Banner Iklan

Khidmat dan Paradoks Perjuangan NU, Pagar Nusa, dan Ujian Keikhlasan

Anis Hidayatie
12 Februari 2026 | 08.31 WIB Last Updated 2026-02-12T01:31:59Z


Khidmat dan Paradoks Perjuangan NU, Pagar Nusa, dan Ujian Keikhlasan

Oleh: Saiful Anam

Ketua Pagar Nusa Kabupaten Malang

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, khidmat bukanlah sekedar aktivitas organisasi. Ia bukan hanya soal hadir dalam rapat, berdiri dalam barisan, atau memakai atribut jam’iyyah. Khidmat adalah konsep etis spiritual yang menuntut kemurnian niat, keteguhan batin, serta kesiapan menempatkan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan pribadi.

Khidmat bergerak bukan dalam logika transaksi, melainkan dalam logika keberkahan. Ia tidak menuntut imbalan, tidak menagih penghargaan, dan tidak memaksa dunia untuk mengakui.

Maka berkhidmatlah kepada NU dan Pagar Nusa tanpa mengharap apa pun, meskipun kelak engkau mendapatkan apa-apa. Sebab dalam prinsip khidmat,  hasil bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi dan konsekuensi tidak boleh menjadi pusat orientasi.

Namun justru di sinilah letak paradoks perjuangan banyak orang tampak berada dalam barisan NU, tampak bergerak dalam struktur Pagar Nusa, tampak berdiri di panggung pengabdian, tetapi sejatinya tidak sedang mengabdi. Mereka bukan sedang menunaikan amanah perjuangan, melainkan sedang mengelola citra perjuangan.

Di permukaan, mereka lantang berkata “demi NU” dan “demi Pagar Nusa.” Akan tetapi dikedalaman niat, tidak sedikit yang sejatinya berjuang untuk kelompoknya sendiri, bahkan lebih sempit lagi untuk kepentingan nafsu dirinya sendiri. NU dan Pagar Nusa dijadikan simbol legitimasi, sementara substansi geraknya berputar pada ambisi personal.

Pada titik ini, khidmat kehilangan ruhnya. Ia berubah menjadi eksploitasi moral amal yang tampak mulia, namun diam-diam menjadi kendaraan kepentingan. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pendidikan jiwa, justru diperalat sebagai arena perebutan pengaruh.

Jam’iyyah yang semestinya menjadi wadah persatuan, berubah menjadi medan kompetisi.

Padahal NU sejak awal tidak dibangun untuk membesarkan individu. NU didirikan untuk menjaga kesinambungan sanad keilmuan, merawat tradisi keagamaan, menegakkan maslahat sosial, serta mempertahankan nilai-nilai kebangsaan. NU tidak pernah dirancang sebagai kendaraan ambisi, melainkan sebagai jalan pengabdian.

Begitu pula Pagar Nusa. Ia bukan sekadar organisasi bela diri. Pagar Nusa adalah madrasah akhlak, disiplin, dan kesetiaan. Ia mendidik kader agar kuat secara fisik, tetapi lebih kuat dalam pengendalian diri. Ia mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan ego yang bersembunyi di balik seragam dan simbol.

Sebab musuh paling berbahaya dalam perjuangan bukanlah ancaman eksternal. Musuh paling merusak adalah nafsu internal yang menyusup ke dalam niat. Ia hadir dalam bentuk yang halus: keinginan untuk selalu diakui, kebutuhan untuk selalu dihormati, dorongan untuk menang sendiri, serta hasrat menguasai ruang-ruang organisasi.

Inilah penyakit yang oleh para ulama disebut sebagai fitnah amal: ketika amal tampak suci, tetapi batin dipenuhi orientasi duniawi. Ketika pengabdian terlihat terang, namun niatnya gelap oleh kepentingan.

Maka pesan moral yang paling penting bagi kader NU dan santri Pagar Nusa adalah kesediaan untuk mengorbankan hasrat terhadap hasil. Bukan berarti menolak prestasi, bukan pula memusuhi kemajuan. Tetapi menolak menjadikan hasil sebagai pusat kesadaran.

Karena khidmat sejati bukan pertanyaan tentang “apa yang saya dapatkan,” melainkan keteguhan untuk menjawab: “apa yang harus saya tunaikan.”

Lakukan kewajibanmu sebagai santri Pagar Nusa menjaga adab, menjaga barisan, menjaga kesetiaan pada guru dan jam’iyyah. Bergeraklah tanpa harus selalu dilihat. Bekerjalah tanpa harus selalu dipuji. Sebab keberkahan tidak lahir dari sorotan, melainkan dari keikhlasan.

Jika kelak engkau mendapatkan sesuatu jabatan, penghargaan, atau posisi letakkan itu sebagai amanah, bukan sebagai kemenangan. Sebaliknya, jika engkau tidak mendapatkan apa pun, jangan merasa rugi. Sebab khidmah yang paling murni sering kali justru lahir dari kesunyian.

Di situlah NU mengajarkan kedewasaan ruhani bahwa amal tidak selalu diukur oleh manusia, tetapi selalu ditimbang oleh Allah.

Dan pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling keras berbicara tentang perjuangan. Sejarah akan menilai siapa yang paling istiqamah dalam pengabdian. ANS



Khidmat memang sunyi

Namun justru dalam kesunyian itulah nilai amal menjadi tinggi.


La ilaha ghaliba illa billah.


*Rofi'i


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Khidmat dan Paradoks Perjuangan NU, Pagar Nusa, dan Ujian Keikhlasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now