![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama sepakat dengan rencana evaluasi Kemenhaj tentang Mina yang menjadi prioritas perbaikan, namun kerja keras petugas haji juga tidak boleh dilupakan./dok.istimewa |
MAKKAH | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI, Lia Istifhama mengungkapkan perlu adanya evaluasi terhadap pelaksanaan haji 2026.
Walau secara umum sudah lebih baik dari edisi-edisi sebelumnya, Lia Istifhama tidak menampik tentang perlunya evaluasi terhadap pelaksanaan ibadah haji 2026 agar pada tahun-tahun berikutnya dapat berjalan lebih baik lagi.
Apalagi, pelaksanaan haji 2026 menjadi edisi pertama yang ditanggungjawabi oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) yang baru dibentuk pada kepresidenan Prabowo Subianto.
Sebelumnya, pelaksanaan haji dan umrah ditanggungjawabi oleh Kementerian Agama (Kemenag) dengan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) yang bertanggung jawab sebagai pelaksana tugas.
Kini, pelaksanaan ibadah haji dan umrah dijalankan oleh Kemenhaj dan 2026 alias 1447 Hijriah menjadi edisi perdananya.
Menghadapi fakta ini Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf menegaskan bahwa evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 akan difokuskan pada dua aspek utama, yakni pelayanan jemaah di Mina dan penguatan istithaah kesehatan.
Menurut Menhaj Irfan, kedua hal tersebut menjadi perhatian penting untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah pada musim haji tahun depan.
Menteri yang akrab disapa Gus Irfan ini mengakui pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan relatif baik, namun masih terdapat sejumlah catatan yang perlu dibenahi.
Menanggapi pernyataan Menhaj Irfan, Anggota Komite III DPD RI Lia Istifhama mengakui bahwa Mina memang menjadi lokasi terberat bagi jemaah haji.
Walau demikian, Ning Lia mengapresiasi berbagai kebijakan Pemerintah Saudi Arabia. Salah satunya imbauan tegas demi melindungi keselamatan jiwa jemaah dari risiko cuaca panas ekstrem serta kepadatan arus manusia di area pelontaran.
Pihak otoritas Saudi Arabia menekankan agar seluruh anggota jemaah tidak bersikap terburu-buru ataupun memaksakan diri dalam melaksanakan ibadah tersebut. Pengawasan ketat akan diberlakukan, dan pergerakan menuju Jamarat saat malam hari.
"Jika dipaksakan siang hari, dengan waktunya panas seperti itu, pasti banyak jemaah yang tidak kuat. Saya melihat bahwa kebijakan dan pengawasan dari pemerintah Arab Saudi sangat memperhatikan kondisi jemaah di dunia, sampai diperhatikan sesuai fisiknya agar bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Larangan itu juga supaya tidak terjadi penumpukan. Begitupula saat wukuf, semua diperhatikan oleh pemerintah," ungkap Lia pada rilis yang diterima Senin (1/6).
Saat ini, pemerintah mulai mencari formula baru yang lebih manusiawi untuk masa depan. Misalnya, dengan tenda bertingkat mengingat area Mina yang secara geografis tidak bisa diperluas lagi.
"Opsi lainnya pernah saya sampaikan sebelumnya optimalisasi skema tanazul yakni memulangkan atau menempatkan jemaah di hotel Makkah saat mabit, bukan di tenda Mina, yang penting adalah wajibnya saja," sambung Lia.
Senator yang akrab disapa Ning Lia ini juga mengapresiasi petugas haji. Ia menyoroti para petugas yang sering kali mengabaikan kesehatan mereka sendiri demi memastikan ibadah orang lain berjalan lancar.
"Banyak petugas kita yang saking fokusnya melayani, sampai lupa menjaga kesehatan diri sendiri. Yang lebih menyedihkan, ada fenomena di mana mereka rela merogoh kocek pribadi, mengganti biaya dengan uang sendiri demi bisa mengikuti pelatihan agar bisa melayani jemaah dengan lebih pintar dan cekatan," beber Lia.
Selama pemantauan haji, Ning Lia mengatakan pemahaman taktis di lapangan memang sangat krusial. Petugas dituntut 'pintar' membaca situasi misalnya, jika cuaca sedang sangat panas menyengat, petugas harus cerdas membagi waktu pergerakan jemaah agar tidak tumbang akibat sengatan matahari.
"Meski begitu saya melihat dedikasi tinggi ini belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian yang layak terhadap kesejahteraan dan proteksi kesehatan para petugas itu sendiri. Ketiadaan jumlah petugas kesehatan yang ideal juga memperberat beban kerja mereka di lapangan," imbuhnya.
Kemudian, Kemenhaj juga tetap mendorong petugas haji tetap bekerja keras sampai rombongan jemaah tiba di tanah air usai ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
"Saya sangat apresiasi petugas haji kita, bayangkan sudah selesai Armuzna tugasnya masih panjang sampai jemaah kita pulang ke Tanah Air dalam kondisi sehat, ini perjuangan luar biasa," lanjut Lia.
Menjelang fase pemulangan jemaah ke Indonesia, Wakil Menteri Haji dan Umrah sekaligus Naib Amirul Hajj RI Dahnil Anzar Simanjuntak meminta seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tetap meningkatkan kewaspadaan dalam melayani jemaah meski rangkaian puncak haji Armuzna telah berakhir.
Dahnil meminta seluruh petugas bergerak cepat dalam menangani berbagai keluhan yang muncul di lapangan, mulai dari persoalan transportasi hingga layanan pemondokan. Menurutnya, berakhirnya fase Armuzna tidak berarti risiko yang dihadapi jemaah ikut berakhir.
Justru menurut Dahnil pada masa setelah Armuzna, kondisi fisik jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, perlu mendapat perhatian lebih karena mengalami kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah yang padat.
"Saya angkat topi dengan perjuangan petugas haji jemaah Indonesia 2026, sungguh keren perjuangannya," ujar Lia lagi.
Adapun Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kini sudah memulai fase pemulangan jemaah ke Tanah Air yang dimulai hari ini, 1 Juni hingga 30 Juni 2026.
Pada Senin, 1 Juni, kepulangan kelompok terbang (kloter) pertama Jemaah Haji Embarkasi Banten akan tiba di Tanah Air pada Selasa (2/6) pukul 09.45 WIB di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Sebanyak 390 jemaah haji akan diberangkatkan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, pada Senin malam (1/6), Waktu Arab Saudi (WAS) dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia.
Pada fase awal ini, sebanyak 17 kloter yang dijadwalkan pulang ke Indonesia. Total 6.798 jemaah akan diterbangkan secara bertahap.
Pemerintah memastikan seluruh proses kepulangan dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam operasional haji tahun ini.
Jemaah yang tergabung dalam gelombang kedua masih akan berada di Arab Saudi selama beberapa waktu ke depan. Berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2026, pemulangan jemaah gelombang kedua akan berlangsung pada 16 hingga 30 Juni 2026 melalui Madinah. ***
Editor: YAN
Baca juga: Lempar Jumrah dan Solidaritas Jamaah



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?