3 Ramadan, Puasa, Emosi, dan Ujian di Jalanan Kota Malang, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif
KOLOM | JATIMSATUNEWS. COM: Hari ketiga Ramadhan biasanya mulai terasa. Badan belum sepenuhnya stabil, ritme belum kembali normal. Di titik ini saya sering merasa emosi lebih cepat naik. Hal kecil bisa memancing reaksi yang sebenarnya tidak perlu. Dan justru di situ saya merasa puasa sedang benar-benar bekerja.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Tujuan akhirnya adalah takwa. Dan takwa dalam kehidupan sehari-hari sering kali justru diuji di tempat-tempat sederhana, bukan hanya di masjid, tetapi juga di jalan raya.
Saya tinggal di Kota Malang. Siapa pun yang sering berkendara di sini pasti paham: jalannya tidak selalu lebar, banyak titik macet, perempatan padat, motor saling selip, angkot berhenti mendadak, dan kadang pengendara maju setengah-setengah ketika lampu sudah hijau. Kota ini indah, tapi jalannya penuh kejutan. Dan semua itu sangat mudah menguji emosi, apalagi ketika sedang lapar dan haus.
Kemarin, ketika perjalanan pulang ke Gondanglegi, saya mengalami satu peristiwa di perempatan Krebet, sebelah Utara PG Krebet Baru. Lampu sudah hijau, tetapi mobil di depan saya terlambat maju. Entah karena melamun atau tidak fokus. Beberapa detik terasa lama sekali. Dalam keadaan tidak puasa, mungkin saya hanya membunyikan klakson. Tapi saat itu saya sedang menahan lapar. Rasanya lebih jengkel dari biasanya. Akhirnya saya menyalip dari kiri agar tidak tertahan lebih lama.
Begitu mobil saya melaju, hati saya justru terasa tidak enak. Saya sadar, yang barusan bekerja bukan kesabaran, tapi dorongan emosi. Saya memang tidak marah besar, tetapi saya bereaksi cepat karena kesal. Di situ saya bertanya pada diri sendiri, apa bedanya saya puasa atau tidak puasa kalau respons saya masih sama?
Allah juga memuji dalam firman-Nya: الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (Ali ‘Imran: 134), yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Menahan amarah bukan hanya ketika dihina, tetapi juga ketika situasi kecil memancing kejengkelan. Jalanan Kota Malang, dengan segala hambatannya, ternyata bisa menjadi ruang latihan takwa yang sangat nyata.
Saya kemudian menyadari, puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan reaksi spontan. Mobil di depan terlambat maju mungkin hanya beberapa detik. Motor yang memotong jalan mungkin hanya sesaat. Tetapi cara saya merespons detik-detik itu menunjukkan kualitas kesabaran saya.
Hari ketiga Ramadan ini saya belajar bahwa ujian puasa sering hadir dalam bentuk yang sangat biasa, kemacetan, antrean panjang, klakson bersahutan, atau kendaraan yang tiba-tiba berhenti. Kalau saya mampu tetap tenang di tengah kondisi seperti itu, berarti puasa saya mulai membentuk karakter. Tetapi kalau saya masih mudah tersulut, berarti saya masih perlu banyak belajar.
Lapar itu sementara. Lampu merah pasti berganti hijau. Tetapi pelajaran tentang menahan diri di jalanan, di tengah hiruk-pikuk Kota Malang, itulah yang seharusnya tinggal lebih lama dari sekadar satu hari berpuasa.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?