Banner Iklan

Agus Setya Wardana: Petani Tengger Pejuang Minoritas

Anis Hidayatie
27 Februari 2026 | 05.50 WIB Last Updated 2026-02-26T22:51:02Z


Agus Setya Wardana: Petani Pejuang Minoritas

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:  Banyak orang mengenal dunia politik sebagai panggung bagi para elit dan pemegang modal, namun bagi Agus Setya Wardana atau akrab dipanggil Wardana politik adalah ladang pengabdian baru yang tak jauh beda dengan tanah pertanian yang ia garap selama bertahun-tahun.

Wardana gelisah akan pentingnya keterwakilan suara akar rumput dalam kebijakan publik. Dia adalah anomali yang menyegarkan; seorang petani milenial sukses asal Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan yang memutuskan untuk membawa "bau tanah" dan aspirasi desa ke dalam ruang-ruang rapat formal di parlemen. 

Sebagai sosok yang lahir dan besar di lingkungan keluarga petani di kawasan Tengger, Wardana memiliki ikatan emosional yang kuat dengan dinamika masyarakat pegunungan.

 Keberhasilannya mengelola Wardana Farm—sebuah usaha pembibitan kentang yang diakui secara nasional—menjadi bukti bahwa ia adalah praktisi yang paham betul seluk-beluk kendala di lapangan, mulai dari kelangkaan pupuk hingga fluktuasi harga komoditas. 

Kini, amanah besar berada di pundaknya sebagai Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan. Di posisi strategis ini, ia membawahi bidang ekonomi dan keuangan, sebuah peran yang ia gunakan secara maksimal sebagai instrumen perjuangan.

 Spirit utamanya tetap konsisten: menjadi penyambung lidah bagi para petani yang sering kali terpinggirkan oleh sistem, serta membela hak-hak kelompok minoritas dan masyarakat adat.

 Melalui kiprahnya, Wardana ingin membuktikan bahwa seorang petani tidak hanya bisa memanen hasil bumi, tapi juga bisa "memanen" kebijakan yang adil dan berpihak pada rakyat kecil. 

Agus Setya Wardana tidak bermula dari ruang hampa. Ada tiga alasan fundamental yang menjadi landasan mengapa perjalanan hidup sang "Petani Pejuang" ini perlu didokumentasikan dan diketahui publik 

1. Mematahkan Stigma "Politik itu Eksklusif"

Selama ini, profesi petani sering kali dipandang sebelah mata dalam kancah perpolitikan nasional. Petani dianggap hanya sebagai objek suara, bukan subjek penentu kebijakan. Buku ini ingin merekam jejak nyata bagaimana seorang praktisi lapangan dari lereng Bromo mampu menembus sekat-sekat birokrasi. Agus membuktikan bahwa kredibilitas (melalui kesuksesannya di Wardana Farm) dan integritas adalah modal yang lebih kuat daripada sekadar janji politik.

2. Urgensi Keterwakilan Suara Minoritas

Sebagai putra daerah dari kawasan Tengger, Agus membawa identitas yang unik. Masyarakat adat dan kelompok minoritas seringkali memiliki tantangan yang spesifik—mulai dari hak atas tanah ulayat hingga pelestarian budaya di tengah modernisasi.

 Tulisan ini hadir untuk memotret bagaimana posisi Wardana sebagai Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan menjadi "jembatan emas" bagi aspirasi masyarakat yang selama ini suaranya sering kali sayup-sayup terdengar di pusat pemerintahan.

3. Literasi Politik untuk Generasi Milenial dan Z

Di tengah apatisme anak muda terhadap politik, sosok Agus Setya Wardana muncul sebagai role model. Ia adalah bukti bahwa anak muda bisa tetap sukses di sektor agraris sekaligus berdampak di sektor legislatif. Melalui narasi dalam buku ini, pembaca diajak melihat politik bukan sebagai "barang kotor", melainkan sebagai alat perjuangan yang efektif untuk memperbaiki nasib jutaan petani dan menjaga kerukunan dalam keberagaman.

Sosok Wardana adalah tentang keberanian seorang petani yang mewakafkan dirinya untuk kepentingan yang lebih besar. Sebuah catatan tentang keberpihakan, ketulusan, dan kerja keras yang berakar dari tanah.

Dari Ladang ke Parlemen: Membawa "Bau Tanah" ke Gedung Rakyat

1. Transformasi Sang Praktisi

Keputusan Agus Setya Wardana terjun ke politik bukanlah ambisi yang tiba-tiba. Sebagai motor di balik Wardana Farm, ia sudah kenyang merasakan pahit getirnya menjadi petani: dari jeratan tengkulak hingga carut-marut distribusi pupuk. Ia menyadari bahwa sehebat apapun seorang petani bekerja di ladang, nasib mereka tetap ditentukan oleh ketukan palu di meja hijau. Inilah yang mendorongnya maju melalui Partai Gerindra, membawa misi sederhana namun berat: memastikan petani berdaulat di tanahnya sendiri.

2. Nakhoda Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan

Kepercayaan publik membawanya menduduki posisi strategis sebagai Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan. Komisi ini adalah "jantung" bagi urusan ekonomi, keuangan, dan tentu saja, pertanian. Posisi ini bukan sekadar jabatan administratif bagi Agus, melainkan benteng pertahanan untuk mengawal anggaran rakyat.

Di bawah kepemimpinannya, Komisi II dikenal sangat vokal dalam:

Pengawasan Distribusi Pupuk: Wardana sering melakukan inspeksi mendadak dan koordinasi ketat untuk memastikan jatah pupuk subsidi benar-benar sampai ke tangan petani, bukan menguap di tengah jalan.

Ketahanan Pangan & Ternak: Saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang, ia menjadi salah satu orang pertama yang mendesak pemerintah daerah untuk bertindak cepat melindungi aset peternak di Pasuruan.

Revitalisasi Pasar: Ia memahami bahwa kesejahteraan petani berkaitan erat dengan akses pasar yang sehat, sehingga perbaikan infrastruktur ekonomi desa menjadi prioritas dalam rapat-rapat banggar (Badan Anggaran).

3. Politik sebagai Alat Advokasi

Bagi Wardana, kursi Ketua Komisi II adalah pengeras suara. Jika dulu ia hanya bisa memprotes kebijakan yang tidak pro-petani dari balik pagar, kini ia memiliki otoritas untuk memanggil dinas terkait, mengoreksi peraturan daerah, dan menyisipkan kepentingan masyarakat adat Tengger dalam rencana pembangunan daerah. Ia membuktikan bahwa di tangan orang yang tepat, politik bisa menjadi alat advokasi yang sangat tajam bagi kaum marjinal.

Spirit Perjuangan: Menjadi Perisai Kaum Tani dan Suara Minoritas

1. Menjaga Marwah Petani sebagai Sokoguru Bangsa

Bagi Agus, memperjuangkan petani bukan sekadar janji kampanye, melainkan utang budi pada tanah kelahirannya. Ia memiliki spirit bahwa petani tidak boleh terus-menerus menjadi "pemadam kelaparan" yang dirinya sendiri justru kelaparan akan keadilan. Melalui perannya di legislatif, ia konsisten mendorong kedaulatan pangan yang dimulai dari hulu:

Akses Bibit Unggul: Mengingat pengalamannya di Wardana Farm, ia memperjuangkan agar petani lokal memiliki kemandirian bibit dan tidak ketergantungan pada produk impor atau perusahaan besar.

Perlindungan Harga: Ia kerap mendesak pemerintah daerah untuk hadir saat harga panen anjlok, memastikan adanya skema penyangga ekonomi agar petani tidak terjerat hutang yang mematikan produktivitas mereka.

2. Sang Penyambung Lidah Masyarakat Adat Tengger

Lahir dari rahim budaya Tengger, Agus membawa semangat inklusivitas ke dalam Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan. Ia memahami bahwa kelompok minoritas sering kali terpinggirkan bukan karena mereka lemah, tapi karena tidak ada yang paham cara menyampaikan kebutuhan mereka ke dalam bahasa birokrasi.

Pelestarian Budaya & Hak Adat: Wardana menjadi garda terdepan dalam memastikan pembangunan di wilayah pegunungan tetap menghormati tatanan adat dan lingkungan. Bagi dia, kemajuan ekonomi di wilayah wisata Bromo tidak boleh mengorbankan nilai-nilai luhur masyarakat asli.

Keadilan Sosial Tanpa Sekat: Spirit "Petani Pejuang Minoritas" yang ia usung bermuara pada satu prinsip: bahwa setiap warga negara, terlepas dari latar belakang agama maupun sukunya, berhak mendapatkan akses infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang sama di Kabupaten Pasuruan.

3. Diplomasi "Ngopi" dan Turun Lapangan

Cara Wardana memperjuangkan kelompok ini tergolong unik. Ia tidak hanya duduk di balik meja, tetapi sering terlihat mengenakan jaket lapangan dan berdiskusi di gubuk-gubuk petani atau rumah warga adat. Spirit perjuangannya adalah politik kehadiran—bahwa seorang wakil rakyat harus "bau matahari" agar tahu betul keringat dan air mata yang sedang diperjuangkannya. Nov


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Agus Setya Wardana: Petani Tengger Pejuang Minoritas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now