Banner Iklan

Senator Lia Istifhama: Transformasi Digital Harus Ditopang Budaya Baca demi Kemajuan Bangsa

Admin JSN
01 Mei 2026 | 14.15 WIB Last Updated 2026-05-01T07:15:52Z
Senator Komite III DPD RI Lia Istifhama menyebut pentingnya budaya membaca untuk mendongkrak dampak positif dari transformasi digital./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Lia Istifhama menyebut bahwa transformasi digital harus ditopang dengan budaya membaca yang tinggi.

Menurut senator asal Jawa Timur ini, kemajuan teknologi digital dinilai tidak akan membawa perubahan signifikan tanpa ditopang budaya literasi yang kuat.

Pesan ini ditegaskan anggota Komite III DPD RI ini kala menjadi narasumber podcast Hari Kartini di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Rabu (29/4).

Agenda siniar ini mengusung tema Perempuan sebagai Penggerak Literasi Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045.

Mengisi siniar ini, Lia menegaskan transformasi digital telah menjadi keniscayaan. Berbagai sektor telah beradaptasi, termasuk perpustakaan yang mampu bertahan dan berkembang melalui layanan berbasis digital sejak masa pandemi.

Walau demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah instrumen bukan penentu. Sedangkan, penentu arah kemajuan bangsa menurutnya adalah kualitas pengetahuan manusia.

"Indonesia Emas 2045 bukan sekadar bicara bonus demografi atau pertumbuhan ekonomi. Negara besar adalah negara yang mampu mengelola pengetahuan. Dan itu tidak bisa dilepaskan dari budaya membaca," tutur senator 42 tahun ini.

Ia menyoroti rendahnya budaya baca di Indonesia yang masih menjadi tantangan besar. Padahal, menurut dia, generasi muda Indonesia memiliki potensi intelektual yang sangat besar. Potensi itu harus diperkaya dengan literasi agar melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan adaptif menghadapi perubahan global.

"Pena lebih tajam dari pedang. Sebuah buku bisa membangun cara berpikir, memantik gagasan, lalu diimplementasikan menjadi karya nyata dalam kehidupan," imbuhnya.

Lia menegaskan juga bahwa perempuan mempunyai posisi strategis dalam membangun ekosistem literasi keluarga. Dari rumah, budaya membaca bisa ditanamkan sejak dini, sehingga transformasi digital tidak hanya menghasilkan generasi yang melek teknologi, tetapi juga bijak, berkarakter, dan berdaya saing global.

Pada momen sama, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si menegaskan bahwa transformasi digital justru harus menjadi momentum memperluas budaya baca, bukan menjauhkan masyarakat dari buku dan pengetahuan yang berkualitas.

Digitalisasi perpustakaan hari ini menurutnya telah membuka akses literasi yang lebih inklusif, cepat, dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

"Perpustakaan modern tidak lagi hanya identik dengan ruang baca konvensional. Kini perpustakaan harus menjadi ruang kreatif, ruang diskusi, ruang belajar, sekaligus pusat inovasi yang ramah generasi muda. Digitalisasi adalah pintu masuk, tetapi budaya membaca tetap fondasi utamanya," ungkap Tiat.

Ia menambahkan, perempuan memiliki posisi kunci dalam menghubungkan transformasi digital dengan budaya literasi keluarga.

Ketika ibu mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus tetap menanamkan kebiasaan membaca di rumah, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir, karakter kuat, dan wawasan luas menuju Indonesia Emas 2045. ***

Editor: YAN

Baca juga: 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senator Lia Istifhama: Transformasi Digital Harus Ditopang Budaya Baca demi Kemajuan Bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now