![]() |
| Anggota DPD RI, Lia Istifhama ajak mahasiswa STIKOSA AWS Surabaya dan siswa Prapanca bijak bermedia sosial kala Ramadan./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama hadir di STIKOSA AWS Surabaya pada Rabu (25/2).
Kehadiran Senator Lia Istifhama turut memberi pesan kepada mahasiswa STIKOSA AWS Surabaya dan siswa SMK Prapanca untuk bijak dalam bermedia sosial terutama kala Ramadan.
Menurut Lia, derasnya arus informasi dan riuhnya lini masa media sosial dewasa ini turut membuka ruang-ruang refleksi digital yang makin besar.
Menghadapi situasi ini, kampus tak lagi sekadar menjadi tempat bertukar gagasan akademik, tetapi juga wadah membangun kesadaran bermedia sosial yang sehat dan bertanggung jawab.
Semangat tersebut yang mengemuka dalam Forum Komunikasi Terbuka MUNIO melalui Program Puasa Digital yang digelar di STIKOSA AWS Surabaya.
Kegiatan ini turut menghadirkan Senator Lia yang mengajak mahasiswa dan pelajar untuk lebih bijak dan beretika dalam menggunakan media sosial.
Dalam forum tersebut, senator yang akrab disapa Ning Lia menekankan pentingnya penguatan fondasi keluarga dan karakter pribadi di tengah derasnya arus digitalisasi.
Menurutnya, kesibukan pekerjaan dan tekanan ekonomi sering membuat komunikasi keluarga menjadi kurang maksimal, sehingga berdampak pada cara generasi muda menyikapi media sosial.
"Menjadi pribadi hebat dan diakui bukan soal seberapa aktif di media sosial, tetapi seberapa kuat karakter dan pondasi diri yang dibangun dari keluarga," ungkap Lia.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ini juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam ilusi dunia maya. Ia mencontohkan fenomena konten viral, isu-isu negatif seperti tambang ilegal, hingga serangan siber (hacker) yang menunjukkan bahwa dunia digital memiliki risiko besar.
"Media sosial bukan dunia nyata. Jangan sampai hidup kita seperti di dalam akuarium. Sosmed hanyalah sarana komunikasi, bukan tempat kita menggantungkan identitas diri," tutur putri KH Maskur Hasyim.
Sebagai salah seorang figur publik, Lia mengaku pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan di dunia digital, yakni akun media sosialnya pernah diretas. Melalui pengalaman tersebut, ia kini lebih selektif dalam membagikan kehidupan pribadi di media sosial.
Menurut ibu dua anak ini, dunia digital memang membuka ruang kreativitas, namun tetap ada risiko yang harus disadari penggunanya.
"Di media sosial kita memang bisa berkarya. Tapi suatu saat bisa saja kita diserang, bahkan mengalami peretasan. Itu mengingatkan saya bahwa dunia maya bukan dunia nyata. Sejak saat itu, saya memilih tidak lagi memposting hal-hal pribadi dan mencoba menerima semuanya sebagai cara Allah mengingatkan kita dalam bermedia sosial," bebernya.
Politisi dengan tagline Cerdas Inovatif dan Kreatif (Cantik) ini menambahkan, penggunaan media sosial yang berlebihan kerap membuat waktu terbuang tanpa disadari. Karena itu, ia selalu mengingatkan anak-anaknya agar bijak saat menggunakan gawai.
"Saya selalu menyampaikan kepada anak saya, ketika sudah memegang handphone harus tetap bijak. Apa pun yang ada di luar sana bukan sepenuhnya dunia nyata. Yang paling penting tetap keluarga, orang tua, dan teman yang benar-benar kita kenal di kehidupan nyata," imbuhnya.
Menurutnya, media sosial seharusnya hanya menjadi sarana komunikasi dan memperluas jaringan pertemanan, bukan menggantikan hubungan sosial secara langsung.
"Media sosial itu alat komunikasi, bukan pengganti hubungan nyata. Teman yang sesungguhnya adalah mereka yang kita kenal dan hadir di kehidupan nyata," tegasnya.
Pada momen yang sama, Ketua Stikosa AWS Jonathan Kristiono mengatakan melalui Program Puasa Digital mengajak generasi muda untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tidak menguras produktivitas.
"Media sosial bukan fondasi hidup kita. Fondasi hidup adalah keluarga, empati, dan relasi nyata," ujar Jonathan.
Selain dihadiri Lia dan Ketua Stikosa AWS, juga hadir Humas STIKOSA AWS Hari Widodo, serta Dosen Ilmu Komunikasi Suprihatin bersama para mahasiswa, siswa SMK Prapanca 1 dan 2, hingga bapak-ibu dosen dan para guru yang antusias mengikuti diskusi. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?