Banner Iklan

Rupiah Tertekan Gejolak Global, Pemerintah Pastikan APBN dan Subsidi Energi Lindungi Daya Beli Masyarakat

Anis Hidayatie
01 Juni 2026 | 12.07 WIB Last Updated 2026-06-01T05:07:52Z


Rupiah Tertekan Gejolak Global, Pemerintah  Pastikan APBN dan Subsidi Energi Lindungi Daya Beli Masyarakat

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Pemerintah terus mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu berbagai tekanan ekonomi global. Di tengah ketidakpastian pasar internasional dan kenaikan harga energi dunia, pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat.

Pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari gejolak geopolitik, perubahan kebijakan moneter global, hingga lonjakan harga energi dunia akibat konflik di Timur Tengah. 

Situasi tersebut memberikan tekanan terhadap banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. APBN telah dirancang sebagai instrumen yang mampu meredam dampak gejolak ekonomi melalui berbagai kebijakan fiskal, termasuk menjaga harga energi agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempertahankan subsidi energi, khususnya untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar. Kebijakan ini bertujuan agar lonjakan harga minyak dunia tidak langsung berdampak pada inflasi dan penurunan daya beli masyarakat.

Selain menjaga stabilitas harga energi, pemerintah juga memastikan stok energi nasional dalam kondisi aman. Ketersediaan BBM, LPG, dan sumber energi lainnya terus dipantau untuk menjamin pasokan tetap lancar di seluruh wilayah Indonesia.

Di sisi lain, upaya memperkuat kemandirian energi nasional terus didorong melalui peningkatan produksi energi domestik, pengembangan energi baru dan terbarukan, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor energi.

Pakar energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa melansir di CNNIndonesia.com, Selasa (19/5) menilai lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan serius terhadap APBN.

 Menurutnya, perang yang melibatkan Iran serta gangguan jalur distribusi energi internasional, termasuk di kawasan Selat Hormuz, telah menyebabkan harga energi global meningkat tajam.

"Yang dilakukan pemerintah sekarang menggunakan APBN sebagai shock absorber supaya masyarakat tidak menghadapi lonjakan harga yang bisa berdampak pada inflasi dan daya beli," ujar Fabby.

Ia menjelaskan bahwa harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) saat ini telah jauh melampaui asumsi dasar APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel. Sejak memanasnya konflik Timur Tengah, rata-rata ICP disebut berada di kisaran 100 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kebutuhan anggaran subsidi dan kompensasi energi.

 Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, subsidi dan kompensasi energi berpotensi mencapai Rp380 triliun apabila harga minyak bertahan di level tersebut hingga akhir tahun dan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS.

"Kalau subsidi dan kompensasi meningkat, ada kekhawatiran defisit APBN akan melebar," katanya.

Fabby mengingatkan bahwa lonjakan subsidi energi dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk membiayai sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perlindungan sosial, hingga program transisi energi.

"Belanja pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perlindungan sosial, dan transisi energi bisa berkurang kalau subsidi terus naik," tegasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan energi. Menurutnya, penghematan energi tidak hanya membantu menjaga kesehatan APBN, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kalau kita tidak boros energi, subsidi bisa lebih terjaga dan APBN tidak jebol," ujarnya.

Fabby juga mengingatkan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor BBM dan LPG. Dalam kondisi rupiah melemah, biaya impor energi otomatis menjadi lebih mahal sehingga efisiensi penggunaan energi menjadi semakin penting.

"Kalau kita tidak berhemat, ketahanan energi kita melemah karena sumber BBM dan LPG kita masih impor," tambahnya.

Sejalan dengan upaya penghematan energi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengimbau masyarakat untuk lebih memanfaatkan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi.

"Mendorong penggunaan transportasi publik, jadi mengurangi kendaraan dinas dan menggunakan semaksimal mungkin transportasi publik," kata Airlangga.

Kebiasaan Sederhana yang Bisa Menghemat BBM

Para ahli juga mengingatkan sejumlah kebiasaan yang dapat membantu mengurangi konsumsi BBM, antara lain:

Mengemudi dengan kecepatan stabil dan tidak terlalu kencang.

Melakukan servis kendaraan secara rutin.

Menghindari akselerasi atau menarik gas secara mendadak.

Mengurangi kebiasaan mengerem secara tiba-tiba.

Menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan.

Menjaga tekanan ban sesuai standar pabrikan.

Menghindari membawa beban berlebihan dalam kendaraan.

Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu menghemat konsumsi energi rumah tangga sekaligus mendukung upaya pemerintah menjaga keberlanjutan subsidi energi di tengah gejolak ekonomi global.

Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. APBN, subsidi energi, serta penguatan ketahanan energi nasional diharapkan mampu menjadi tameng bagi masyarakat menghadapi tekanan ekonomi global yang masih berlangsung hingga saat ini. ANS


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rupiah Tertekan Gejolak Global, Pemerintah Pastikan APBN dan Subsidi Energi Lindungi Daya Beli Masyarakat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now