Banner Iklan

Belajar Keberpihakan dari Seekor Semut

Admin JSN
15 Januari 2026 | 19.28 WIB Last Updated 2026-01-15T12:28:20Z


Belajar Keberpihakan dari Seekor Semut

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Dalam kisah Nabi Ibrahim AS yang dibakar oleh Raja Namrud, terdapat satu fragmen kecil yang kerap terlewatkan, tetapi justru menyimpan kedalaman makna etis dan filosofis. Seekor semut diceritakan mengambil setetes air dan berjalan menuju kobaran api. Ketika ditanya apakah setetes air itu mampu memadamkan api sebesar itu, semut menjawab dengan kesadaran penuh bahwa air tersebut tidak akan memadamkan api, tetapi ia ingin Allah mengetahui di pihak mana ia berdiri.

Fragmen ini bukan sekadar kisah pelengkap dalam literatur keagamaan, melainkan alegori moral tentang keberpihakan. Ia mengajarkan bahwa nilai sebuah tindakan tidak selalu ditentukan oleh keberhasilan empiris, melainkan oleh orientasi etis dan kesadaran batin yang melandasinya. Pesan ini menjadi relevan ketika Pagar Nusa memasuki usia yang semakin matang empat dekade secara organisatoris dan lebih dari tiga dekade bagi Pagar Nusa Kabupaten Malang.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, tindakan manusia tidak semata-mata diukur dari hasil yang tampak, melainkan dari niat (qaṣd), adab, dan keberpihakan moral. Prinsip ini menegaskan bahwa amal tidak boleh direduksi menjadi sekadar soal efektivitas. Etika Aswaja tidak menolak hasil, tetapi menempatkan hasil dalam kerangka nilai yang lebih luas: kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan.

Semut dalam kisah tersebut sepenuhnya sadar akan keterbatasannya. Ia kecil, lemah, dan nyaris tidak memiliki daya ubah struktural. Namun kesadaran ini tidak menjelma menjadi sikap pasif. Justru di sanalah letak kebesaran moralnya ia memilih untuk tidak netral ketika kebenaran sedang dibakar oleh kekuasaan yang zalim.

Sikap ini menjadi kritik etis yang relevan dengan kehidupan modern. Tidak sedikit manusia termasuk kalangan terdidik yang berlindung di balik rasionalisasi pragmatis: “Apa gunanya bergerak jika tidak mengubah apa-apa?” Dalam perspektif etika NU, sikap semacam ini bukanlah netralitas, melainkan keberpihakan terselubung pada ketidakadilan. Diam di hadapan kezaliman sering kali bukan pilihan aman, melainkan bentuk persetujuan pasif.

Dari sudut pandang tasawuf, kisah semut mengajarkan etika keikhlasan dalam makna yang paling mendasar. Semut tidak bergerak demi pujian, tidak berharap dikenang, bahkan tidak menuntut keberhasilan. Ia bergerak karena kesetiaan pada nilai. Inilah hakikat ikhlas: amal kecil yang dilakukan dengan niat lurus dapat melampaui nilai amal besar yang kehilangan arah batin.

Lebih jauh, semut juga dapat dibaca sebagai simbol keberanian eksistensial. Dalam perspektif filsafat eksistensial, makna keberadaan ditentukan oleh pilihan sadar, bukan oleh keberhasilan objektif. Semut “menjadi” melalui tindakannya; ia menegaskan keberadaannya bukan karena berhasil memadamkan api, tetapi karena memilih berdiri di pihak kebenaran.

Keberanian semacam ini bersifat sunyi, tidak heroik, tetapi bermartabat.

Api dalam kisah tersebut melambangkan tirani—kekuasaan yang membakar nilai, meniadakan nurani, dan memaksakan ketundukan. Sementara semut melambangkan perlawanan kecil yang tidak destruktif, tetapi etis. Ia tidak melawan dengan kekuatan, melainkan dengan konsistensi moral. Dalam kerangka ini, perlawanan tidak selalu berarti konfrontasi, tetapi kesetiaan pada nilai dalam situasi yang sulit.

Di sinilah relevansi pesan ini bagi Pagar Nusa. Sejak awal, Pagar Nusa tidak dimaksudkan semata-mata sebagai wadah pencak silat, melainkan sebagai ruang kaderisasi nilai. Pagar Nusa mendidik santri agar kuat secara fisik, tetapi juga matang secara spiritual dan etis. Silat tidak hanya dipraktikkan sebagai teknik, melainkan sebagai laku—jalan pembentukan karakter.

Semboyan bela kiai sampai mati harus dimaknai dalam kerangka ini. Ia bukan ajakan emosional atau simbolik belaka, melainkan komitmen etis untuk menjaga sanad keilmuan, tradisi keulamaan, dan nilai-nilai Islam Nusantara. Membela kiai berarti membela ilmu, adab, dan keberlanjutan tradisi yang menautkan agama dengan kemanusiaan.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kalkulasi kepentingan, logika kemenangan, dan obsesi hasil instan, Pagar Nusa dan NU secara umum ditantang untuk tetap setia pada etika semut. Jangan menunggu kuat untuk benar, dan jangan menunda keberpihakan hanya karena merasa lemah. Dalam tradisi Aswaja, sikap tawassuth, tawazun, dan i’tidal justru menuntut keberanian moral yang tenang dan konsisten.

Pada akhirnya, semut memang tidak memadamkan api. Namun ia memadamkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: alasan moral untuk tidak berbuat baik. Dari kisah ini kita belajar bahwa Tuhan tidak menilai seberapa besar api yang berhasil kita padamkan, melainkan di pihak mana kita berdiri ketika api itu dinyalakan.


Oleh: Saiful Anam

PC Pagar Nusa Kabupaten Malang


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Belajar Keberpihakan dari Seekor Semut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now