![]() |
| Sumber Foto : https://share.google/images/dZko8fK3Yh7oKV5G4 |
ARTIKEL|JATIMSATUNEWS.COM: Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Berbagai tren viral muncul hampir setiap hari dan dengan cepat menyebar melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Fenomena ini memang memberikan hiburan dan ruang kreativitas, tetapi di sisi lain juga membawa dampak negatif apabila tidak disikapi secara bijak. Salah satu contoh yang belakangan menjadi sorotan adalah munculnya tren berbahaya yang ditiru oleh anak-anak hingga menimbulkan korban cedera bahkan meninggal dunia.
Fenomena viral menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Banyak pengguna, terutama anak-anak dan remaja, cenderung meniru apa yang sedang populer tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi. Mereka menganggap suatu tren sebagai sesuatu yang keren, lucu, atau menantang sehingga terdorong untuk ikut melakukannya demi mendapat pengakuan sosial. Padahal, tidak semua konten yang viral memiliki nilai positif atau aman untuk ditiru.
Salah satu kasus yang ramai diperbincangkan adalah tren aksi ekstrem yang dilakukan anak-anak setelah melihat konten di media sosial. Beberapa laporan menyebutkan adanya siswa yang mengalami cedera serius bahkan kehilangan nyawa akibat meniru gerakan berbahaya tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa rendahnya literasi digital dapat berdampak fatal. Anak-anak belum memiliki kemampuan penuh untuk membedakan mana hiburan yang aman dan mana yang berisiko.
Selain itu, media sosial juga memunculkan budaya mencari validasi. Banyak orang rela melakukan hal berlebihan demi mendapatkan perhatian, jumlah penonton, atau popularitas instan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana nilai moral dan logika terkadang dikalahkan oleh keinginan untuk viral. Akibatnya, muncul berbagai konten yang mengandung unsur kekerasan, perundungan, pelecehan, hingga pelanggaran privasi yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Menurut saya, permasalahan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau platform media sosial saja. Orang tua, sekolah, dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran digital. Orang tua perlu mengawasi penggunaan gawai pada anak serta memberikan pemahaman tentang bahaya konten negatif. Sekolah juga harus meningkatkan pendidikan karakter dan literasi digital agar siswa mampu menggunakan media sosial secara cerdas dan bertanggung jawab.
Di sisi lain,
platform media sosial seharusnya lebih tegas dalam mengawasi penyebaran konten
berbahaya. Algoritma yang hanya mengejar popularitas dan jumlah interaksi
sering kali membuat konten negatif lebih cepat menyebar. Oleh karena itu,
diperlukan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan perusahaan
teknologi untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Kesimpulannya,
tren viral di media sosial memang menjadi bagian dari perkembangan zaman yang
tidak bisa dihindari. Namun, masyarakat harus lebih bijak dalam menyikapi
setiap fenomena yang muncul. Viral tidak selalu berarti baik untuk ditiru.
Generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah
terpengaruh oleh konten yang merugikan. Dengan literasi digital yang baik,
media sosial dapat menjadi sarana edukasi dan kreativitas, bukan sumber masalah
bagi kehidupan sosial.
Penulis : Ramdhani Hasan, NIM: 1152500111, Kelas:
C



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?