Banner Iklan

Universitas Al-Qolam Malang Gelar Simposium ‘Erosi Epistemik’, Bahas Tantangan Otoritas Keilmuan di Era Dominasi AI.

Rahmani Hafidzi
13 Januari 2026 | 18.11 WIB Last Updated 2026-01-13T11:11:11Z


Universitas Al-Qolam Malang

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Universitas Al-Qolam Malang (UQM) menyelenggarakan Simposium & Diskusi Ilmiah bertema “Erosi Epistemik: Tantangan Otoritas Keilmuan Menghadapi Dominasi Artificial Intelligence (AI)” pada Selasa (13/1/2026). Kegiatan yang digelar di Meeting Room Rektorat UQM ini menghadirkan Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, Guru Besar Ilmu Tasawuf dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sebagai pemateri utama.

Acara tersebut diikuti jajaran pimpinan kampus, mulai dari para Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, hingga dosen UQM. Sejumlah mahasiswa Program Doktoral PAI-BSI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga turut hadir dan menambah kekayaan perspektif dalam diskusi.

Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Barizi menekankan adanya pergeseran otoritas keilmuan di era digital. Ia menjelaskan bahwa AI, yang secara ontologis bertumpu pada data, algoritma, dan model matematis, dapat memicu reduksi epistemologis. Akibatnya, ukuran validitas ilmu dan informasi tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kedalaman makna, melainkan ikut terdorong oleh faktor popularitas dan hal-hal yang viral.

Ia juga mengingatkan kembali pandangan Seyyed Hossein Nasr yang telah disampaikan sejak puluhan tahun lalu. Menurut Prof. Barizi, ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi melahirkan split personality dan split integrity—kondisi ketika manusia kehilangan keutuhan identitas dan integritasnya karena melemahkan fondasi etik serta spiritual.

Sebagai respons atas tantangan tersebut, Prof. Barizi menawarkan tasawuf sebagai penyeimbang. Ia menegaskan tasawuf bukan sekadar ruang pelarian, melainkan kerangka kesadaran yang tetap relevan di tengah kemajuan teknologi. Melalui tradisi otoritatif dan sistem sanad (mata rantai keilmuan), manusia dinilai memiliki rambu-rambu yang jelas sehingga teknologi dapat berperan sebagai mitra yang mendorong peningkatan kualitas diri, bukan menggantikan posisi manusia. Ia juga menambahkan bahwa dimensi metafisika dalam tasawuf menguatkan sisi terdalam manusia yang tidak mungkin dimiliki oleh algoritma.

Menutup sesi, Prof. Barizi berharap UQM dapat mengambil peran strategis dalam merumuskan kerangka epistemik yang kuat, sejalan dengan visi “Transformatif Berbasis Pesantren” yang diusung kampus. Integrasi nilai-nilai pesantren dengan otoritas ilmiah, menurutnya, penting untuk memperkuat ketahanan menghadapi erosi epistemik di masa mendatang. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab yang berlangsung dinamis, menunjukkan antusiasme sivitas akademika UQM dalam menyikapi perkembangan teknologi global secara kritis dan bijaksana.

Pewarta: Muh. Wafiq


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Universitas Al-Qolam Malang Gelar Simposium ‘Erosi Epistemik’, Bahas Tantangan Otoritas Keilmuan di Era Dominasi AI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now