Lulusan Teknik Elektro UMM Berkarier di Eropa, Ungkap Pentingnya Komunikasi dan Etika Kerja
SAPA TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM: Berkarier di kancah internasional menjadi impian banyak anak muda. Namun, bagi Syariful Rizqi, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hal tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan realitas yang kini ia jalani. Pria yang akrab disapa Eki ini berhasil menembus pasar kerja Eropa sebagai Field Technical Engineer di sebuah perusahaan asal Inggris (UK), dengan penugasan klien onsite di Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA).
Eki merupakan alumnus Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMM angkatan 2015. Dalam kesehariannya, ia memegang tanggung jawab krusial untuk memastikan operasional bisnis klien berjalan tanpa gangguan. Tugas utamanya meliputi penanganan masalah perangkat lunak dan perangkat keras, desktop support, hingga network troubleshooting di sejumlah kantor klien, khususnya di wilayah Polandia.
“Tanggung jawab saya memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Prinsip kerja di sini menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti dalam setiap tugas,” ungkap Eki kepada tim humas pada 24 Februari.
Kesuksesan Eki menembus karier global tidak lepas dari pengalaman yang ia bangun selama menempuh pendidikan di UMM. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan internasionalisasi melalui International Relations Office UMM (IRO). Ia kerap memfasilitasi profesor dari luar negeri serta terlibat dalam proyek sosial kolaborasi mahasiswa lintas negara.
“Pengalaman di UMM, terutama saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pakar dari berbagai negara, sangat mengubah cara pandang saya. Jaringan internasional yang saya bangun saat itu masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang,” jelasnya.
Berbicara mengenai budaya kerja, Eki menyoroti perbedaan signifikan antara lingkungan kerja di Indonesia dan Eropa. Menurutnya, aspek work-life balance sangat dijunjung tinggi. Rekan kerjanya menghargai waktu istirahat dan tidak bekerja pada hari libur. Selain itu, hierarki organisasi serta deskripsi pekerjaan ditetapkan secara jelas, sehingga karyawan berhak menolak tugas di luar kewenangannya.
Meski bekerja di lingkungan internasional yang kompetitif, Eki mengaku tidak culture shock yang berarti. Ia justru menilai lingkungan kerjanya suportif dengan sistem meritokrasi yang profesional.
Kepada mahasiswa UMM, Eki berpesan bahwa kemampuan teknis memang penting, tetapi sikap rendah hati serta kemampuan komunikasi menjadi kunci utama. Menurutnya, komunikasi yang baik membuka peluang membangun jaringan internasional sekaligus memperoleh kepercayaan rekan kerja.
“Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” pungkasnya.(*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?