Banner Iklan

Seminar Guru Al-Qur’an Ngawi Dipadati 132 Peserta, Metode Jibril Jadi Magnet

Anis Hidayatie
16 Februari 2026 | 08.04 WIB Last Updated 2026-02-16T01:05:32Z

 

KH. Imam Syafi'i, S.Pd.I,M.M. Ketua Kantor Pusat BMQ At-Tartil Sidoarjo mengisi acara seminar "Standarisasi Guru Al-Qur'an" yang diselenggarakan oleh Yayasan Baitul Iman Wage bersama BMQ At-Tartil Madiun di Gedung BLKK Seni Kuliner Ponpes Nurul Ulum Purwosari Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi Jawa Timur pada Minggu pagi (15/02/2026)


NGAWI.JATIMSATUNEWS.COM:  Yayasan Baitul Iman Wage bersama BMQ At-Tartil Madiun bekerjasama mengadakan seminar "Standarisasi Guru Al-Qur'an" sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas pengajar Al-Qur'an.(15/02/2026)

Menariknya BMQ At-Tartil menggunakan metode Jibril, yang disebut tidak perlu menggunakan nada khusus atau sulit, jadi lebih mudah dipelajari oleh semua usia. Di mana metode Jibril, dimaknai mengikuti cara malaikat Jibril, saat menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebanyak 132 peserta memenuhi ruangan BLKK Seni Kuliner Ponpes Nurul Ulum Purwosari Kecamatan Kwadungan, yang berada di wilayah Ngawi Timur. Di mana semua tampak antusias dengan seminar yang dipandu oleh Ustadzah Hanik Musyarofah, S.Pd.I.

"Tentunya antusias panjenengan semua luar biasa, yang dibuktikan saat kami membuka pendaftaran yang dishare oleh ustadzah Aifa. Kami mengucapkan terimakasih atas kerelaan hati dan keridhoan panjenengan semua mengikuti acara seminar ini," tutur Ustadzah Hanik yang dalam kesehariannya mengajar di kantor cabang BMQ At-Tartil Kabupaten Madiun.

Menurut sejarah BMQ At-Tartil didirikan sejak tahun 1998 M yang bergerak dalam bidang sosial pendidikan agama, di mana pada saat itu masih tergabung dengan LP Ma'arif NU dan berpusat di PCNU Sidoarjo.

"Kata guru saya, kalau ibadah itu terpaksa atau hanya seikhlasnya saja, maka akan sulit menggapai ridho Allah," jelas KH. Imam Syafi'i, S.Pd.I., M.M. mengawali materi seminar, untuk menggugah semangat peserta. 

Makna ikhlas pada implementasinya bisa tercermin dari orang yang senantiasa beribadah dengan bersemangat. Tak hanya itu, penafsiran terkait keajaiban istighfar, yang menjadi pelindung dari turunnya azab dari Allah SWT menjadi opening untuk memastikan para peserta bersemangat mengikuti acara inti seminar.

"Untuk definisi makna tartil, saya sepakat dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Di mana dalam konsep ilmu itu, agar tidak taqlid maka harus ada ittiba'nya. Sementara untuk kesuksesan proses KBM, saya sepakat dengan Ibnu Athailah dalam Hikam, yang menyebut guru harus senang tirakat dan senang riyadloh," imbuh KH. Imam Syafi'i yang berdomisili di Sidoarjo tersebut.

Acara dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kwadungan Kyai Nursalim, Kyai Muhannan selaku Dewan Pembina Yayasan Baitul Iman Wage, lalu Ketua Yayasan Baitul Iman Wage M.Luthfi Afif Al Azhari, M.Pd.I. dan ketua panitia seminar Aifatul Mufarida, M.Pd. yang merangkap sebagai MC.

"Alhamdulillah, mugio jalinan shilatul arham dinten meniko tidak hanya mempertemukan kita, tapi juga menguatkan hati dan membawa keberkahan kagem sedoyo. Matursembahnuwun sanget kami haturkan dumateng panjenengan ingkang sampun meluangkan wekdal, tenaga, dan doa. Mugio Allah membalas setiap kebaikan panjenengan dengan ganjaran berlipat serta menjaga kito sedoyo dalam kebaikan yang terus bersambung. Hormat dan takzim kami untuk panjenengan sedoyo," tutup Aifatul Mufarida penuh haru.(Qony)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Seminar Guru Al-Qur’an Ngawi Dipadati 132 Peserta, Metode Jibril Jadi Magnet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now