Banner Iklan

Menemukan Cinta dalam Pengabdian

Admin JSN
03 Januari 2026 | 21.48 WIB Last Updated 2026-01-04T13:50:52Z


Menemukan Cinta Dalam Pengabdian
 

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Sejak kecil, tidak pernah terbesit dalam benak saya untuk menjadi seorang pendidik. Namun, seorang guru yang juga merupakan tetangga saya kerap berpesan kepada ibu agar kelak saya menempuh Pendidikan tinggi, beliau berharap setelah meraih gelar sarjana, saya dapat Kembali untuk mengabdi di Lembaga Pendidikan milik beliau.

Tepat pada tahun 2008, usai menyelesaikan Pendidikan di Ponpes Wahid Hasyim Bangil, saya mulai mengabdikan diri sebagai pengajar di MI Hidayatul Mubtadi’ien Ketapan Rembang. Saat itu saya sedang menempuh studi semester enpat di STAI Pancawahana Bangil. Siswa dilembaga kami tidaklah banyak, yang mana Sebagian besar merupakan santri dari pondok pesantren yang berada dalam satu naungan yang sama. Mereka rata-rata berasal dari Jawa Barat dan Kalimantan.

Pengalaman pertama saya adalah mengajar kelas 6. Karena belum memiliki bekal pengalaman mengajar, saya hanya mengandalkan metode ceramah setelah membaca materi. Namun setelah beberapa hari, saya menyadari bahwa siswa kurang responsif. Merasa ada yang tidak beres, saya mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata, mereka merasa kurang nyaman dan merindukan metode mengajar guru sebelumnya. Teguran halus dari realita ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk mulai mempelajari berbagai metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Mengingat akses internet pada masa itu masih sangat terbatas, saya harus mencari cara lain untuk mengembangkan diri. Saya mulai aktif melakukan observasi serta belajar dari rekan-rekan guru senior di Lembaga, serta menyerap ilmu kependidikan dari dosen dikampus. Berbekal hal tersebut, saya mulai mempraktikkan metode baru seperti belajar langsung ke alam pada mata Pelajaran IPA tentang perkembangbiakan tumbuhan dan hewan serta menyelipkan permainan edukatif di sela-sela materi. Suasana kelas yang semula kaku mulai mencair. Respon siswa yang awalnya dingin menjadi antusias, dan hubungan kami pun menjadi lebih akrab. Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa menjadi guru bukan sekedar menyampaikan materi, melainkan tentang bagaimana memenangkan hati siswa agar mereka senang untuk belajar.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Pada Mei 2021, sebuah kabar bahagia datang, saya terpanggil untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam jabatan di LPTK Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Karena situasi pandemi Covid-19, Angkatan kami menjadi pelopor PPG yang dilaksanakan 100% secara daring kurang lebih selama tiga bulan.

Masa-masa itu tidaklah mudah. Sebagai Angkatan daring pertama, kami menghadapi tantangan teknologi dan kemandirian dalam mencari referensi di dunia maya. Pikiran dan tenaga benar-benar terkuras demi menuntaskan setiap tugas. Namun di balik lelahnya proses tersebut, saya merasakan manfaat yang sangat banyak. Saya mulai mampu Merancang perangkat pembelajaran, Menyusun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hingga membuat media dan video pembelajaran berbasis abad 21.

Ada rasa bangga yang tak terlukiskan saat saya menyadari bahwa keterbatasan fisik karena daring tidak menghalangi saya untuk berkembang. Seluruh perjuangan itupun terbayar lunas dengan rasa syukur yang mendalam ketika saya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang guru professional. Momen kelulusan itu bukan akhir dari sebuah pelatihan, melainkan bahan bakar baru bagi semangat saya untuk terus mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa dengan kualitas yang lebih baik.

Namun, karena rasio jumlah murid di Lembaga lama tidak mencukupi, saya harus berpindah ke Lembaga Pendidikan lain yang masih berada dalam satu kecamatan. Perpindahan ini menuntut kemandirian yang lebih besar. Sebab jarak sekolah baru mencapai 5 kilometer dari rumah.

Hal inilah yang akhirnya memaksa saya keluar dari zona nyaman, saya harus belajar mengendarai sepeda motor. Sebagai seseorang yang sebelumnya tidak berani berkendara sendiri, pikiran untuk selalu mengandalkan orang lain untuk antar jemput terasa kurang bijak. Dengan tekad bulat dan sedikit rasa gugup, saya mulai memberanikan diri memegang kendali.

Saya masih ingat betul pengalaman pertama kali berangkat kemadrasah. Jarak yang seharusnya singkat, saya tempuh dalam waktu hamper setengah jam karena saking hati hatinya. Bahkan ada momen perkenalan yang tak terlupakan saat saya sempat terjatuh di jalan. Meski sempat gemetar dan menahan malu, kejadian itu justru menjadi bumbu cerita yang menyenangkan. Setiap luka kecil di perjalanan adalah saksi bisu betapa besarnya keinginan saya untuk tetap hadir di kelas demi murid-murid tercinta.

Diera digital ini, jendela ilmu terbuka begitu lebar. Saya menyadari bahwa media dan metode pembelajaran kini semakin beragam. Bagi saya, media sosial seperti facebook dan Instagram bukan lagi sekedar sarana hiburan. Melainkan ruang kelas raksasa tempat saya memanen ide-ide kreatif . saya pun aktif menambah wawasan melalui pelatihan di platform pintar kemenag agar kualitas pengajaran saya ters meningkat.

Keinginan terbesar saya adalah menyajikan pembelajaran yang bermakna, berkesan sekaligus menyenangkan. Tak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat siswa yang antusias dalam belajar. Materi perkalian yang semula dianggap sulit, kini berubah menjadi petualangan seru melalui metode jarimatika dan puzzle perkalian. Kami juga bersama-sama membuat kamus kotak untuk mencari kosa kata baru, serta menjelajahi bentuk permukaan bumi melalui pop up book tiga dimensi yang kami buat dengan penuh tawa.

Disela-sela materi, ice breaking yang ceria selalu menjadi bumbu penyemangat yang membuat suasana kelas kembali menjadi segar. Melihat mereka begitu aktif dan berani berpendapat, bahkan berseru tidak mau istirahat karena asyik belajar , adalah sebuah pencapaian yang menghangatkan hati. Di titik ini saya menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tetapi tentang merayakan kebahagiaan belajar Bersama mereka setiap hari.

Menjadi guru ternyata bukan sekedar tantangan menjalankan profesi, melainkan tantangan panggilan hati untuk terus bertumbuh. Kebahagiaan sejati bagi seorang guru bukan lagi saat meraih gelar, melainkan saat melihat binar antusiasme murid-murid yang tak ingin beranjak dari kelas karena asyiknya belajar dan ketika berhasil merubah kesulitan menjadi kemudahan bagi murid-muridnya. Menjadi guru adalah sebuah kehormatan, sebuah profesi yang memungkinkan saya untuk terus belajar meski sedang mengajar Saya bangga menjadi seorang guru madrasah, sebagai sosok yang mampu menginspirasi mereka untuk tidak pernah berhenti untuk bermimpi.


Oleh: Suaibah, S.Pd.I (MI Nurul Huda Sumberglagah, Rembang)



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menemukan Cinta dalam Pengabdian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now