MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pascasarjana UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang melalui Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan
Islam (S3 MPI) menyelenggarakan kegiatan Coaching Clinic Doctoral Defense
Readiness pada Jumat (5/6/2026) sebagai bagian dari upaya strategis
mempersiapkan mahasiswa doktoral menghadapi ujian terbuka disertasi sekaligus
memperkuat kualitas lulusan doktor yang unggul, inovatif, berintegritas, dan
berdaya saing global.
Mengusung tema “Transforming
Research into Academic Excellence: Mempersiapkan Doktor MPI yang Unggul,
Inovatif, dan Berdaya Saing Global”, kegiatan yang berlangsung di
Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut diikuti oleh mahasiswa
doktoral tahap akhir yang sedang mempersiapkan ujian promosi doktor. Kegiatan
tersebut menghadirkan narasumber utama, yaitu Direktur Pascasarjana UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd., Guru Besar Pascasarjana
Prof. Dr. H. Munirul Abidin, M.Ag., dan Ketua Program Studi Doktor Manajemen
Pendidikan Islam Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd. Kegiatan berlangsung secara
interaktif dengan dipandu oleh Dr. Indah Aminatus Zuhriyah, M.Pd., Sekretaris
Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam, yang bertindak sebagai
moderator dalam seluruh rangkaian sesi Coaching Clinic Doctoral Defense
Readiness.
Dalam sambutannya,
Direktur Pascasarjana Prof. Agus Maimun menegaskan bahwa disertasi yang baik
adalah disertasi yang selesai dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Menurutnya, kesempurnaan dalam karya ilmiah tidak pernah bersifat mutlak karena
setiap penelitian akan selalu memperoleh kritik, masukan, dan penyempurnaan
dari komunitas akademik.
“Yang paling penting
adalah penguasaan teori, ketepatan metodologi, kekuatan data, dan kemampuan
menjelaskan temuan penelitian secara ilmiah. Doktor harus mampu
mempertanggungjawabkan setiap keputusan akademiknya,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan
pentingnya penguatan landasan teori melalui penggunaan sumber primer dan
referensi bereputasi, khususnya jurnal nasional terakreditasi dan jurnal
internasional bereputasi. Penguasaan teori yang
menjadi fondasi utama dalam membangun argumentasi ilmiah yang kuat. Selain
itu, mahasiswa doktoral harus mampu menentukan pendekatan, jenis penelitian,
teknik pengumpulan data, serta metode analisis data yang tepat dan konsisten
dengan fokus penelitian yang dikaji. Menurutnya, metode penelitian tidak cukup
hanya dituliskan dalam naskah disertasi, tetapi harus benar-benar diterapkan
dalam seluruh proses penelitian sehingga menghasilkan data yang valid, temuan
yang bermakna, serta kontribusi ilmiah yang nyata bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan praktik pendidikan
Pada
sesi berikutnya, Prof. Dr. H. Munirul Abidin, M.Ag. memaparkan bahwa disertasi
merupakan karya ilmiah paling kompleks pada jenjang doktoral karena
mengintegrasikan teori, metodologi, data, analisis, temuan, dan kontribusi
ilmiah. Berbagai problem umum yang masih sering dihadapi mahasiswa doktoral
adalah pada aspek penelitian yang belum tajam, research gap yang kurang kuat,
inkonsistensi metodologi, hingga analisis data yang belum mampu menghasilkan
kontribusi keilmuan yang signifikan.
Menurutnya,
kualitas disertasi sangat ditentukan oleh keselarasan antara rumusan masalah,
teori, metode, data, analisis, dan temuan penelitian.
“Disertasi
adalah latihan menjadi ilmuwan mandiri. Kuncinya adalah fokus, konsisten,
disiplin, dan mampu menunjukkan kontribusi keilmuan yang jelas,” Namun Beliau menegaskan bahwa:“Finish is
Better than Perfect.” tegasnya.
Sementara
itu, Ketua Program Studi Doktor MPI, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., memberikan
penguatan mengenai kualitas disertasi, strategi presentasi, academic defense,
dan kematangan doktoral. Ia menjelaskan bahwa ujian terbuka bukan sekadar forum
mempertahankan disertasi, tetapi merupakan forum promosi kepakaran doktoral
kepada masyarakat akademik.
“Pada
ujian terbuka yang diuji bukan hanya naskah disertasi, tetapi juga kepakaran
akademik, kedalaman keilmuan, kemampuan berpikir ilmiah, integritas akademik,
kepemimpinan intelektual, serta kontribusi penelitian bagi pengembangan ilmu
Manajemen Pendidikan Islam,” jelasnya.
Terdapat
tiga aspek utama yang harus dipersiapkan mahasiswa menuju ujian terbuka
cemerlang, yaitu kualitas disertasi, strategi presentasi dan academic defense,
serta academic excellence dan kematangan doktoral. Disertasi yang berkualitas
harus menunjukkan bebas kesalhan teknis dan standar kepatutan plagiarisme,.
keterkaitan yang kuat antara masalah penelitian, landasan teori, metode, hasil
penelitian, pembahasan, temuan kebaruhan hasil penelitain, serta implikasi
teoritis dan praktis yang dihasilkan. Setiap bagian penelitian harus membentuk
satu kesatuan yang utuh, koheren, dan saling menguatkan sehingga mampu
menunjukkan kontribusi ilmiah yang jelas.
Selain
itu, peserta juga dibekali strategi presentasi yang efektif dan teknik menjawab
pertanyaan penguji secara santun, objektif, argumentatif, dan berbasis data.
Dalam academic defense, mahasiswa dituntut mampu menjelaskan logika penelitian,
menunjukkan bukti empiris, menghubungkan temuan dengan teori yang digunakan,
serta menjelaskan posisi kebaruan penelitian yang dihasilkan. Untuk itu,
seluruh peserta didorong melakukan audit menyeluruh terhadap kualitas disertasi
yang mencakup semua bagian dari awal sampai akhir mulai dari Bab I hingga Bab
VI sebagai hasil karya penelitian yang menunjukkan seluruh komponen penelitian
benar-benar saling terhubung secara logis.ilmiah dan akademik. Presentasi yang
kuat merupakan bukti kualitas penelitian yang telah dilakukan, sedangkan
kemampuan academic defense yang unggul menjadi indikator kematangan kepakaran
doktoral seseorang. Disertasi yang utuh, proses ilmiah yang terbukti, serta
kontribusi yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan praktik pendidikan
merupakan fondasi lahirnya Doktor MPI yang unggul, berintegritas, inovatif, dan
berdampak global.
Dalam
mengantarkan lahirnya Doktor MPI yang unggul, Prof. Sutiah menegaskan tiga
domain utama yang harus dimiliki setiap lulusan doktor. Pertama, Domain pertama
adalah kepakaran dan kedalaman keilmuan. Seorang doktor harus mampu
menunjukkan penguasaan teori dan metodologi penelitian secara komprehensif,
memahami secara mendalam Body of Knowledge (BoK) Manajemen Pendidikan Islam,
menjelaskan kontribusi hasil penelitiannya terhadap pengembangan disiplin ilmu
MPI, serta mampu mengintegrasikan perspektif Islam dalam setiap proses analisis
dan pengembangan keilmuan. Doktor tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi
juga produsen ilmu yang mampu memperkaya khazanah akademik melalui temuan dan
gagasan baru.
Domain
kedua adalah integritas akademik. bahwa kualitas seorang doktor
tercermin dari kejujurannya terhadap data, komitmennya terhadap etika akademik,
keterbukaannya terhadap kritik dan masukan ilmiah, serta kemampuannya berpikir
secara reflektif, kritis, dan argumentatif. Integritas akademik merupakan
fondasi utama yang menjaga kualitas dan kredibilitas penelitian sehingga hasil
penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun moral.
Dan
domain ketiga adalah dampak dan kepemimpinan intelektual. Seorang Doktor
MPI diharapkan mampu menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi, memberikan
kontribusi teoritis, praktis, dan kebijakan bagi dunia pendidikan Islam, tampil
sebagai intellectual leader yang menjadi rujukan akademik, serta memiliki
pengaruh dan dampak pada level nasional maupun global. Dengan demikian, gelar
doktor tidak berhenti sebagai capaian akademik personal, tetapi menjadi amanah
untuk menghadirkan perubahan, inovasi, dan kemaslahatan yang lebih luas.
Melalui
kegiatan ini, Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan
komitmennya dalam menghasilkan lulusan doktor yang tidak hanya unggul dalam
penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas akademik,
kepemimpinan intelektual, kemampuan menghasilkan inovasi, dan kontribusi nyata
bagi pengembangan pendidikan Islam di tingkat nasional maupun global.
Kegiatan
Coaching Clinic Doctoral Defense Readiness menjadi salah satu ikhtiar strategis
Program Studi Doktor MPI dalam membangun budaya akademik unggul dan memastikan
setiap lulusan doktor mampu tampil sebagai ilmuwan, pemimpin intelektual,
inovator, sekaligus agen perubahan yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa,
dan peradaban.
Sebagai
penutup, para peserta diajak untuk memaknai proses doktoral sebagai perjalanan
intelektual yang tidak pernah berhenti. Sebagaimana hikmah yang disampaikan
pada akhir kegiatan:
من
ظن
أنه
وصل
فقد
بدأ
السقوط،
ومن
ظن
أنه
ما
زال
يتعلم
فقد
بدأ
الوصول
"Man
zhanna annahu wasala faqad bada’a as-suquth, wa man zhanna annahu ma zala
yata‘allamu faqad bada’a al-wushul."
"Barang
siapa merasa telah sampai, maka ia mulai terjatuh. Barang siapa merasa masih
terus belajar, maka ia sedang menuju keberhasilan."
Pesan
tersebut menjadi pengingat bahwa gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan
belajar, melainkan awal dari pengabdian ilmu untuk kemajuan masyarakat dan
peradaban dunia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?