Banner Iklan

Cetak Biru Koperasi Pangan Ngawi, Sri Untari Siapkan Transformasi 217 Koperasi Desa Merah Putih

Anis Hidayatie
30 Juli 2026 • 20.18 WIB

 

Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., menggagas sebuah cetak biru transformasi koperasi pangan terintegrasi berbasis rantai nilai di Kabupaten Ngawi. 

NGAWI | JATIMSATUNEWS.COM: Ketua Umum Koperasi Setia Budi Wanita (SBW) Jawa Timur yang juga Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., menggagas sebuah cetak biru transformasi koperasi pangan terintegrasi berbasis rantai nilai di Kabupaten Ngawi. Konsep tersebut disusun sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui penguatan kelembagaan koperasi.

Gagasan itu hadir seiring terbentuknya 217 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Ngawi. Menurut Sri Untari, keberadaan KDMP menjadi momentum penting untuk mengubah peran koperasi dari sekadar lembaga simpan pinjam menjadi penggerak utama ekosistem pertanian modern yang mengelola seluruh rantai nilai, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga pemasaran hasil panen.

"Model koperasi konvensional hanya mampu menyelesaikan persoalan likuiditas jangka pendek. Padahal akar persoalan petani berada pada ketimpangan rantai pasok. Karena itu, KDMP harus kita dorong menjadi koperasi agroindustri yang mampu menyerap sekaligus mengolah hasil panen petani," ujar Sri Untari.

Ia menilai Kabupaten Ngawi memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi percontohan transformasi koperasi pangan. Berdasarkan data tahun 2025, produksi padi Ngawi mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG), atau sekitar tujuh persen dari total produksi padi Jawa Timur. Produktivitas lahannya bahkan mencapai 5,99 ton per hektare, tertinggi di provinsi tersebut.

Meski memiliki produktivitas tinggi, Sri Untari mengakui masih banyak petani yang belum menikmati nilai ekonomi secara maksimal. Ketergantungan terhadap tengkulak, lemahnya posisi tawar petani, serta ketimpangan distribusi keuntungan dalam rantai pasok menjadi persoalan yang harus segera dibenahi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Sri Untari merancang tujuh pilar strategis pembangunan Koperasi Pangan Terintegrasi.

Pilar pertama adalah penguatan sektor input pertanian melalui pengadaan benih dan pupuk secara kolektif yang dipadukan dengan digital farming melalui integrasi sistem e-RDKK dan i-Pubers.

Pilar kedua berupa modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk pemanfaatan combine harvester, rice transplanter, hingga drone pertanian presisi guna meningkatkan efisiensi biaya sekaligus menekan kehilangan hasil panen.

Selanjutnya, koperasi diarahkan membangun agroindustri melalui pendirian Rice Milling Unit (RMU) modern yang dilengkapi teknologi color sorter sehingga mampu menghasilkan beras premium dengan merek "Beras Ngawi".

Pada sisi logistik, Sri Untari mengusulkan pembangunan gudang modern dan fasilitas cold storage yang nantinya dapat menjadi pusat distribusi bahan pangan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sementara pada aspek pemasaran, koperasi didorong membangun jaringan ritel melalui Ngawi Mart, Toko Tani, hingga pasar digital agar petani memiliki akses pasar yang lebih luas tanpa bergantung pada perantara.

Di bidang pembiayaan, koperasi akan mengintegrasikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis klaster dengan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sehingga petani memperoleh akses modal sekaligus perlindungan terhadap risiko gagal panen.

Adapun pilar terakhir adalah hilirisasi berbasis konsep zero waste. Limbah hasil penggilingan padi seperti dedak akan dimanfaatkan menjadi pakan ternak, sedangkan sekam diolah menjadi briket bioenergi sehingga tercipta ekonomi sirkular yang memberi nilai tambah.

Sri Untari juga menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh mengorbankan tenaga kerja lokal, terutama buruh tani perempuan. Menurutnya, transformasi koperasi justru harus membuka peluang kerja baru melalui unit sortasi hasil panen, pengemasan vakum, administrasi logistik, hingga pemasaran digital.

"Transformasi ini harus inklusif. Buruh tani perempuan yang terdampak mekanisasi harus memperoleh ruang dalam unit usaha baru koperasi sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan seluruh masyarakat desa," tegasnya.

Implementasi konsep tersebut dirancang berlangsung secara bertahap mulai 2027 hingga 2032 melalui skema Koperasi Multi Pihak (KMP), yang mengintegrasikan kelompok tani, investor atau offtaker, serta manajemen profesional dalam satu kelembagaan yang kuat.

Lebih jauh, Sri Untari berharap keberhasilan model di Kabupaten Ngawi dapat menjadi prototipe pengembangan koperasi pangan di berbagai daerah di Jawa Timur sesuai dengan potensi unggulan masing-masing. Bojonegoro diarahkan menjadi pusat jagung dan bioetanol, Jember untuk kopi dan kakao ekspor, Banyuwangi pada sektor perikanan dan pariwisata, Malang sebagai sentra susu, tebu, dan hortikultura, serta Madura untuk komoditas garam, sapi, dan rumput laut.

"Sinergi antarklaster akan membentuk rantai pasok ekonomi sirkular yang kokoh. Dengan begitu Jawa Timur tidak hanya menjadi benteng ketahanan pangan nasional, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani gurem menjadi pelaku industri pedesaan yang mandiri, modern, dan berdaya saing," pungkas Sri Untari. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cetak Biru Koperasi Pangan Ngawi, Sri Untari Siapkan Transformasi 217 Koperasi Desa Merah Putih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?