Banner Iklan

Puasa ke-9: Puasa Harusnya Menguatkan, Bukan Menjadi Beban (9), Kolom Ramadan bersama Prof. Fauzan Zenrif

Admin JSN
27 Februari 2026 | 12.50 WIB Last Updated 2026-02-27T05:58:56Z


Puasa ke-9: Puasa Harusnya Menguatkan, Bukan Menjadi Beban

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Sering kita mendengar keluhan, Ramadhan itu terasa berat. Siang menahan lapar dan harus tetap bekerja, malam beribadah dan istirahat menjadi kurang, aktivitas tetap berjalan seperti biasa tapi beban menjadi bertambah. Tubuh menjadi terasa berat, bahkan emosi kadang naik turun. Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendasar, apakah puasa memang dimaksudkan untuk menjadi beban manusia? Allah swt telah menegaskan prinsip dasar syariat puasa ini melalui firmanNya:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

 (QS. البقرة: 185)

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Ayat ini turun dalam konteks Ramadhan. Artinya, puasa bukan dirancang untuk membebani secara destruktif, melainkan untuk membangun daya tahan dan kematangan jiwa. Prinsip kemudahan ini juga sangat nyata dalam praktik Rasulullah saw. Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan:

عن عائشة رضي الله عنها مرفوعاً: ما خُيِّر رسول الله ﷺ بين أمرين قط إلا أخذ أيسرهما، ما لم يكن إثما، فإن كان إثما، كان أبعد الناس منه، وما انتقم رسول الله ﷺ لنفسه في شيء قط، إلا أن تُنْتهَك حرمة الله، فينتقم لله -تعالى-.

Setiap kali beliau diberi dua pilihan, beliau memilih yang lebih mudah selama tidak mengandung dosa. Bahkan beliau menegaskan:

دخلَ أعرابِيٌّ المسجِدَ ، والنبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ جالِسٌ ، فصلَّى ، فلما فرغَ قال : اللهمَّ ارحمني ومحمدًا ، ولَا ترحمْ معنا أحدًا ، فالتفَتَ إليهِ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فقال : لقدْ تَحَجَّرْتَ واسعًا ، فلم يلبثْ أنْ بالَ فِي المسجدِ ، فأسرعَ إليه الناسُ ، فقال النبي صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ : أهْريقوا عليْهِ سَجْلًا مِنْ ماءٍ ، أوْ دلْوًا مِنْ ماءٍ ، ثُمَّ قال : إِنَّما بُعِثْتُم مُيَسِّرينَ ولَمْ تُبْعَثوا مُعَسِّريْنَ

Seorang Arab Badui masuk ke masjid sementara Nabi saw sedang duduk. Lalu ia melaksanakan shalat. Setelah selesai, ia berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati seorang pun bersama kami.” Maka Nabi saw menoleh kepadanya dan bersabda: “Sungguh engkau telah mempersempit sesuatu yang luas.”

Tidak lama kemudian, orang itu buang air kecil di dalam masjid. Orang-orang segera mendatanginya (untuk menghentikannya), tetapi Nabi saw bersabda: “Siramkanlah di atasnya satu bejana air, atau satu ember air.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan, dan tidak diutus untuk menyulitkan.”

Dan beliau juga mengingatkan:

روى البخاري في "صحيحه" عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: «إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ».

Agama itu mudah. Siapa yang memaksakan diri secara berlebihan dalam beragama, ia akan kalah oleh agama itu sendiri.

Maka jika Ramadhan terasa menjadi beban secara batin, sering kali bukan karena ibadahnya, tetapi karena cara kita menjalaninya yang tidak tepat. Kita memaksakan ritme tanpa manajemen diri. Kita membawa ego ke dalam ibadah. Kita menjadikan Ramadhan sebagai arena performa, bukan ruang pematangan jiwa.

Padahal Ramadhan sesungguhnya adalah metode pendidikan Islam yang paling humanis. Ia mendidik tanpa memaksa, melatih tanpa menghinakan, menguatkan tanpa merusak. Ia menyentuh fisik, psikis, dan spiritual secara simultan. Selama sebulan penuh manusia dilatih disiplin waktu, pengendalian diri, empati sosial, kepekaan spiritual, dan konsistensi moral dalam satu paket pendidikan yang utuh.

Madrasah dan pesantren sebenarnya tidak perlu merasa inferior terhadap metode pendidikan luar, karena Islam telah menyediakan kerangka pedagogis yang matang salah satunya melalui praktik Ramadhan. Tinggal bagaimana nilai-nilai itu diadopsi dan diterjemahkan secara aplikatif dalam proses mendidik, melatih sabar melalui pengalaman, membangun empati melalui rasa lapar, menanamkan disiplin lewat pembiasaan, dan menguatkan spiritualitas melalui kedekatan sadar kepada Allah.

Itulah sebabnya, puasa seharusnya menguatkan. Ia melatih kontrol diri. Ia melatih stabilitas emosi. Ia melatih ketahanan mental. Orang yang mampu menahan lapar dan haus seharusnya lebih kuat menahan amarah dan dorongan ego. Di masyarakat kita sering terlihat paradoks. Menjelang berbuka, jalanan justru lebih panas. Klakson lebih keras. Emosi lebih mudah tersulut. Media sosial lebih mudah memicu perdebatan. Seolah-olah lapar menjadi pembenaran untuk kehilangan kendali. Padahal puasa adalah latihan penguasaan diri, bukan alasan untuk mudah tersulut.

Ramadhan ke-9 ini mengajak kita menata ulang cara berpuasa. Jangan jadikan puasa sebagai beban psikologis. Jangan ukur keberhasilan Ramadhan dari padatnya agenda, tetapi dari stabilnya hati. Jangan memaksakan diri melampaui kapasitas hingga ibadah berubah menjadi tekanan. Jika puasa dijalani dengan nyaman, proporsional, dan penuh kesadaran, maka berapa lama pun kita duduk berdzikir tidak terasa berat, berapa banyak pun juz yang kita baca terasa nikmat, bukan sebaliknya. Kenikmatan itu lahir bukan dari banyaknya aktivitas, tetapi dari kelapangan hati. Ketika hati lapang, ibadah menjadi energi. Ketika hati tertekan, ibadah berubah menjadi beban.

Ramadhan tidak pernah dimaksudkan untuk melemahkan manusia. Ia hadir untuk menguatkan jiwa. Dan ketika dijalani sesuai ruhnya, puasa bukan hanya menahan lapar, ia membentuk manusia yang lebih matang, dan Ramadhan menjadi energi yang menguatkan, lebih seimbang, dan lebih kokoh secara batin. Semoga kita bisa melaksanakan ajaran ini dengan baik dan benar. Amin…



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa ke-9: Puasa Harusnya Menguatkan, Bukan Menjadi Beban (9), Kolom Ramadan bersama Prof. Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now