Banner Iklan

Dengan Ikhlas Melayani Sepenuh Hati Mengukir Kisah Abadi

Admin JSN
01 Januari 2026 | 21.34 WIB Last Updated 2026-01-01T15:57:33Z
Pariati, Staf Pengadministrasi Umum Kementerian Agama Kota Malang saat bekerja di MPP Ramayana Malang./dokumentasi penulis

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: 

Sebuah esai dari Pariati, Staf Pengadministrasi Umum Kementerian Agama Kota Malang yang bertugas di Mall Pelayanan Publik (MPP) Malang.

Pendahuluan

Tak pernah terbayang menjadi seorang PNS. Jika sekarang kurang lebih 22 tahun bekerja sebagai pegawai, pastinya sudah bertumpuk kisah yang terlalui. Akan terceritakan di essay ini untuk partisipasi lomba HAB Kemenag 2026. Semoga menjadi inspirasi karena ini adalah kisah terbaik untuk kehidupan karier di payung Kementerian Agama.

Nama saya Pariati, ada satu gelar dibelakangnya yaitu S.Psi (Sarjana Psikologi) yang saya peroleh sejak April 2003 dari Fakultas Psikologi STAIN Malang. Saya biasa di panggil dengan sebutan Bu Atik, waktu pertama masuk dinas di MTsN 1 Kota Malang sebagai Guru BK (Bimbingan Konseling).

Mengawali karir sebagai seorang guru menjadi sesuatu yang berharga. Berkecimpung dengan berbagai masalah siswa & madrasah membuat hati & pikiran penuh pengalaman, menjadikan diri makin dewasa dalam berpikir.

Setelah 9 tahun jadi guru BK, kisah ini berlanjut dengan berubahnya posisi menjadi petugas administrasi di Tata Usaha karena munculnya SK yang menurut saya 'kurang benar'.

Wah, ada perjuangan seru yang harus mengorbankan hati.

Bertahan & berlanjut sampai akhirnya mutasi ke MPP Ramayana. "Disuruh jualan baju?”, kata anak saya, ketika saya bilang pindah kerja ke Ramayana.

Nah, apa yang membuat kisah ini begitu penting untuk dibaca, saya lanjutkan ya.

Konflik dan Perjuangan

Menjadi PNS adalah sebuah pilihan hidup. Ini adalah janji untuk mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan umum. Karir ini adalah tentang kesabaran, integritas, dan pengabdian.

Maret 2003, menjadi awal karir di MTsN 1 Kota Malang, sebagai Guru BK (Bimbingan & Konseling). Saat itu ada 1 pesaing pelamar dari 1 kampus yang sama. Alhamdulillah yang namanya rezeki tidak kemana-mana jika memang sudah ditetapkan buat kita, Guru BK pun menempel di nama saya, walaupun saat itu belum terwisuda.

Tahun 2005 ada kesempatan mengikuti program Pemerintah, yaitu pemberkasan CPNS, lagi-lagi ini juga namanya rezeki. Pemberkasan yang sudah masuk membutuhkan waktu lama pada proses selanjutnya.

Kisah menjadi seorang guru BK pun menuai banyak cerita, yang setiap episodenya selalu seru dan menyenangkan. Karir memuncak saat BK MTsN 1 Kota Malang mampu menjadi pilot project BK SMP/ MTs se Kota Malang. Dari media pembelajaran dan kompetensi psikologi yang dimiliki, dijadikan panduan oleh banyak lembaga lain yang mengikuti program dan media BK MTsN 1 Kota Malang.

Laboratorium Psikologi MTsN 1 Kota Malang, juga sempat didirikan sebagai salah satu bentuk layanan untuk melengkapi kegiatan BK terkait konsultasi permasalahan dari civitas maupun luar lembaga. Saat itu, benar-benar sebuah karir yang membanggakan.

Hingga tahun 2009 terbitlah SK CPNS. SK pertama dengan data yang memang sesuai pada pemberkasan, yaitu formasi guru BK, golongan III/a dan lulusan S1 Psikologi. Ini saya sudah tahu. Beberapa lama kemudian, SK baru muncul dengan banyak coretan dan formasi yang berbeda, pegawai II/a dan lulusan SMA.

Menerima SK (Surat Keputusan) pegawai seharusnya menjadi momen yang membahagiakan. Namun, ada kalanya realita yang tertulis di atas kertas tidak sesuai dengan ekspektasi yang sudah bertahun-tahun.

Upaya memperbaiki pun saya lakukan. Berangkat dari isi SK yang berbunyi jika ada kesalahan akan dilakukan perbaikan (kurang lebihnya seperti itu ya). Maunya klarifikasi administratif dengan acuan jika ada kesalahan data atau golongan, segera hubungi bagian Kepegawaian/SDM dengan membawa bukti pendukung. Eee…yang saya terima bukan dukungan tapi cercaan dan ancaman.

Tidak mau menerima SK pegawai dan memilih tetap menjadi guru BK honorer juga tidak bisa diterima oleh jajaran pimpinan saat itu.

Inti cerita, tetap harus menerima SK dan berpindah tempat kerja di bagian Tata Usaha. Rasa kecewa itu valid, khususnya dari sisi emosional.

Akhirnya saya memilih dengan pengembangan diri menjadikan posisi yang "tidak diinginkan" sebagai tempat belajar keahlian baru agar portofolio semakin kaya.

Tahun 2009 sampai dengan Mei 2024, bergelut dengan pekerjaan pengadministrasian di Tata Usaha memang membuat saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman. Tetapi tidak mendapatkan pengayaan diri seperti saat sebelumnya menjadi guru BK.

Meninggalkan jiwa guru yang suka memberikan nasehat, membuat media pembelajaran dengan banyak ide kreatif tenggelam begitu saja.

Pimpinan saat itu yang memberikan harapan bahwa semua bisa diperbaiki, ternyata juga tidak berbuah hasil. Saya tetap berada di kepegawaian Tata Usaha selama itu. Ada periode kepemimpinan yang mendukung saya kembali menjadi guru BK dengan memberikan saya jam pelajaran BK di kelas 9.

Kisah ini masuk dalam verval Irjen saat itu. Yang membuat miris, Anggota Irjen meminta saya membuat surat sakti ke Presiden Jokowi karena kisah pembulian SK Pegawai, yang seharusnya sudah masuk golongan III, ini masih di formasi golongan II karena SK yang tidak diperbaiki.

Dan ada 1 kisah saat itu yang membuat saya jadi tahu bahwa  karena faktor like dislike dalam hubungan kerja antara jajaran pimpinan dan anak buah.

Nama saya sudah masuk dalam daftar list peserta PLPG, dan saya tidak berangkat karena lembaga tidak memberikan saya surat ijin. Ketika saya mempercayai bahwa saya memang tidak bisa berangkat, saat itu juga dengan mata kepala saya sendiri, Kasi Penma menanyakan nama saya di ruang Kepala. Beliau bilang bahwa seharusnya saya tetap berangkat, justru ini bisa dipakai dasar untuk membuat perubahan di SK.

Wah, semua ditunjukkan secara nyata bahwa itu semua rekayasa dari pejabat pimpinan.

SK memang menentukan di mana kita bekerja, tapi ia tidak menentukan seberapa jauh kita bisa berkembang. Kekecewaan hari ini mungkin adalah babak baru yang memaksa kita keluar dari zona nyaman untuk menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi.

Tetap menerima dan mencoba ikhlas selama ini, bukan tanpa hasil. Rasa ikhlas dan cinta pada MTsN 1 Kota Malang terasa sekali saat menerima SK mutasi setelah 21 tahun mengabdi.

Berbagai macam pertanyaan dan pernyataan muncul mencari tahu alasan kenapa dimutasi. Mengikuti alur pikiran orang lain yang membuat kita makin berpikir tidak positif adalah pilihan yang kurang tepat.

SK Mutasi menempatkan saya bertugas di Mall Pelayanan Publik (Ramayana Malang) di stand Kementerian Agama dengan TMT 01 Juni 2024.

Ini juga membawa kisah tersendiri. Banyak masukan dan anggapan bahwasannya mutasi ke MPP karena faktor like dislike, karena ada ketidak samaan persepsi dengan Pimpinan dan banyak lagi yang terekam dengan alasan-alasan negatif.

Mutasi yang tidak diinginkan sering kali terasa seperti 'hukuman' tanpa kesalahan, padahal secara administratif itu hanyalah bagian dari dinamika organisasi. Rasa kaget, marah, dan cemas adalah reaksi yang sangat manusiawi saat kenyamanan hidup tiba-tiba tercerabut oleh selembar surat.

Apa yang terjadi di Mall Pelayanan Publik (MPP) Ramayana Malang?

Menjadi pegawai yang dibutuhkan ataukah justru tidak diperhatikan, selalu mengikuti pikiran ini selama bertugas di MPP. Jika memang dibutuhkan, kenapa dengan beban yang seringan ini? Jika tidak dibutuhkan, kenapa harus menguasai banyak hal terkait dengan layanan di MPP.

Menjadi fenomena yang tidak pernah terpikirkan karena suasana baru yang ada di tempat kerja. Lebih kompleks dengan permasalahan yang dihadapi karena klien dari berbagai macam kalangan dan umur. Mendapatkan banyak rekan kerja dari instansi lain yang membuat wawasan ilmu pun makin bertambah.

Dan yang pasti saya mendapat jawaban yang tepat atas mutasinya saya ke MPP. Lebih dari hal penting yang lain bahwasannya MPP pernah menjadi tempat dan waktu terbaik saya untuk mengabdi sebagai pegawai Kementerian Agama selama kurang lebih 22 tahun.

Kesimpulan

Mengakhiri sebuah kisah dengan kata ikhlas bukanlah tanda bahwa kita menyerah atau kalah oleh keadaan. Sebaliknya, ikhlas adalah bentuk kemenangan tertinggi atas ego dan ekspektasi kita sendiri.

Ikhlas dalam konteks mutasi atau SK yang tidak diinginkan berarti berhenti bertarung melawan kenyataan yang sudah terjadi, dan mulai mengalir bersama ketetapan yang ada.

Keikhlasan lebih mudah tumbuh saat kita tahu bahwa pimpinan tidak membiarkan kita berjalan sendirian. Kepeduliannya adalah jembatan yang mengubah rasa asing di tempat baru menjadi rasa aman karena merasa tetap dihargai.

Terima kasih buat Bapak Kepala beserta Ibu Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Malang, di tengah berkecamuknya perasaan saya menerima SK mutase selama ini, ada Bahasa yang Bapak dan Ibu berikan dan itu menjadi penyejuk yang luar biasa. Terima kasih telah memanusiakan kegelisahan saya dan membantu saya melihat sisi terang dari perubahan ini. Memiliki pimpinan yang peduli bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal pelajaran hidup tentang empati. Saya berangkat ke tempat baru dengan hati yang lebih ringan berkat bimbingan Bapak dan Ibu.

Bismillah selalu ada dalam doa saya, semoga ALLAH menjadikan Kementerian Agama sebagai lembaga yang penuh berkah, di mana setiap kebijakan yang diambil membawa kebaikan bagi banyak orang dan memberikan kemajuan yang berkelanjutan, agar instansi ini tetap berdiri tegak sebagai wadah pengabdian yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. 

Aamiin ya Mujibassailin.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dengan Ikhlas Melayani Sepenuh Hati Mengukir Kisah Abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now