![]() |
| Ilustrasi puisi spesial Hari Kartini: Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah Menuju Peradaban./AI Image |
PUISI | JATIMSATUNEWS.COM:
Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah Menuju Peradaban--untuk Hari Kartini 2026
Sumbu di Beranda
Satu abad lalu kau tulis gelap dengan tinta,
Tentang pintu terkunci dan jendela yang rapat.
Kami membacanya di bawah lampu teras rumah,
Sambil mengeja Alif di bibir anak perempuan.
Terang yang kau maksud dulu adalah sekolah,
Terang yang kami jaga kini adalah akhlak.
Sebab pintar tanpa arah hanya silau,
Sedang cahaya tanpa adab itu melukai.
Maka kami nyalakan Iqra’ setiap magrib,
Biar rumah ini jadi madrasah pertama.
Dari huruf hijaiyah yang terbata,
Lahir doa yang menembus langit kota.
Dari gelap menuju terang, kami memilih,
Tidak pergi meninggalkan rumah,
Tapi menyalakan pelita di dalamnya.
Sebab dari sinilah peradaban bermula:
Dari ibu mengaji, dari anak mengeja.
*
Surat yang Tak Dikirim ke Belanda
Kartini,
Suratmu tak lagi kami kirim ke negeri jauh.
Kami tulis di buku catatan santri putri,
“Bu, hari ini aku khatam Juz Amma.”
Gelap hari ini bukan pingitan,
Tapi layar yang menyita mata dari mushaf.
Terang bukan sekadar sarjana,
Tapi berani berkata tidak pada yang haram.
Lihatlah ustadzah di TPQ ujung gang,
Gajinya tak cukup beli sepasang sepatu,
Namun dari tangannya lahir 30 penghafal.
Ia tidak viral, tapi namanya disebut malaikat.
Inilah emansipasi kami: bebas mengabdi,
Bebas memilih khidmah daripada panggung.
Dari rumah kami urus jam’iyah,
Dari jam’iyah kami rawat peradaban.
Sebab terang yang kauperjuangkan dulu,
Kini kami jaga dengan ngaji dan ibu.
*
![]() |
| Ilustrasi puisi Hari Kartini: Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah Menuju Peradaban./AI Image |
Peradaban Berasal dari Dapur
Mereka bilang peradaban dibangun di gedung tinggi,
Kami percaya ia diseduh di dapur setiap pagi.
Antara nasi yang ditanak dan niat yang diluruskan,
Antara setrika yang panas dan sabar yang dikuatkan.
Gelap adalah rumah yang sepi dari basmalah,
Terang adalah anak yang pamitnya cium tangan.
Kartini mengajari kami bermimpi,
Al-Qur’an mengajari kami arah mimpi.
Maka biarlah perempuan NU begini:
Siang mengajar madin, malam rapat Muslimat,
Subuh mengantar anak ngaji, dhuha berdagang.
Tidak gemerlap, tapi genting peradaban.
Dari gelap menuju terang jalannya jelas,
Dari rumah menuju peradaban pintunya ikhlas.
Kami tidak menuntut cahaya,
Kami memilih menjadi cahayanya.
Untuk rumah, untuk jam’iyah, untuk Indonesia.
***
Editor: YAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?