FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM – Di tengah lautan toga hitam yang
bergerak khidmat dan tawa keluarga yang pecah di pelataran Universitas Negeri
Surabaya (UNESA), ada satu sudut yang memantulkan suasana berbeda. Bukan kamera,
bukan spanduk ucapan, melainkan sebuah lapak sederhana yang penuh warna. Di
sana, seorang bapak penjual bucket tampak sibuk menata dagangannya buket bunga,
boneka, hingga tumpukan buket makanan ringan yang disusun setinggi lutut.
Ketika ditanya
sejak kapan ia berjualan buket bapak menjawab “Sudah cukup lama, Mas,” ujarnya
sambil tersenyum. Tangannya tak berhenti membenarkan posisi pita merah muda di
salah satu buket. “Dari dulu, tiap ada wisuda, saya pasti di sini. Tapi kalau
hari biasa juga jualan, kadang ada pesanan dari mahasiswa.”
Lebih dari
Sekadar Buket
Lapaknya
sederhana, hanya beralaskan keranjang-keranjang yang berisikan bermacam-macam
bucket. Tapi apa yang dijajakan bukan sekadar bunga. Bapak ini paham betul
selera zaman dan kebutuhan perayaan yang kian beragam.
Di sisi kiri,
buket bunga-bunga yang beragam terikat rapi dengan pita satin, simbol klasik
ucapan selamat yang tak lekang oleh waktu. Tak jauh dari situ, berdiri
“menara-menara” buket makanan ringan: cokelat, wafer, dan biskuit disusun
bertingkat, dibungkus plastik bening, menggoda siapa pun yang lewat.
“Kadang yang
dicari bukan cuma yang cantik, tapi yang bisa dibagi-bagi,” ujar seorang
pembeli muda sambil menimbang buket berisi cokelat dan keripik.
Di sisi kanan,
boneka-boneka mungil duduk manis. Ada yang mengenakan toga mini, ada pula yang
memakai selempang bertuliskan “Congratulations.” Mereka siap jadi
kenang-kenangan, menemani hari-hari setelah bunga layu dan makanan ringan
habis.
Tak Hanya di
Hari Wisuda
Meski momen
wisuda menjadi masa “panen” baginya, bapak ini bukan pedagang musiman. “Saya
tiap hari jualan, Mas. Kadang ada yang pesan buat ulang tahun, kadang buat
tugas kampus. Kalau lagi sepi, ya tetap buka aja, siapa tahu ada rezeki,”
tuturnya sembari menata kembali beberapa tangkai mawar yang mulai layu.
Ketika kampus
kembali sepi dari toga dan kamera, lapaknya tetap berdiri. Ia sudah menjadi
bagian dari lanskap kehidupan kampus saksi bisu dari ribuan kisah perjuangan
mahasiswa yang datang dan pergi.
Menutup Hari
dengan Senyum
Menjelang sore,
saat matahari condong ke barat dan wisudawan terakhir mulai meninggalkan
pelataran, bapak itu perlahan berkemas. Wajahnya tampak lelah, tapi senyum tak
pernah lepas dari bibirnya.
“Hari ini
lumayan, Mas. Banyak yang laku,” katanya pelan. Di tangannya, sisa beberapa
buket yang belum sempat terbeli. Ia mungkin tak mengenal nama-nama wisudawan
yang ia layani, tapi melalui tangan terampilnya, ia telah menjadi bagian kecil
dari momen besar banyak orangpemasok kebahagiaan sederhana di hari paling
bersejarah mereka.
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?