Banner Iklan

Menanam Indonesia di Tanah Orang

Anis Hidayatie
02 Februari 2026 | 05.59 WIB Last Updated 2026-02-01T22:59:58Z

 

Keterangan gambar: Bercengkeama dengan anak-anak di sela jam istirahat, di tepi hutan belakang sekolah.


MENANAM INDONESIA DI TANAH ORANG
Oleh: Sukamto Prasetyo, S.Pd.I

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Seperti apakah Indonesia itu, Cikgu? Indonesia itu luas ya, Cikgu?

Pertanyaan itu keluar dari mulut Salina, seorang anak yang sejak lahir hidup di perkebunan kelapa sawit, Sabah-Malaysia.

 Di tempat ia tumbuh, ia lebih sering dipanggil “Indon” dan “pendatang haram”—sebutan yang telah melekat sebelum ia memahami arti sebuah negara bernama Indonesia. Salina adalah anak Warga Negara Indonesia berdarah Indonesia–Filipina : Bone dari garis ayah, Suluk dari garis ibu. Menginjakkan kaki di tanah air Indonesia bagi dirinya hanyalah sebuah mimpi yang terasa mustahil terwujud.

Sebutan “Indon” dan “pendatang haram” bukanlah hal asing bagi para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, tempat saya memulai pengabdian sebagai pengajar. Ironisnya, sebutan itu sering pula diucapkan oleh para TKI sendiri, seolah menjadi identitas yang diterima tanpa perlawanan. Hal ini tidak terlepas dari realitas bahwa banyak dari mereka datang dan bekerja tanpa dokumen resmi, demi menyambung hidup di negeri orang.


Di sinilah tantangan pertama saya sebagai pendidik dimulai. Saya mengawali tugas di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah - Malaysia, sebelum akhirnya dipindahkan ke wilayah-wilayah perkebunan kelapa sawit yang masih kekurangan tenaga pengajar. 

Proses belajar dilakukan di beberapa Tempat Kegiatan Belajar (TKB) yang jaraknya bisa mencapai 10–20 kilometer satu sama lain. Untuk menjangkaunya, saya menumpang truk pengangkut sawit dan kerap bermalam di rumah-rumah warga.

 Menemui hal-hal yang ekstrem itu sudah biasa. Jalan berlumpur yang bisa menenggelamkan setengah ban truk, banjir dan bahkan pulang malam saat mengajar bertemu ular sawa di tengah perkebunan.


Anak-anak yang saya ajar berasal dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Sebagian besar dari mereka lahir dan tumbuh di tengah ladang. Bahasa sehari-hari yang mereka gunakan adalah Melayu Malaysia, sementara Bahasa Indonesia hanya dikenal secara terbatas. 

Tantangan terbesar saya bukan sekadar mengajar membaca dan menulis, melainkan menanamkan identitas: mengenalkan Indonesia kepada anak-anak Indonesia yang belum pernah mengenal tanah airnya.


Kehidupan di perkebunan membentuk karakter dan kebiasaan tersendiri. Anak-anak turut membantu orang tua memungut biji sawit, dan pekerjaan itu sering kali dianggap lebih penting daripada sekolah, meskipun pendidikan disediakan secara gratis. 

Dalam kondisi seperti ini, saya menyadari bahwa mengejar kurikulum bukanlah prioritas utama. Yang lebih mendesak adalah membangun kesadaran berbahasa, berbudaya, dan beradab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.


Di awal mengajar, saya kerap mendengar kalimat yang terasa asing di telinga. Terkadang terdengar lucu bagi saya.

 “Cikgu, boleh saya padam papannya?” “Cikgu, boleh saya bunuh lampunya?”, “Cikgu, dorang kena kacau aku.”


Kalimat-kalimat tersebut mencerminkan keterbatasan pemahaman bahasa. Dengan kesabaran, saya perlahan menjelaskan konteks penggunaan kata—bahwa padam digunakan untuk lampu, sementara bunuh untuk makhluk hidup dan dorang untuk orang atau dia. 

Proses ini tidak instan. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membiasakan anak-anak bertutur dengan bahasa yang lebih tepat.

Pembentukan karakter pun menjadi pekerjaan besar. Ada saat-saat ketika saya harus menahan air mata, seperti ketika melihat seorang anak perempuan berambut keriting dan berkulit gelap menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan terbata-bata, sembari mengusap ingus dengan tangannya.

 Logat bicara yang kasar dan perilaku yang dianggap tidak sopan bukanlah cerminan niat buruk, melainkan hasil dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Karena itu, sebelum membuka buku pelajaran dari Indonesia, saya memilih mengajarkan adab, etika, dan rasa hormat terlebih dahulu.


Hari-hari saya diisi dengan mengajar anak-anak di pagi hari, kelas Paket A dan B di sore hari, serta Paket C pada malam hari. Di sela-sela waktu, saya menjadi tempat bertanya dan menitipkan harapan bagi para TKI—menyampaikan aspirasi mereka kepada KJRI atau pejabat yang berkunjung ke perkebunan. 

Di tempat seperti ini, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai jembatan suara bagi mereka yang tak terdengar.


Waktu akhirnya membuktikan bahwa pendidikan yang dilakukan dengan hati tidak pernah sia-sia. Salina, yang dulu bertanya tentang luasnya Indonesia, memperoleh beasiswa kuliah di tanah air dan kini menjadi pengajar bagi anak-anak Indonesia di Malaysia. 

Juswandi, yang semula bekerja di bengkel, akhirnya kembali bersekolah dan kini menjadi pegawai bank di Jawa Timur. 

Erika, yang pada usia dua belas tahun belum mampu membaca, kini telah menyelesaikan pendidikan tinggi dan menjadi pelaku usaha di Indonesia.

 Ji’is dan Jumarni kini mengabdi sebagai ASN di daerah asal orang tua mereka. 

Dan masih banyak anak-anak lain yang tumbuh, belajar, dan menemukan masa depannya.

Pendidikan karakter melalui pramuka - di depan sayaitu Jumarni, kerudung pink Salina. Di depan baju merah yang menoleh itu Ji’is.  (TKB  Sapi 2)

Esai ini bukan tentang siapa saya atau seberapa besar peran yang telah saya jalani. Esai ini adalah tentang makna pendidikan sebagai kerja kemanusiaan—tentang mengajar dengan kesabaran, ketelatenan, dan keikhlasan. 

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan upaya menumbuhkan identitas, harapan, dan masa depan. Di sanalah saya semakin yakin bahwa setiap kebaikan yang ditanam melalui pendidikan akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh. 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menanam Indonesia di Tanah Orang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now