasi gizi masyarakat yang masih perlu diperkuat. Masih banyak masyarakat yang memaknai makan cukup hanya sebatas kenyang, tanpa memperhatikan komposisi gizi sesuai konsep Isi Piringku, serta masih berkembangnya berbagai mitos pangan.

Selain itu, meningkatnya konsumsi pangan industri dan makanan ultra proses, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, juga menjadi perhatian serius karena minim nilai gizi dan berpotensi berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, capaian pembangunan gizi Jawa Timur menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Jawa Timur turun signifikan dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.

Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terbaik di Pulau Jawa dan salah satu yang terendah secara nasional. Meski demikian, Khofifah menegaskan bahwa upaya penurunan stunting harus terus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah, ini prestasi yang membanggakan. Namun ini bukan akhir perjuangan. Pencegahan stunting harus dilakukan sejak masa remaja, kehamilan, hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi menyangkut kualitas masa depan anak bangsa,” tandasnya.

Pada momentum Hari Gizi Nasional 2026 ini, Gubernur Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang melalui gerakan “Sehat Dimulai dari Piringku”, sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam edukasi gizi, ketahanan pangan lokal, serta percepatan penurunan stunting.

Langkah tersebut menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk mewujudkan Jawa Timur yang sehat, mandiri, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. Yra


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hari Gizi Nasional 2026, Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Sehat sebagai Fondasi SDM Unggul Menuju Indonesia Emas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now