Membangun Multiliterasi Berkarakter: Merawat Budaya Baca, Menumbuhkan 8 Dimensi Profil Lulusan Melalui Pohon Literasi Kelas
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Kurikulum Merdeka menempatkan literasi sebagai fondasi utama pembelajaran. Literasi tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai kecakapan berpikir, bernalar, dan berkomunikasi secara reflektif. Dalam konteks ini, Pohon Literasi Kelas hadir sebagai praktik sederhana namun strategis untuk menghidupkan semangat Kurikulum Merdeka sekaligus menumbuhkan 8 Profil Lulusan sejak jenjang sekolah dasar.
Gerakan literasi selalu berawal dari ruang-ruang kecil. Di SD Negeri 1 Simojayan, dari sudut kelas yang sederhana, dari guru yang konsisten, dan dari anak-anak yang mulai jatuh cinta pada bacaan. Pohon Literasi Kelas menjadi salah satu simbol hidup dari gerakan tersebut, sebuah praktik kecil yang berdampak besar dalam menumbuhkan budaya baca dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka.
Gerakan literasi tidak menuntut inovasi yang rumit. Ia membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan ruang aman untuk bertumbuh. Pohon literasi mengajarkan kita bahwa membaca dan menulis adalah proses hidup, perlu dirawat, disiram, dan diberi waktu. Pojok Literasi kelas menjelma menjadi ladang subur bagi lahirnya pembelajar merdeka. Dari satu pohon literasi, tumbuh harapan akan generasi yang berpikir kritis, berkarakter, dan mencintai pengetahuan sepanjang hayat.
Mengapa Pohon? Simbol Pertumbuhan yang Hidup Bayangkan sebuah kelas yang hidup dan berwarna-warni, di mana dindingnya bukan hanya tempat poster biasa, tapi sebuah "pohon" raksasa yang tumbuh bersama imajinasi anak-anak. Daun- daunnya bukan daun biasa, melainkan catatan kecil tentang buku yang dibaca. Di tengah era digital dan globalisasi, di mana anak-anak harus melek tidak hanya baca-tulis, tapi juga literasi budaya, digital, dan lingkungan, pohon ini menjadi simbol pertumbuhan pengetahuan yang menyenangkan.
Menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, kontekstual, dan bermakna. Pohon literasi kelas sejalan dengan prinsip tersebut karena memberi ruang bagi siswa untuk:
- Memilih bacaan sesuai minat dan tingkat perkembangan,
- Mengekspresikan pemahaman melalui tulisan singkat, refleksi, atau tanggapan,
- Belajar dengan tempo yang fleksibel tanpa tekanan hasil instan.
Melalui aktivitas ini, guru berperan sebagai fasilitator, sementara siswa menjadi subjek aktif yang membangun pengetahuannya sendiri. Kontribusi Pohon Literasi terhadap 8 Profil Lulusan pohon literasi tidak hanya mendukung capaian akademik, tetapi juga berkontribusi langsung pada pembentukan karakter dan kompetensi lulusan.
Implementasinya dapat dikaitkan dengan 8 Profil Lulusan sebagai berikut:
1. Keimanan dan Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Bacaan bermuatan nilai moral, kisah inspiratif, atau refleksi sikap membantu siswa menumbuhkan kesadaran etis dan spiritual dalamkehidupan sehari-hari.
2. Kewarnegaraan
Teks tentang lingkungan, budaya lokal, dan kehidupan sosial mendorong siswa memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai warga masyarakat.
3. Penalaran Kritis
Saat siswa menuliskan simpulan, pendapat, atau pertanyaan kritis terhadap bacaan, mereka dilatih menganalisis informasi dan mengambil keputusan secara logis.
4. Kreativitas
Daun-daun literasi dapat berisi puisi, cerita pendek, atau ide kreatif siswa yang lahir dari pengalaman membaca.
5. Kolaborasi
Diskusi kelompok sebelum menuliskan hasil bacaan memperkuat keterampilan bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain.
6. Kemandirian
Kebiasaan membaca dan menulis secara rutin melatih tanggung jawab pribadi terhadap proses belajar.
7. Kesehatan Jasmani dan Mental
Aktivitas literasi yang menyenangkan menciptakan suasana kelas yang aman, nyaman, dan mendukung kesejahteraan emosional siswa.
8. Komunikasi
Melalui tulisan singkat dan presentasi hasil bacaan, siswa belajar menyampaikan gagasan secara runtut, jelas, dan santun.
Dengan demikian, setiap daun pada pohon literasi bukan hanya hasil membaca, tetapi representasi proses tumbuhnya profil lulusan yang utuh. Strategi Praktis Penerapan di Kelas agar pohon literasi benar-benar berdampak, guru dapat menerapkan beberapa strategi berikut:
- Menetapkan waktu literasi rutin 15 menit di awal atau akhir pembelajaran,
- Mengaitkan bacaan dengan tema pembelajaran dan projek penguatan profil lulusan,
- Memberikan umpan balik kualitatif, bukan sekadar penilaian angka,
- Melibatkan siswa dalam merancang dan merawat pohon literasi sebagai milik bersama.
Strategi ini memperkuat budaya belajar yang reflektif dan berkelanjutan.
Ketika diterapkan dikelas secara konsisten, pohon literasi ini berkembang menjadi gerakan literasi program sekolah dan menjadi bukti nyata bahwa Kurikulum Merdeka tidak hanya hidup dalam dokumen, tetapi benar-benar hadir dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Melalui pohon literasi, sekolah menanam nilai, menumbuhkan karakter, dan memanen generasi pembelajar yang literat, kritis, dan berdaya saing. Dari ruang kelas yang sederhana, 8 profil lulusan dapat bertumbuh secara alami dan bermakna.
Penulis : IKA KURNIA SETYA.A





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?