Banner Iklan

Pesan Rektor UMM untuk Bangun Peradaban Lebih Baik, Rekonstruksi Niat di Bulan Suci

Anis Hidayatie
22 Februari 2026 | 19.47 WIB Last Updated 2026-02-22T12:47:57Z


Rekonstruksi Niat di Bulan Suci, Pesan Rektor UMM untuk Bangun Peradaban Lebih Baik

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Bulan suci Ramadan menjadi momentum penting untuk membangun ulang arah dan ketulusan hidup. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan “rekonstruksi niat” agar setiap langkah dan pekerjaan memiliki makna yang lebih dalam. Pesan reflektif ini disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam kajian Ramadan di Masjid A.R. Fachruddin UMM, Kamis (19/2/2026).

Kajian di Masjid A.R. Fachruddin ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan UMM yang bertujuan memperkuat spiritualitas sekaligus etos kerja civitas akademika, menjadikan bulan suci sebagai momentum membangun integritas, keikhlasan, dan kemajuan bersama. Dalam ceramah yang bertepatan dengan hari kedua Ramadan 1447 H tersebut, ia mengawali dengan mengajak jamaah untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan bertemu bulan suci yang penuh dengan nilai keikhlasan.

Nazar sapaan akrabnya menegaskan bahwa niat bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan harus terus diperbaiki. Menurutnya, ibadah puasa, zakat, dan infak merupakan sarana penting untuk membangun kekuatan ikhlas dalam diri manusia. Ia juga menjelaskan bahwa niat yang baik akan memberikan dampak nyata, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

“Niat itu bukan sesuatu yang statis, tetapi sesuatu yang dinamis. Harapan terdalam kita sebagai manusia adalah bagaimana niat itu terus menuju niat yang paling baik. Niat itu harus terus menuju arah yang paling baik, sehingga jika dipraktikkan dalam ibadah, dampaknya dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan konsep empty motive, yakni kondisi ketika seseorang tetap memiliki tujuan, tetapi hatinya kosong dari pamrih untuk dipuji atau memperoleh imbalan dari manusia. Menurutnya, kemurnian niat inilah yang akan memperkuat kualitas amal dan profesionalitas seseorang.

Lebih jauh, ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa seperti Jepang, Korea, dan China mampu mencapai kemajuan besar melalui perubahan pola pikir dan budaya. Ia menilai, kemajuan tersebut berawal dari kesadaran kolektif untuk terus memperbaiki diri dan bergerak menuju tahap yang lebih baik.

Dalam konteks institusi, ia menekankan bahwa keikhlasan merupakan fondasi penting bagi kemajuan bersama. Ia mengajak seluruh civitas akademika UMM, baik dosen maupun tenaga kependidikan, untuk melepaskan ego sektoral dan individual demi kemajuan institusi.

“Kemajuan tertinggi adalah ketika kita melepaskan ego. Tidak perlu ada yang tahu siapa yang paling berkontribusi, yang penting institusi kita melahirkan yang terbaik melalui semangat gotong royong atau berjamaah,” tegasnya.

Menutup kajian, Nazar mengutip Surah Al-Bayyinah ayat 5 sebagai pengingat pentingnya memurnikan ketaatan kepada Allah. Ia berharap nilai keikhlasan dapat menjadi pengawas diri dalam setiap tindakan, sehingga setiap pekerjaan profesional memiliki nilai ibadah dan memberi dampak positif bagi lingkungan.(*)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pesan Rektor UMM untuk Bangun Peradaban Lebih Baik, Rekonstruksi Niat di Bulan Suci

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now