Lebaran, Rindu Kampung & Silaturahmi Keluarga
PUISI | JATIMSATUNEWS.COM:
1. Takbir Membuka Pagar Bambu
Subuh menggesek daun kelapa, ringan.
Takbir pertama keluar sumbang dari speaker masjid lorong.
Pagar bambu berderak, engselnya minta minyak sejak 1998.
Ayah mendorong, aku menahan bagian bawah yang rengat.
Bunyi “Allahu Akbar” terbelah oleh kresek ranting.
Ibu muncul dari kebun, sarungnya basah embun.
“Masuk, nanti retak,” katanya, setengah larang setengah rindu. Di balik pagar, halaman tak berubah: ember biru, sendal hilang sebelah. Tapi wajah-wajah menambah garis; keponakan tumbuh, kumis paman memutih.
Takbir kedua meluncur, mengusir gengsi yang kubawa dari kota.
Bambu ini tak mengunci apa pun, hanya menandai batas.
Begitu dilewati, batas itu menguap seperti asap kemenyan.
Aku belajar: gerbang terpenting bukan kayu, melainkan suara yang mengundang.
Dan pagi ini kami semua diundang—tanpa tiket.
Pagar tetap bambu; dada kami yang diperbarui.
2. Sajadah Berjejak di Lantai Semen Lama
Lantai semen retak di sudut, bekas kaki meja waktu gempa kecil.
Kami gelar sajadah, warna merah pudar, pinggir terkelupas.
Jejak jidatku tahun lalu masih samar, kelam karena keringat.
Adik menaruh sajadahnya hampir menimpa jejak itu.
“Jangan rapat-rapat, nanti dosanya nempel,” gurau kakak.
Kami tertawa, suara memantul ke dinding kawung mengelupas.
Imam keluarga—ayah—tak hafal panjang, tapi lentunnya mantap.
Sujud pertama, semen menyerap dingin, mengingatkan sumur lama.
Di sujud kedua, lututku menemukan lekuk familiar, seperti pulang.
Tidak ada karpet tebal; yang ada rasa aman yang berkerak.
Jejak di semen bukan noda, melainkan alamat.
Alamat bahwa kami pernah ke sini, minta ampun, bagi ketupat.
Usai salam, sajadah dilipat, jejak tetap tinggal.
Semen tidak menghapus, hanya menyimpan.
Seperti keluarga: tak selalu mulus, tapi menahan tapak kita.
3. Ketupat Pertama untuk yang Paling Jauh Datang
Pagi Lebaran, ibu sibuk mengupas daun pisang untuk alas.
Ketupat berjejer, perut buncit, kulit janur masih hijau muda.
“Yang ini buat Arif,” tunjuk ibu, anak sulung yang naik bis semalam. Arif datang dengan kantong plastik berisi kaos kaki hadiah.
Matanya sembap, tapi ia tolak kursi: “Mandi dulu.”
Kami simpan ketupat itu di piring berbeda—agak besar.
Bukan istimewa, hanya cara ibu menandai jarak tempuh.
Saat ia duduk, ketupat pertama disodorkan tanpa bicara.
Arif potong, uapnya naik ke kening, seperti thawaf kecil.
Kunyahan pertama, “Pas,” katanya, dan kami tahu maksudnya: aku di rumah.
Saudara lain menerima jatah sama, tapi urutan penting bagi ibu.
Urutan bukan iri, melainkan peta: siapa menyeberang sungai, siapa naik gunung.
Kami habis dalam diam, hanya bunyi sendok bertemu piring.
Ketupat itu bukan hadiah, melainkan isyarat: perjalananmu dihargai.
Dan jarak—untuk hari ini—dimaafkan.
4. Salam Tempel di Pipi Berdebu
Jalan kampung belum disemen, ban mobil meninggalkan garis ganda.
Turun dari angkot, pipiku terasa panas; debu menempel, manis.
Paman menyongsong, tangan kanannya memegang topi, kiri terentang.
Salam kami tak sekadar telapak, melainkan pipi ke pipi.
Debu dari jalan berpindah, dari wajahku ke bajunya.
“Tambah coklat,” katanya, tertawa, dan aku ikut.
Di pipinya ada bekas luka lama, dulu kena pelepah salak.
Di pipiku ada sisa begadang; kami menyamakan riwayat tanpa kata.
Salam berikutnya: bibi, lalu nenek; setiap pipi meninggalkan jejak berbeda.
Anak-anak mencuri pandang, lalu meniru, menempelkan pipi ke orang salah.
Gelak tawa menambah retak di dinding, tapi dinding tetap berdiri.
Debu itu baik; ia bukti perjalanan, bukan cela.
Setelah delapan pipi, wajahku terasa penuh tanda baca.
Koma rindu, titik lelah, seru bahagia.
Salam tempel: alamat kami satu sama lain.
5. Amplop Kosong dari Kakek yang Sudah Tiada
Rijal, putra bungsu, umur tujuh, membuka tumpukan amplop di meja.
“Ini punya siapa?” tanya dia, menunjuk amplop putih polos.
Ibu menghenti lap kue, lalu menjawab lembut: “Itu kakek.”
Kakek sudah tiga Lebaran absen; sakit paru, pulang ke tanah.
Tapi pagi ini ibu tetap siapkan amplop, kosong, tanpa uang.
“Dulu kakek selalu beri kami yang kosong duluan, suruh kami tulis harapan.”
Tradisi itu hilang, tapi amplop tetap datang.
Rijal memegangnya, menimbang apakah boleh dibuka.
Ayah mengangguk; bocah itu buka perlahan, hanya udara. “Isinya doa,” bisik ibu, “yang tak pernah lekang.”
Rijal lipat amplop, masukkan ke saku, seperti membawa batu kecil.
Kami melanjutkan salam, tapi ada jeda baru di antaranya. Amplop kosong itu mengajar: ada yang hadir tanpa suara.
Ada yang memberi tanpa isi, karena pernah memberi terlalu banyak.
Kakek absen, tapi amplopnya mengingatkan cara memberi.
6. Kue Lebaran dan Daftar Anak yang Belum Nikah
Toples nastar di meja, di sebelahnya kertas kecil.
“Baru tiga yang datang, kurang lima,” gumam tante, matanya pada daftar.
Daftar itu bukan menu, melainkan nama anak lajang di keluarga besar.
Rasa keju di lidahku bercampur rasa diawasi.
Sepupu tertua angkat bicara, “Aku bawa calon tahun depan, sabar.”
Tawa pecah, toples bergetar, remah-remah jatuh ke lantai.
Ibu bilang, “Makan dulu, daftar bisa tunggu.”
Tapi daftar itu tak benar-benar menunggu; ia ikut mengunyah.
Aku ambil kastengel, renyahnya seperti alasan yang kusiapkan: sibuk, belum siap.
Keponakan kecil sibuk coret daftar dengan krayon, menambahkan nama kucing.
Kami semua tertawa, daftar jadi kertas coret-coret tak resmi.
Kue Lebaran memang manis; daftar itu pahit kalau diingat sepenuh hari.
Maka kamu kunyah pelan, biar keduanya larut bersama.
Di akhir sore, daftar hilang—mungkin masuk toples kosong.
Tinggal kue, tinggal kami, tinggal doa agar waktu tak terburu.
7. Tikar Gulung untuk Tamu yang Jadi Saudara
Tamu itu kawan ayah dari pabrik; istrinya bawa dodol garut.
Mereka datang tanpa isi bensin cukup untuk pulang malam.
“Gulung tikar besar,” kata ibu, “biar sekalian tidur sini.”
Tikar merah marun terbentang di ruang tengah, bekas duri pandan.
Anak-anak gulung di atasnya, main guling, membuat cekung baru.
Bapak tamu berseloroh, “Ini arena sumo dadakan.”
Kami semua rebah, langit-langit triplek jadi saksinya.
Cerita mengalir: PHK, panen gagal, jalan tol baru.
Tidak ada darah yang sama, tapi ada tawa yang cocok.
Subuh memukul kaca nako; tamu itu bangun paling awal, gulung tikar sendiri.
“Aw, jangan biasakan,” cegah ayah, tapi ia tetap melakukannya.
Di tikar tergulung, rasa sungkan ikut terlipat.
Mereka pulang bawa bungkus rengginang; kami terima nomor HP.
Lebaran memperbesar definisi keluarga: siapa yang bersedia tidur di lantai.
Tikar digulung, tapi hubungan tak dilipat.
8. Halaman Penuh Sandal, Dada Penuh Nama
Teras rumah tak muat sandal; meluber ke halaman tanah.
Sendal jepit, selop mentah, sandal anak berlampu—semua bercampur.
Aku duduk di tangga, mencoba cocokan pasang yang mirip.
Bibi lewat, “Biar saja; nanti mereka hafal sendiri.”
Dari dalam terdengar panggilan: Fitri! Arman! Yani! Bolak-balik.
Dada ini mendata nama seperti daftar inventori: siapa datang, siapa telat.
Kakak ipar meminjam sandal kebesaran, jalan terseok, kami terpingkal.
Sandal tertukar bukan masalah; nama tertukar—itu bahaya.
Om Taka pernah uyy kupanggil Om Jaja, ia cemberut tiga menit.
“Nama itu titipan,” ujar nenek, “jangan diobral.”
Matahari naik, bayangan sandal memendek; halaman sesak jadi lapang perlahan.
Tamu pamit, sandal berkurang, tapi dada tetap penuh.
Ada nama yang tak datang tahun ini; kursi
Halaman akan disapu; nama-nama disimpan.
Sendal bisa hilang; nama pulang selalu dikenali.
9. Foto Lebaran Tanpa Si Bungsu yang Merantau
Tahun ini kami foto di depan pintu, tradisi sejak 2005.
Kamera ponsel, timer sepuluh detik, kami atur posisi.
Kursi plastik biru sengaja dikosongkan: tempat bungsu.
Ia di Kalimantan, sinyal jelek, hanya pesan singkat: “Minal aidin.”
Ibu letakkan kopiahnya di kursi kosong, seperti topi panggung.
Ketawa dipaksakan di detik keempat; di detik ketujuh, ayah serius.
Hasil foto: sembilan orang tersenyum, satu kursi menunggu.
Kami kirim ke grup WA, bungsu balas ikon rumah dan peluk.
Ibu simpan foto itu di kulkas, ditempel magnet huruf R.
Setiap buka kulkas, kami lihat: ada yang hilang, tapi hadir simbolik.
Anak kecil tanya, “Kenapa kopiah melayang?”
Kami jawab, “Itu penjaga rindu, biar kursinya tak kedinginan.”
Foto memang datar, tapi makna bertingkat.
Bungsu absen, namun ruangnya dijaga, bukan dihapus.
Rindu paling jujur terlihat dari kursi yang dibiarkan kosong.
10. Pulang ke Peluk yang Tak Perlu Kutip Dosa
Aku sampai membawa daftar dosa, rencana minta maaf sistematis.
Poin satu: kasar soal rem motor. Poin dua: telat transfer.
Tapi ibu membuka pintu, langsung peluk, kening menekan bahuku.
Wanginya minyak kayu putih dan bawang goreng, peringatan dini.
Daftar di saku kusut; jantungku yang sibuk lapor.
Ayah menepuk punggung, sekali, cukup.
Tak ada interogasi; hanya piring meluncur ke hadapanku.
Kuletakkan daftar di bawah gelas, agar tak terbang kena kipas.
Adik meledek, “Punyamu masih? Aku sudah bakar tahun lalu.”
Kami tertawa; daftar itu kehilangan otoritasnya.
Maaf ternyata tak selalu terucap legalistik; kadang berupa sendok sayur.
Peluk mereka seperti paragraf pembuka yang memaafkan typo di kalimat ketiga.
Aku menyerah, biarkan daftar basah oleh kuah opor.
Pulang adalah tempat di mana kebaporan diterima berkat sejarah, bukan karena alasan.
Dan peluk itu, tanpa kutip dosa, justru membuatku ingin mengaku semua.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?