Gugatan dari Balik Pagar Ladang
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM:
Bagi banyak orang, politik sering kali dipandang sebagai rimba yang penuh intrik, perebutan kuasa yang kering akan nilai, atau sekadar panggung bagi mereka yang haus akan pengakuan. Namun, bagi Agus Setya Wardana, pintu masuk ke dunia politik terbuka bukan karena syahwat kekuasaan, melainkan karena sebuah "gugatan" nurani yang lahir dari balik pagar ladangnya di Tosari. Selama bertahun-tahun membangun Wardana Farm, Wardana menyadari sebuah kenyataan pahit: sehebat apa pun seorang petani menguasai teknologi kultur jaringan, sekeras apa pun mereka mencangkul dari fajar hingga senja, nasib mereka tetap sangat bergantung pada selembar kertas keputusan yang ditandatangani di kantor-kantor pemerintahan.
Motivasi Wardana untuk masuk ke legislatif muncul dari akumulasi kegelisahan teman-teman sejawatnya. Ia melihat carut-marut distribusi pupuk, regulasi yang kadang tidak berpihak pada petani hortikultura, hingga minimnya perlindungan harga saat panen raya tiba.
"Saya sadar, protes dari luar pagar itu ada batasnya. Kita butuh orang yang mengerti bau tanah untuk duduk di dalam, ikut memegang palu sidang, dan memastikan anggaran rakyat benar-benar kembali ke rakyat," tuturnya.
Inilah titik tolak di mana politik tidak lagi dipandang sebagai barang kotor, melainkan sebagai jalan ibadah dan pengabdian yang paling konkret untuk memperbaiki nasib jutaan orang.
Sinergi Strategis: Mendukung Visi Kepala Daerah
Setelah dilantik menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan pada 21 Agustus 2024, Agus tidak memosisikan dirinya sebagai oposisi yang asal kritik. Sebaliknya, ia membawa semangat kolaborasi yang konstruktif. Sebagai Ketua Komisi II, ia memahami bahwa legislatif dan eksekutif adalah dua sayap dari satu burung yang sama; jika salah satu patah, pembangunan tidak akan pernah terbang tinggi. Fokus utamanya adalah menjadi mitra strategis bagi Pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam mengeksekusi program-program kerakyatan.
Wardana memberikan dukungan penuh pada visi "Pasuruan Bangkit" yang dicanangkan oleh kepala daerah. Ia melihat ada keseriusan pemerintah dalam melakukan modernisasi alat pertanian dan penguatan ketahanan pangan. Baginya, mendukung program kepala daerah yang pro-rakyat adalah bentuk tanggung jawab moral. Ia sering turun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa kebijakan yang dirancang di atas meja birokrasi benar-benar bisa diimplementasikan secara teknis oleh para petani. Ia menjadi jembatan informasi, menerjemahkan bahasa teknis birokrasi menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat di desa-desa.
Filosofi Keberlanjutan: Membangun Tak Cukup Satu Periode
Salah satu pandangan Agus yang sangat pragmatis namun visioner adalah pemahamannya tentang dimensi waktu dalam pembangunan. Ia kerap menekankan bahwa membangun sebuah daerah sebesar Kabupaten Pasuruan tidak bisa dilakukan secara instan atau dalam hitungan satu periode kepemimpinan saja. Pembangunan adalah sebuah estafet, sebuah proses berkesinambungan yang membutuhkan fondasi yang kokoh sebelum bisa memetik hasilnya.
"Jangan berharap perubahan radikal hanya dalam semalam. Kita sedang memperbaiki sistem yang sudah puluhan tahun berjalan," tegasnya.
Menurut Wardana, satu periode (lima tahun) sering kali habis hanya untuk penataan administrasi dan peletakan batu pertama program-program strategis. Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk memiliki cara pandang yang lebih luas (long-term perspective). Ia ingin memastikan bahwa program-program yang ia kawal di Komisi II saat ini memiliki landasan hukum (Perda) yang kuat, sehingga siapa pun pemimpinnya nanti, keberpihakan pada petani dan ekonomi kecil tetap menjadi prioritas yang tidak boleh diganggu gugat. Inilah wujud pengabdian yang tidak egois; membangun untuk masa depan yang mungkin tidak akan ia nikmati sendiri hasilnya.
Ekonomi Kerakyatan: UMKM sebagai Tulang Punggung
Di Komisi II, prioritas Agus sangat jelas: Ekonomi Kerakyatan. Ia percaya bahwa kekuatan sejati Kabupaten Pasuruan bukan terletak pada industri-industri besar berskala global semata, melainkan pada ribuan UMKM dan unit usaha tani yang tersebar di pelosok desa. Bagi Wardana, UMKM adalah katup pengaman ekonomi saat krisis melanda. Namun, ia juga melihat bahwa UMKM di Pasuruan masih menghadapi tantangan klasik: akses permodalan, standarisasi produk, dan jangkauan pasar digital.
Wardana berjuang keras agar alokasi anggaran daerah lebih banyak menyentuh sektor pemberdayaan ekonomi mikro. Ia mendorong revitalisasi pasar-pasar tradisional agar menjadi tempat yang layak dan modern bagi perputaran uang rakyat. Ia juga gencar mempromosikan digitalisasi UMKM agar produk khas Pasuruan, mulai dari hasil olahan pertanian hingga kerajinan tangan, bisa menembus pasar nasional bahkan internasional. Spiritnya adalah membawa "pedagang kecil naik kelas". Ia ingin agar setiap rupiah yang dianggarkan oleh Pemkab Pasuruan memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi kesejahteraan rumah tangga paling bawah.
Politik Kehadiran dan Keikhlasan
Menutup bab ini, kita melihat gaya politik Agus Setya Wardana yang sangat khas: Politik Kehadiran. Ia menolak menjadi pejabat yang hanya duduk di balik meja atau sekadar muncul saat kampanye. Ia tetaplah Agus yang dulu; pria yang siap menembus hutan dan mendaki lereng untuk menemui warganya. Baginya, jabatan adalah amanah yang sangat berat di hadapan Tuhan dan rakyat.
Keikhlasan menjadi kunci utama dalam perjalanan politiknya. Meski kini ia memiliki pengaruh besar sebagai Ketua Komisi II, ia tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang petani. Kesuksesannya di dunia politik diukur bukan dari seberapa banyak aset pribadinya bertambah, melainkan dari seberapa banyak kebijakan yang berhasil ia lahirkan untuk mempermudah hidup orang lain. Pengabdian melalui jalur politik ini adalah bukti bahwa di tangan orang yang tepat, kekuasaan bisa menjadi instrumen yang sangat indah untuk menciptakan keadilan, menebar harapan, dan menjemput kemajuan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pasuruan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?