Banner Iklan

Pelangi di Balik Senja Madrasah

Admin JSN
04 Januari 2026 | 05.25 WIB Last Updated 2026-01-03T22:30:40Z


Pelangi di Balik Senja Madrasah

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Aku adalah anak kelima dari tujuh bersaudara, dan masa kecilku tidaklah mudah. Bagiku, sekolah dan madrasah awalnya terasa sama saja, sampai suatu ketika pengalaman mengajarkanku tentang arti madrasah yang sesungguhnya. Masa remaja mengantarkanku ke gerbang madrasah; bermula dari sesuatu yang terlihat biasa, namun ternyata menjadi sangat bermakna.

Takdir seolah menempaku menjadi pribadi yang lebih kuat sejak lulus sekolah dasar. Beberapa puluh tahun silam, aku termasuk siswa berprestasi di SD dan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Bermodalkan mimpi, aku memberanikan diri mendaftar di sebuah MTsN ternama. Seleksi administrasi dan tes akademik terlampaui dengan mudah. Namun, kenyataan tak selamanya sesuai harapan. Mimpiku kandas terhalang besaran rupiah.

Berbekal mimpi yang tersisa, aku mendaftar di sebuah MTs swasta. Melalui bantuan saudara jauh, aku bisa masuk melalui jalur beasiswa prestasi. Lagi-lagi, hidup seolah mengujiku. Beasiswa yang kuterima hanya mampu bertahan selama satu tahun. Pada tahun berikutnya, aku harus rela menerima kenyataan bahwa sekolahku terhenti karena kendala biaya.

Realitas hidup membuatku mengubur semua mimpi. Empat bulan tanpa kepastian, aku tak lagi berani membayangkan indahnya masa sekolah. Hari-hari kulalui dengan rasa hampa, hanya berpikir bagaimana cara menghasilkan rupiah. Berkali-kali aku gagal mencari kerja karena terhalang usia. Namun, semesta seolah menguji ketulusanku. Perjalanan berliku membawaku kembali ke bangku sekolah; sebuah MTs tanpa nama besar menerimaku dengan tangan terbuka.

Tak banyak kata yang terucap selain syukur yang tak terhingga. Meski jarak membentang luas serta derasnya air sungai yang harus kuseberangi, langkahku tak terhenti menuju bangku sekolah. Namun, tepat di bulan Ramadhan, duniaku kembali runtuh. Ibuku berpulang, meninggalkan segenap kenangan dan seorang adik perempuan yang butuh kehangatan. Semesta benar-benar menguji keteguhanku, hingga hari-hari menjadi siswa harus kulewati dengan segenap beban.

Tanpa terasa, waktu sampai di ujung senja. Tibalah hari kelulusan, tanpa prosesi yang menyilaukan atau wisata yang menyenangkan, masa MTs kulalui dengan banyak cerita. Madrasah tanpa nama besar itu mengantarkanku pada kelulusan meski aku sempat merasa menjadi murid yang terbelakang, dan hebatnya, masalah biaya tak pernah dipermasalahkan di sana.

Realita hidup menyadarkanku, bahwa aku bukanlah Cinderella dengan sepatu kaca atau putri mahkota dengan perlindungan raja. Aku bersiap untuk menjadi pejuang rupiah, tanpa disangka semesta seolah mendengarkan harapan terdalamku. Aku ditarik kembali ke bangku madrasah tanpa nama besar untuk melanjutkan pendidikan. Dengan segenap harapan aku nikmati peran sebagai siswa dengan berbagai keterbatasan. Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa aku sudah menyelesaikan pendidikan di MA swasta.

Setelah lulus MA swasta, di sinilah pelangi mulai muncul. Berbekal sedikit potensi yang aku miliki, aku mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi sebagai staf di MTs yang dulu menolongku. Aku membangun tekad untuk mengabdikan segenap kemampuan demi membalas kebaikan madrasah. Kenyataan menunjukkan bahwa pengabdian tidaklah mudah, berbagai rintangan dan hambatan terkadang menyurutkan harapan.

Mengawali karier sebagai staf pada tahun 2007, di sinilah pendidikan yang sebenarnya baru dimulai. Aku belajar dan praktik secara langsung, kecakapan menyelesaikan masalah, serta belajar menghargai harmoni dalam keberagaman emosi serta usia. Di madrasah, aku belajar arti keikhlasan serta pengabdian, pentingnya menjadi superteam, dan bukan superman. Kesulitan berkomunikasi tentu saja sering terjadi, sehingga tak jarang memicu emosi.

Empat tahun mengabdi, aku menemukan pasangan hidup. Jika dulu tantanganku adalah idealisme, kini tantanganku adalah ekonomi. Namun, aku selalu mengingat pesan guruku: "Anggaplah madrasah ini rumah keduamu, curahkan jiwa ragamu, semoga keberkahan menyertaimu dan semoga dari keikhlasanmu memudahkan urusanmu yang lain." Wejangan sang guru laksana oase bagiku. Aku menjadi lebih legowo ketika menghadapi kesulitan. Meski terkadang sebagai manusia aku tak mampu menahan tangis, ketika realita menunjukkan bahwa uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang, aku tetap bertahan menjadi bagian dari madrasah.

Sekian purnama berlalu kenyataan mununjukkan bahwa memang Allah seperti apa yang kita prasangkakan, enam tahun menikah, usaha suamiku mulai menunjukkan hasil. Tahun 2017 kami membeli motor, 2018 membangun rumah impian meski hanya setengah jadi. Dua tahun kemudian tepatnya di bulan Juli 2020 aku memutuskan melanjutkan pendidikan atas izin dari suami.

Langkahku untuk kembali ke bangku kuliah bukanlah tanpa sebab. Ada satu momen yang selalu terpatri dalam ingatan, yaitu ketika guru besarku memberikan isyarat yang tak biasa. Beliau bukan tipe orang yang menuntut, namun sebanyak tiga kali dalam kesempatan berbeda, beliau memberikan saran dengan bahasa tersirat agar aku melanjutkan pendidikan. Awalnya aku ragu, mengingat keterbatasan ekonomi dan waktu yang harus terbagi.

Isyarat pertama kuterima dengan senyuman ragu, isyarat kedua membuatku mulai berpikir, hingga isyarat ketiga akhirnya menyadarkanku bahwa ini adalah sebuah 'panggilan'. Beliau seolah sedang menyiapkan jalan bagiku untuk menjemput takdir yang lebih baik. Dukungan tersirat dari beliau, yang kemudian diamini dengan bantuan moril dari rekan-rekan di madrasah, mengubah rasa takutku menjadi keberanian. Menjalani kuliah sambil bekerja ternyata tidak sesunyi yang kubayangkan; ada tawa rekan sejawat yang meringankan beban, dan ada doa tulus sang guru yang menjadi bahan bakar semangatku. Kebahagiaan terbesarku bukan hanya saat menerima ijazah S-1 pada 2024 lalu, melainkan saat menyadari bahwa madrasah telah menjadi tempatku bertumbuh, dihargai, dan didorong untuk melampaui batas kemampuanku sendiri. Rasanya seperti mimpi, aku yang dulu pernah putus sekolah tak pernah berani berharap bisa menjadi seorang sarjana.

Lebih dari sekadar tempat mengabdi, madrasah telah menjadi rahim kedua tempatku terlahir kembali sebagai pribadi yang lebih utuh. Di sini, aku menemukan keluarga baru yang tidak hanya berbagi beban kerja, tetapi juga berbagi kasih sayang yang tulus. Madrasah memberiku ruang yang luas untuk mendewasakan emosi, mengajarkanku bagaimana tetap tegak berdiri meski badai persoalan datang silih berganti. Di koridor-koridor madrasah ini pula, aku melihat langsung keteladanan nyata tentang arti kehidupan dari para guru dan rekan sejawat; tentang bagaimana pengabdian bisa melampaui hitungan angka, dan bagaimana keikhlasan bisa mengubah lelah menjadi lillah. Saat duniaku mulai terasa runtuh dan semangatku memudar, dekapan hangat serta semangat dari keluarga madrasah inilah yang selalu menjadi jangkar, menguatkan langkahku untuk terus berjalan dan meyakinkanku bahwa di madrasah, aku tidak pernah berjuang sendirian.

Tanpa disangka kebahagiaan kembali menghampiri, tahun 2022 kami berhasil merenovasi rumah menjadi rumah impian yang layak huni. Tahun 2024 menjadi puncak syukur saat aku menyelesaikan S-1 dan kami mampu memiliki mobil impian. Dari perjalanan ini, aku ingin menunjukkan bahwa menjadi bagian dari madrasah bukanlah hal yang memalukan. Dari madrasah, kita menemukan kematangan emosi serta keberkahan. Secara logika, mungkin pendapatan kami tak sebanyak mereka yang bekerja di luar negeri, namun keberkahan memberikan kecukupan dan ketenangan. Banggalah menjadi bagian dari madrasah, karena dari sini kita bisa mengantarkan banyak anak menuju kesuksesan.


Tentang Penulis

Namaku Hanis Sholichah, biasa dipanggil Hanis. Aku adalah pecinta warna biru karena bagiku ia melambangkan ketenangan dan kedamaian tanpa harus menuntut perhatian. Aku sangat menyukai alam bebas; selain memberikan rasa kebebasan, alam mengajarkanku cara untuk bertahan. Meski kerasnya realita hidup sempat membuatku melupakan mimpi masa sekolah untuk menjadi penulis, kini melalui Madrasah, aku kembali menemukan keberanian untuk merangkai kata dan berbagi cerita.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pelangi di Balik Senja Madrasah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now