PANGGUNG TANPA BATAS, SURABAYA NGUDARASA
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Setiap tanggal 27 Maret, lampu panggung di seluruh penjuru bumi menyala serentak untuk merayakan **Hari Teater Dunia**.
Momen ini lebih dari sekadar pertunjukan seni. Momen ini adalah pengingat bahwa di balik tirai merah dan tata cahaya yang megah, terdapat sebuah kekuatan purba yang menyatukan kemanusiaan, yakni cerita.
Perayaan ini, sejak pertama kali digagas oleh International Theatre Institute (ITI) pada tahun 1961, membawa pesan bahwa seni peran bukanlah milik satu kelompok, melainkan bahasa universal yang melampaui sekat geografi, politik dan budaya.
Teater memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh media digital modern. Ia menawarkan kehadiran yang nyata. Di dalam gedung teater, penonton dan aktor berbagi napas yang sama di waktu yang sama. Interaksi fisik dan emosional ini menciptakan energi kolektif yang jujur. Di atas panggung, segala macam problem manusia yang kompleks, mulai dari cinta, penderitaan hingga kritik sosial, dikupas secara mendalam, dan kita semacam dipaksa untuk berkaca pada diri sendiri dan orang lain yang ada di sekitar kita.
Teater juga merupakan sebagai ruang dialog bersama. Kemampuannya untuk meruntuhkan tembok pemisan, menjadi esensi sejati dari Hari Teater Dunia.
Di tengah dunia yang kian terfragmentasi, program-program perayaan teater dapat menjadi ruang bersama untuk berdialog. Melalui lakon yang dipentaskan, kita diajak untuk melihat perspektif sang liyan (orang lain) tanpa rasa menghakimi.
Melalui tema Surabaya Ngudarasa, Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) ikut ambil bagian dalam perayaan Hatedu ini, dengan menampilkan semacam parade monolog, yang akan berlangsung 27 Maret 2026, di Galeri DKS, Kompleks Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya.
Puluhan partisipan mulai dari kalangan SD, SMP, SMA/K, Perguruan Tinggi dan Umum, bakal ikut menampilkan karya-karya monolognya. Itulah sebabnya, acara akan dimulai pada pukul 15.00 hingga 22.00.
Bagi FPKS, tentu saja menjadi ruang untuk (pertama refleksi isu sosial, di mana teater mengangkat kegelisahan masyarakat ke permukaan, memicu diskusi pasca-pertunjukan yang sehat antar penonton yang memiliki latar belakang berbeda.
Kedua, membangun empati kolektif, di mana saat kita melihat penderitaan atau kebahagiaan karakter di panggung, kita belajar berempati. Empati inilah yang menjadi fondasi utama dalam setiap dialog perdamaian.
Dan ketiga, menjadi ajang pertukaran pengalaman, di mana kebersamaan memungkinkan kita untuk saling mengenal secara lebih intim dan manusiawi.
Dengan demikian, perayaan Hari Teater Dunia - bagi FPKS - bukan hanya tentang tepuk tangan di akhir pertunjukan. Ia adalah sebuah undangan terbuka bagi kita semua untuk duduk bersama, mendengarkan cerita satu sama lain serta menemukan kembali titik-titik persamaan di tengah perbedaan yang ada.
Ayo kita ngumpul di Galeri DKS, sekalian halal-bihalal. Dan jangan lupa sawerane, rek.
Jil Kalaran
Koordinator FPKS



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?