![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama mengapresiasi kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI dapil Jawa Timur, Lia Istifhama, mengapresiasi kesiapan Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam eskalasi konflik besar antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Menurut Senator Lia, sikap tersebut menunjukkan Indonesia tetap menempatkan diplomasi, perdamaian, dan stabilitas global sebagai prioritas utama.
Senator yang akrab disapa Ning Lia ini menilai langkah Presiden Prabowo bukan sekadar respons politik luar negeri, melainkan sinyal kuat bahwa Indonesia masih memiliki posisi strategis sebagai bangsa yang dipercaya mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai.
"Ini menunjukkan Indonesia tidak tinggal diam saat dunia menghadapi ketegangan. Presiden Prabowo memperlihatkan kepemimpinan yang mengedepankan dialog, bukan provokasi. Ini adalah sikap negarawan," ungkap Lia pada Minggu (1/3).
Menurut Ning Lia, di tengah situasi Timur Tengah yang makin sensitif, keberanian Indonesia menawarkan diri sebagai jembatan dialog merupakan langkah penting.
Apalagi menurutnya, konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu dampak luas, bukan hanya bagi kawasan tertentu, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi dan politik global.
Lia juga menegaskan, posisi Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memberi legitimasi moral sekaligus tanggung jawab diplomatik untuk terus menyuarakan penyelesaian damai. Karena itu, ia menyebut kesiapan Presiden Prabowo menjadi mediator sebagai langkah yang patut diapresiasi.
"Indonesia punya modal historis dan moral untuk menjadi penengah. Ketika Presiden menyatakan siap memfasilitasi dialog, itu menegaskan bahwa Indonesia hadir sebagai kekuatan perdamaian," imbuhnya.
Lia memandang langkah dari Prabowo sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Ia menegaskan, kebijakan luar negeri tidak boleh hanya berhenti pada pernyataan normatif, tetapi juga harus hadir dalam bentuk inisiatif konkret yang memberi jalan keluar.
"Bebas aktif itu artinya Indonesia tidak terseret dalam kubu konflik, tetapi aktif menghadirkan solusi. Dan ketika Presiden siap turun langsung untuk mediasi, itu adalah wujud nyata dari semangat tersebut," jelasnya.
Ia berharap semua pihak dapat menahan diri agar eskalasi tidak meluas dan membuka ruang lebih besar bagi diplomasi internasional. Ia juga mengatakan bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mendorong meja perundingan, bukan memperpanjang rantai permusuhan.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Indonesia juga menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog serta diplomasi.
Pada pernyataan resminya, pemerintah menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali situasi keamanan yang kondusif. Bahkan, apabila disetujui oleh pihak-pihak terkait, Presiden Prabowo Subianto disebut bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.
Langkah tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia. Kedubes Iran menyampaikan penghargaan atas dukungan konsisten pemerintah dan rakyat Indonesia, sekaligus menyambut kesiapan Presiden RI untuk membantu proses mediasi dalam konflik tersebut.
Respons positif dari Iran ini menurut Lia menandakan bahwa tawaran Indonesia tidak dipandang sebagai manuver simbolik, melainkan sebagai langkah diplomatik yang diperhitungkan. Maka, ia berharap pemerintah terus mengawal inisiatif ini dengan cermat, terukur, dan tetap berpijak pada kepentingan perdamaian dunia.
"Kalau ruang mediasi terbuka, Indonesia harus mengambil peran terbaiknya. Dunia membutuhkan penyejuk, dan Indonesia punya kapasitas untuk itu," tandasnya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?