![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama berbagi pengalaman tentang pendidikan tingginya hingga doktoral yang ditempuh di dalam negeri dan tanpa biaya mahal./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Dapil Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama membagikan pengalamannya menempuh pendidikan tinggi hingga doktoral di dalam negeri dengan biaya yang cukup terjangkau untuk standar pendidikan pascasarjana.
Senator Lia membahas hal ini guna menanggapi polemik yang terjadi baru-baru ini tentang lulusan beasiswa LPDP yang menetap di luar negeri dan menjadi viral karena pernyataan kontroversialnya di media sosial.
Lia tidak membahas tentang kontroversinya melainkan tentang pendidikan tinggi yang tidak selalu tentang biaya mahal dan luar negeri untuk merepresentasikan kualitas, terutama jika sampai ke jenjang pascasarjana.
Menurut Ning Lia, sapaannya, kuliah tidak selalu identik dengan biaya mahal apalagi harus ditempuh di luar negeri. Ia bahkan mempertanyakan efektivitas penggunaan dana negara seperti LPDP untuk studi luar negeri dalam jumlah besar.
"Buat apa uang negara habis banyak untuk luar negeri, sementara alumni dalam negeri juga banyak yang berhasil menjadi tokoh bangsa," ungkap Lia dengan mempertanyakan fungsi penggunaan dana negara untuk pendidikan luar negeri yang kadangkala menimbulkan drama.
Mengenang perjalanan akademiknya dari S1 hingga S3, Lia mengaku dapat menempuhnya dengan biaya relatif terjangkau.
Ketika S1 di IAIN, UNAIR, dan STID Taruna, total biaya kuliah per semester tidak sampai Rp 1,5 juta. Bahkan saat skripsi, ia bekerja untuk membiayai pendidikannya secara mandiri.
Saat berlanjut ke jenjang S2 Lia tempuh dengan beasiswa dalam negeri, lalu S3 juga mendapat bantuan BPP selama satu tahun. Secara keseluruhan, dana pribadi yang dikeluarkan hingga doktoral diperkirakan sekitar Rp 30 juta.
"Kalau niat belajar, tidak harus mahal. Jangan sampai pendidikan jadi ajang gengsi. Yang penting adalah kebermanfaatannya untuk masyarakat," ujar senator yang mendapat 2.739.123 suara dalam pemilihan umum legislatif 2024 lalu.
Menurut pandangannya, kebijakan pendidikan nasional seharusnya memperkuat perguruan tinggi dalam negeri agar semakin kompetitif dan menjadi pilihan utama generasi muda. Ia menekankan bahwa kualitas SDM bangsa dapat dibangun tanpa harus selalu mengandalkan pendidikan luar negeri.
"Pendidikan itu soal proses dan keberkahan. Kalau dalam negeri mampu, kenapa harus selalu ke luar negeri," tandasnya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?