Banner Iklan

Puasa ke-11: Inti Puasa Itu Urusan Hati, Bukan Cuma Perut, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
01 Maret 2026 | 09.45 WIB Last Updated 2026-03-01T02:45:56Z


Puasa ke-11: Inti Puasa Itu Urusan Hati, Bukan Cuma Perut, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif 

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Memasuki puasa ke-11, saya sudah merasa perlu untuk menggeser fokus dari fisik ke batin. Pada titik ini, tubuh biasanya sudah beradaptasi dengan lapar dan haus. Ritme makan berubah, pola tidur pun sudah menyesuaikan. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “apakah kita kuat menahan makan dan minum?” Pertanyaannya adalah, “apakah hati kita ikut berpuasa?”

Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat serius:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

 (رواه ابن ماجه)

Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus. Hadis ini tentu bukan sekadar teguran, melainkan analisis tajam tentang kegagalan orientasi orang yang berpuasa. Secara hukum mungkin puasanya sudah bisa dinyatakan sah. Secara lahiriah, ia tidak makan dan tidak pula minum. Namun secara batin tidak ada perubahan. Tidak ada pengendalian lisan. Tidak ada perbaikan akhlak. Tidak ada pembersihan hati. Yang berpuasa hanya tubuhnya, sementara egonya tetap dominan. Karena itu Rasulullah saw juga bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

 (رواه البخاري ومسلم)

Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Hadis ini menunjukkan bahwa inti puasa adalah pengendalian respons. Puasa bukan hanya menahan asupan, tetapi menahan reaksi. Ukuran keberhasilan puasa bukan sekadar kuatnya fisik, tetapi stabilnya emosi dan terjaganya akhlak. Saya melihat dalam realitas masyarakat, contoh seperti ini sangat mudah ditemukan. 

Ada yang mampu menahan lapar lebih dari dua belas jam, tetapi tidak mampu menahan satu komentar pedas di media sosial. Ada yang rajin tarawih setiap malam, tetapi tetap mudah tersinggung ketika dikritik. Ada pedagang yang berpuasa, tetapi tetap menaikkan harga secara tidak wajar karena momentum Ramadhan. Ada pegawai yang mengaku lelah karena puasa, lalu menjadikannya alasan untuk melayani dengan setengah hati. Secara lahiriah mereka berpuasa, tetapi apakah hati mereka ikut dididik?

Logikanya sederhana dan rasional. Jika seseorang mampu menahan kebutuhan biologis paling dasar selama berjam-jam, maka seharusnya ia lebih mampu menahan dorongan emosional yang hanya berlangsung beberapa detik. Jika lapar bisa dikendalikan, mengapa amarah tidak? Jika haus bisa ditunda, mengapa ego tidak? 

Saya membaca bahwa al-Qur’an juga sudah memberikan orientasi yang jelas tentang standar keberhasilan ibadah bukan pada fisik, misalnya ayat:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

 (QS. الشعراء: 88–89)

Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Saya memandang bahwa puasa adalah jalan menuju قلب سليم itu. Ia bukan sekadar latihan fisik, tetapi proses penyucian batin. Ia menekan kesombongan, melembutkan kepekaan sosial, dan mengendalikan hawa nafsu. Jika setelah sebelas hari berpuasa hati masih keras, lisan masih kasar, dan respons masih reaktif, maka mungkin yang berpuasa baru perut kita.

Memasuki puasa ke-11 ini, saya juga sedang berada di awal sepuluh hari kedua Ramadhan. Jika sepuluh hari pertama adalah fase adaptasi fisik, maka sepuluh hari kedua adalah fase pematangan hati. Pada tahap ini, puasa seharusnya tidak lagi terasa sekadar menahan lapar, tetapi menjadi sarana memperhalus akhlak. Saya semestinya bergerak dari sekadar menjalankan kewajiban menuju memperbaiki kualitas diri. Dari sekadar sah secara hukum menuju berhasil secara ruhani.

Sepuluh hari kedua adalah momentum untuk memastikan bahwa puasa benar-benar menembus ke dalam. Hati lebih sabar. Lisan lebih terjaga. Ego lebih terkendali. Empati lebih hidup. Jika perubahan itu mulai terasa, maka puasa telah bekerja sebagaimana mestinya. Namun jika yang tersisa hanya lapar dan haus, maka peringatan Nabi saw perlu menjadi cermin agar saya bisa melihat diri yang sebenarnya.

Karena pada akhirnya, puasa bukan sekadar urusan perut. Ia adalah urusan hati. Dan keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari kuatnya menahan lapar, tetapi dari bersihnya batin saat kita keluar darinya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa ke-11: Inti Puasa Itu Urusan Hati, Bukan Cuma Perut, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now