FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM - Sore itu udara di UKM Center Unesa terasa berbeda, Kamis, 6 November 2025. Meja-meja telah ditata rapi dengan deretan buku yang disusun layaknya lapak baca mini. Halaman UKM tertata rapi, menandakan satu hal, yaitu adanya percakapan penting yang akan dimulai. Kegiatan bedah buku yang digagas oleh Sinergi Unesa dan BEM Unesa ini bukan sekadar agenda rutinitas organisasi, melainkan kegiatan yang lahir dari sebuah kegelisahan sekaligus harapan baru untuk menghidupkan kembali budaya literasi di kalangan mahasiswa.
Azzahra
Griselda selaku ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa motivasi utamanya
sederhana tapi mendalam: ia ingin menghadirkan kembali ruang diskusi agar
mahasiswa bisa saling bertukar pikiran, membangun keberanian berpendapat, serta
mengasah kemampuan berpikir kritis. “Saya ingin menghidupkan kembali semangat
baca dan diskusi di kalangan mahasiswa. Melalui kegiatan ini para audiens juga
dapat menjadi ruang untuk saling bertukar pikiran untuk berdialog dan membuka
perspektif baru,” ungkapnya. Kegiatan bedah buku dan lapak baca ini menjadi
upaya nyata dalam menghadirkan atmosfer tersebut di lingkungan kampus.
Namun,
di balik keberhasilan acara tersebut, terdapat perjalanan personal yang tidak
kalah menarik. Azzahra mengaku dirinya sempat merasa gugup ketika kali pertama
memimpin kegiatan ini. “Ini adalah kali pertama saya menjadi ketua pelaksana,
sebenarnya agak nervous, tapi selebihnya juga senang dan excited
karena sudah dipercaya untuk membuat acara ini,” tuturnya.
Kegiatan
yang berlangsung di UKM Center Unesa ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai
jurusan. Tempat tersebut dipilih karena dianggap sebagai ruang paling dekat
dengan aktivitas mahasiswa, tempat ide tumbuh, diskusi berkembang, dan
kreativitas sering kali muncul tanpa dipaksa. Sejak pukul tiga sore, peserta
mulai berdatangan dan duduk secara melingkar agar suasana bedah buku terasa
lebih hangat dan interaktif.
Penyelenggara
memilih buku Animal Farm karya George Orwell sebagai objek diskusi.
Pemilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Bagi Azzahra, Animal Farm
merupakan kisah satir politik yang tetap relevan dibaca pada masa kini. “Pesan
dalam buku ini masih sangat dekat dengan kondisi sosial dan politik sekarang. Animal
Farm mengajak pembaca melihat relasi kuasa, manipulasi, dan propaganda
dalam bentuk yang sederhana tapi sangat mengena,” ujarnya.
Selain
itu, ia menyebut bahwa buku ini jarang diangkat dalam agenda bedah buku di
lingkungan mahasiswa, sehingga Animal Farm menjadi pilihan yang segar
dan menantang untuk dibahas. Keputusan ini juga merupakan hasil dari diskusi
bersama pemantik acara yang menilai bahwa isi buku sangat kaya untuk dijadikan
sumber percakapan kritis.
Tidak
hanya itu, bagi Azzahra pengalaman menjadi ektua pelaksana menjadi salah satu
bagian paling berkesan dari kegaiatn ini. “Yang paling menarik dari kegiatan
ini Adalah interaksi bersama panitia dan teman-teman BEM yang sudah membantu
menyukseskan acara ini, karena itu mejadu pengalaman pertama untuk
berkolaborasi dalam membuat acara bersama,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa
sesi sharing bersama para pemantik memberikan penagalaman baru yang
membuka wawasannya mengenai dunia literasi.
Selama
kegiatan berlangsung, peserta terlihat antusias memberi pendapat, melontarkan
pertanyaan, dan menanggapi argumen dari mahasiswa lain. Tidak ada jarak tegas
antara pembicara dan audiens semua larut dalam dialog yang hidup. Lapak baca
yang tersedia juga menjadi daya tarik tersendiri. Peserta yang selesai
berdiskusi akan menghampiri meja tersebut, membolak-balik buku, dan sesekali
mencatat judul buku lain yang ingin mereka baca setelah acara.
Di
akhir acara, penyelenggara menyampaikan harapan besarnya. Bagi dirinya,
kegiatan ini bukan hanya event sekali jalan. Ia berharap bedah buku
seperti ini dapat menjadi awal dari budaya baru di kampus: budaya membaca,
menulis, dan berdialog. “Saya ingin kegiatan ini menjadi langkah awal. Setelah
ini, semoga semakin banyak ruang-ruang kecil yang menghidupkan literasi di
Unesa. Jangan sampai berhenti di sini,” tuturnya.
Bedah
buku yang berlangsung hampir dua jam itu akhirnya ditutup dengan tepuk tangan
hangat dari seluruh peserta. Di wajah mereka, tampak sisa antusiasme yang belum
sepenuhnya padam sebuah tanda bahwa kegiatan sederhana ini telah berhasil
menyalakan semangat yang selama ini mungkin meredup. Melalui kegiatan tersebut,
sore itu UKM Center Unesa penuh dengan percakapan mengenai sosial, politik, dan
masa depan literasi. Di ruangan itu, literasi kembali
menemukan rumahnya karena perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil
yang penuh kepedulian.
---
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?