Banner Iklan

Perjalanan Azzahra Griselda dalam Memimpin Kegiatan Bedah Buku Animal Farm

Admin JSN
29 November 2025 | 22.23 WIB Last Updated 2025-11-29T15:23:54Z


FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM - Sore itu udara di UKM Center Unesa terasa berbeda, Kamis, 6 November 2025. Meja-meja telah ditata rapi dengan deretan buku yang disusun layaknya lapak baca mini. Halaman UKM tertata rapi, menandakan satu hal, yaitu adanya percakapan penting yang akan dimulai. Kegiatan bedah buku yang digagas oleh Sinergi Unesa dan BEM Unesa ini bukan sekadar agenda rutinitas organisasi, melainkan kegiatan yang lahir dari sebuah kegelisahan sekaligus harapan baru untuk menghidupkan kembali budaya literasi di kalangan mahasiswa.

Azzahra Griselda selaku ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa motivasi utamanya sederhana tapi mendalam: ia ingin menghadirkan kembali ruang diskusi agar mahasiswa bisa saling bertukar pikiran, membangun keberanian berpendapat, serta mengasah kemampuan berpikir kritis. “Saya ingin menghidupkan kembali semangat baca dan diskusi di kalangan mahasiswa. Melalui kegiatan ini para audiens juga dapat menjadi ruang untuk saling bertukar pikiran untuk berdialog dan membuka perspektif baru,” ungkapnya. Kegiatan bedah buku dan lapak baca ini menjadi upaya nyata dalam menghadirkan atmosfer tersebut di lingkungan kampus.

Namun, di balik keberhasilan acara tersebut, terdapat perjalanan personal yang tidak kalah menarik. Azzahra mengaku dirinya sempat merasa gugup ketika kali pertama memimpin kegiatan ini. “Ini adalah kali pertama saya menjadi ketua pelaksana, sebenarnya agak nervous, tapi selebihnya juga senang dan excited karena sudah dipercaya untuk membuat acara ini,” tuturnya.

Kegiatan yang berlangsung di UKM Center Unesa ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Tempat tersebut dipilih karena dianggap sebagai ruang paling dekat dengan aktivitas mahasiswa, tempat ide tumbuh, diskusi berkembang, dan kreativitas sering kali muncul tanpa dipaksa. Sejak pukul tiga sore, peserta mulai berdatangan dan duduk secara melingkar agar suasana bedah buku terasa lebih hangat dan interaktif.

Penyelenggara memilih buku Animal Farm karya George Orwell sebagai objek diskusi. Pemilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Bagi Azzahra, Animal Farm merupakan kisah satir politik yang tetap relevan dibaca pada masa kini. “Pesan dalam buku ini masih sangat dekat dengan kondisi sosial dan politik sekarang. Animal Farm mengajak pembaca melihat relasi kuasa, manipulasi, dan propaganda dalam bentuk yang sederhana tapi sangat mengena,” ujarnya.

Selain itu, ia menyebut bahwa buku ini jarang diangkat dalam agenda bedah buku di lingkungan mahasiswa, sehingga Animal Farm menjadi pilihan yang segar dan menantang untuk dibahas. Keputusan ini juga merupakan hasil dari diskusi bersama pemantik acara yang menilai bahwa isi buku sangat kaya untuk dijadikan sumber percakapan kritis.

Tidak hanya itu, bagi Azzahra pengalaman menjadi ektua pelaksana menjadi salah satu bagian paling berkesan dari kegaiatn ini. “Yang paling menarik dari kegiatan ini Adalah interaksi bersama panitia dan teman-teman BEM yang sudah membantu menyukseskan acara ini, karena itu mejadu pengalaman pertama untuk berkolaborasi dalam membuat acara bersama,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa sesi sharing bersama para pemantik memberikan penagalaman baru yang membuka wawasannya mengenai dunia literasi.

Selama kegiatan berlangsung, peserta terlihat antusias memberi pendapat, melontarkan pertanyaan, dan menanggapi argumen dari mahasiswa lain. Tidak ada jarak tegas antara pembicara dan audiens semua larut dalam dialog yang hidup. Lapak baca yang tersedia juga menjadi daya tarik tersendiri. Peserta yang selesai berdiskusi akan menghampiri meja tersebut, membolak-balik buku, dan sesekali mencatat judul buku lain yang ingin mereka baca setelah acara.

Di akhir acara, penyelenggara menyampaikan harapan besarnya. Bagi dirinya, kegiatan ini bukan hanya event sekali jalan. Ia berharap bedah buku seperti ini dapat menjadi awal dari budaya baru di kampus: budaya membaca, menulis, dan berdialog. “Saya ingin kegiatan ini menjadi langkah awal. Setelah ini, semoga semakin banyak ruang-ruang kecil yang menghidupkan literasi di Unesa. Jangan sampai berhenti di sini,” tuturnya.

Bedah buku yang berlangsung hampir dua jam itu akhirnya ditutup dengan tepuk tangan hangat dari seluruh peserta. Di wajah mereka, tampak sisa antusiasme yang belum sepenuhnya padam sebuah tanda bahwa kegiatan sederhana ini telah berhasil menyalakan semangat yang selama ini mungkin meredup. Melalui kegiatan tersebut, sore itu UKM Center Unesa penuh dengan percakapan mengenai sosial, politik, dan masa depan literasi. Di ruangan itu, literasi kembali menemukan rumahnya karena perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil yang penuh kepedulian.

---

Binawati Dwi Martiningtyas
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perjalanan Azzahra Griselda dalam Memimpin Kegiatan Bedah Buku Animal Farm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now