Banner Iklan

Puasa, Pagar Nusa, dan Etika Kekuatan dalam Tradisi NU

Admin JSN
18 Februari 2026 | 17.01 WIB Last Updated 2026-02-18T10:01:50Z


Puasa, Pagar Nusa, dan Etika Kekuatan dalam Tradisi NU

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah pendidikan batin yang paling disiplin dalam sejarah spiritual manusia. Ia melatih manusia untuk mengendalikan diri, mengatur emosi, menata keinginan, serta membangun kesadaran moral yang dalam.

Di tengah dunia modern yang bergerak cepat, manusia justru semakin mudah kehilangan kendali. Banyak orang cerdas, tetapi mudah meledak. Banyak orang kuat, tetapi tidak tahu batas. Banyak orang berani, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan.

Maka puasa hadir bukan hanya sebagai ibadah, tetapi sebagai koreksi peradaban, bahwa kekuatan tanpa kendali diri hanya akan melahirkan kerusakan.

Dalam konteks inilah, puasa memiliki korelasi yang sangat kuat dengan Pagar Nusa. Sebab Pagar Nusa bukan sekadar organisasi bela diri. Ia adalah ruang pendidikan karakter yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, dibimbing oleh pesantren, dan ditopang oleh nilai-nilai adab.

Pencak silat dalam Pagar Nusa bukan hanya teknik gerak. Ia adalah disiplin. Ia adalah riyadhah. Ia adalah latihan jiwa.

Seorang santri Pagar Nusa tidak hanya dilatih untuk mampu menyerang, tetapi justru dilatih untuk memahami kapan harus menahan diri. Ia tidak hanya diajarkan bagaimana menghadapi lawan, tetapi juga diajarkan bagaimana menghadapi dirinya sendiri: ego, kesombongan, amarah, serta nafsu ingin diakui.

Puasa dan latihan Pagar Nusa pada hakikatnya berjalan dalam satu garis yang sama: membangun manusia yang kuat tetapi tidak arogan, berani tetapi tidak brutal, tegas tetapi tidak liar.

Inilah inti dari etika kekuatan. Sebab kekuatan tanpa etika hanya akan melahirkan ketakutan. Sedangkan kekuatan yang dibimbing moral akan melahirkan rasa aman.

Perbedaan pendekar dan preman bukan terletak pada kemampuan fisik. Keduanya bisa sama-sama kuat. Perbedaannya terletak pada nilai yang menuntun kekuatan itu. Preman digerakkan oleh nafsu, sedangkan pendekar digerakkan oleh tanggung jawab.

Karena itu Pagar Nusa hadir sebagai pagar. Pagar bukan pedang. Pagar bukan untuk menyerang. Pagar adalah simbol perlindungan, penjagaan, dan keteguhan. Pagar berdiri bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memastikan masyarakat dapat hidup tenang.

Dan Pagar Nusa dalam NU adalah penjaga ketenangan itu: menjaga ulama, menjaga tradisi, menjaga marwah, menjaga masyarakat.

Dalam tradisi NU, kekuatan bukan untuk pamer. Kekuatan adalah amanah. Sebab NU sejak awal berdiri bukan hanya membangun organisasi, tetapi membangun peradaban Islam Nusantara peradaban yang menghargai budaya, menjaga harmoni sosial, dan menempatkan akhlak sebagai puncak ilmu.

Budaya Nusantara memiliki warisan besar bernama pencak silat. Namun pencak silat baru menjadi budaya yang luhur apabila ia dibimbing oleh nilai. Dan di sinilah Pagar Nusa memainkan peran historis: mengawinkan budaya Nusantara dengan ruh pesantren.

Ketika pencak silat berada di bawah nilai NU, ia bukan sekadar tradisi fisik, melainkan tradisi moral. Ia bukan hanya gerak tubuh, melainkan gerak jiwa.

Maka Pagar Nusa bukan sekadar pelestari budaya. Pagar Nusa adalah penjaga martabat budaya.

Dalam bulan puasa, Pagar Nusa menemukan relevansi paling kuatnya. Sebab puasa mendidik manusia untuk tidak mudah reaktif. Puasa melatih kesabaran. Puasa membentuk integritas. Puasa menjadikan manusia tidak mudah terpancing konflik. Puasa mengajari manusia untuk menimbang sebelum bertindak.

Sementara dunia hari ini justru membutuhkan kader-kader yang mampu menjadi penyejuk, bukan pembakar. Dunia membutuhkan kekuatan yang melindungi, bukan yang mengancam. Dunia membutuhkan organisasi yang disiplin, bukan yang emosional.

Karena itu pesan puasa bagi seluruh kader Pagar Nusa sangat jelas: jadilah pendekar yang meneduhkan.

Jadilah kader yang hadirnya membuat masyarakat merasa aman, bukan takut. Jadilah kader yang kekuatannya menjaga, bukan menindas. Jadilah kader yang keberaniannya melahirkan ketertiban, bukan kekacauan.

Di dalam organisasi, puasa juga menjadi pengingat bahwa kekuatan barisan bukan hanya ditentukan oleh jumlah anggota, tetapi oleh persatuan dan disiplin.

Organisasi yang besar tetapi tercerai oleh ego, akan rapuh.

Organisasi yang kuat tetapi tidak disiplin, akan runtuh.

Organisasi yang ramai tetapi miskin adab, akan kehilangan wibawa.

Karena itu Pagar Nusa harus dibangun di atas tiga fondasi utama: disiplin, persatuan, dan khidmah.

Khidmah adalah jantung NU. Khidmah adalah kerja sunyi yang sering tidak terlihat, tetapi menjadi sebab kuatnya barisan. Dalam khidmah, seseorang tidak mencari nama, melainkan mencari ridha. Tidak mencari panggung, melainkan mencari manfaat.

Pagar Nusa lahir dari filosofi khidmah itu. Pagar Nusa tidak dibangun untuk melahirkan kader yang haus sorotan, tetapi untuk melahirkan kader yang siap menjaga ulama dan masyarakat, kapan pun dibutuhkan.

Pada akhirnya, puasa dan Pagar Nusa sama-sama mengajarkan satu hal: kemenangan yang sejati adalah kemenangan atas diri sendiri.

Jika puasa mampu melahirkan manusia yang beradab, maka latihan Pagar Nusa harus melahirkan pendekar yang berakhlak. Jika puasa membentuk keteguhan batin, maka Pagar Nusa harus menjadi keteguhan barisan.

Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang kuat. Yang langka adalah orang kuat yang bermoral.

Maka Pagar Nusa harus hadir sebagai jawaban: kekuatan yang menjadi rahmat.

Dan di bulan puasa ini, mari kita tegaskan kembali identitas kita:

Pagar Nusa bukan tempat mencari nama.

Pagar Nusa adalah tempat membangun makna.


La ilaha ghaliba illa billah.


Oleh: PC Pagar Nusa Kabupaten Malang

*Rofi'i


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa, Pagar Nusa, dan Etika Kekuatan dalam Tradisi NU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now