Madrasah sebagai Rumah: Merawat Luka, Menumbuhkan Harapan, Memanusiakan Manusia, Latihan Presentasi di Depan Kelas
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Lingkungan madrasah kami berdiri sederhana, tidak mewah, namun penuh denyut kehidupan. Setiap pagi, langkah-langkah kecil para siswa menyusuri halaman madrasah dengan seragam yang sama, tetapi membawa cerita hidup yang berbeda-beda. Di balik senyum yang mereka paksakan, tersimpan jiwa-jiwa yang rapuh, anak-anak yang tumbuh dalam rumah tanpa keutuhan, tanpa pelukan hangat yang seharusnya mereka rasakan setiap hari.
Banyak dari mereka adalah anak broken home. Ada yang pulang ke rumah tanpa sapaan ayah, ada yang hidup bersama ibu yang harus bekerja keras sendirian, bahkan ada yang lebih sering berteman dengan kesepian daripada dengan keluarga. Kekurangan kasih sayang itu membentuk sikap yang beragam, ada yang pendiam dan menutup diri, ada yang mudah tersinggung, ada pula yang berusaha keras menjadi “kuat” padahal hatinya lelah. Mereka datang ke madrasah membawa beban yang sering kali terlalu berat untuk usia mereka.
Di kelas, jiwa-jiwa rapuh itu tampak dalam tatapan mata yang kosong, dalam pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sebenarnya meminta perhatian, dan dalam perilaku yang kadang disalahpahami sebagai kenakalan. Mereka bukan anak-anak yang ingin bermasalah; mereka hanya ingin diperhatikan, dimengerti, dan diterima. Madrasah bagi mereka sering kali menjadi satu-satunya tempat yang terasa aman, tempat mereka bisa bernapas sejenak dari kerasnya kehidupan di luar.
Dalam kondisi seperti itu, menjadi guru bukan hanya tentang mengajar mata pelajaran. Guru dituntut menjadi pelita di tengah gelapnya perasaan anak-anak. Setiap senyum guru, setiap sapaan hangat, dan setiap kesediaan untuk mendengarkan menjadi obat bagi hati yang luka. Guru harus menghadirkan keceriaan melalui candaan kecil di kelas, melalui kegiatan yang membuat mereka merasa mampu, dan melalui penghargaan atas hal-hal sederhana yang mereka capai.
Membahagiakan siswa-siswi di madrasah bukan berarti menghapus luka mereka, tetapi menemani proses penyembuhannya. Guru belajar menanamkan harapan, bahwa meski lahir dari keluarga yang tidak utuh, mereka tetap utuh sebagai manusia. Bahwa masa depan tidak ditentukan oleh masa lalu, tetapi oleh keyakinan dan kesempatan yang diberikan hari ini.
Di madrasah inilah, kasih sayang sering kali tidak datang dari rumah, tetapi tumbuh dari ruang kelas. Dari guru yang mau mendengar tanpa menghakimi. Dari lingkungan yang menerima tanpa syarat. Dari kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Dan di situlah makna kebahagiaan sejati bagi seorang guru, ketika madrasah mampu menjadi rumah, dan anak-anak yang rapuh perlahan belajar tersenyum kembali. Madrasah selalu saya yakini bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan. Madrasah adalah ruang hidup, tempat hati belajar memahami, tempat jiwa menemukan arah, dan tempat luka perlahan sembuh oleh kasih sayang.
Sebagai guru IPA sekaligus pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) di MTs.N 5 Pasuruan, saya menemukan makna kebahagiaan yang paling utuh justru bukan dari laboratorium atau lembar nilai, melainkan dari perjalanan manusia yang tumbuh bersama di dalamnya. Ekstrakurikuler KIR bagi saya adalah ruang kecil penuh keajaiban. Di sanalah anak-anak belajar berpikir kritis, meneliti, dan menuliskan gagasan. Namun lebih dari itu, KIR menjadi ruang aman, tempat anak-anak merasa diterima apa adanya.
Salah satu anggota KIR adalah siswa yang istimewa, inklusif dalam tanda petik. Ia datang dengan keunikan, kepekaan emosi yang tinggi, dan pikiran yang sering kali terlalu ramai oleh pertanyaan-pertanyaan hidup yang belum semestinya dipikul oleh seusianya. Ia tumbuh dalam keluarga broken home, ikut ibunya, tanpa pernah benar-benar mengenal sosok ayah. Kekosongan itu menjelma menjadi overthinking yang tak henti-henti. Ia sering merasa tidak dipahami, tidak diterima, bahkan tidak disukai oleh teman-temannya di sekolah. Di balik senyum yang ia paksa tampilkan, tersimpan kegelisahan yang mendalam. Lambat laun, ia menjadikan saya tempat bersandar, bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai teman curhat. Ia bercerita tentang rumah, tentang sekolah, tentang rasa sepi yang sering datang tanpa diundang.
Saat itu saya sadar, tugas guru di madrasah tidak berhenti pada menyampaikan materi. Guru adalah pendengar, penguat, dan pengingat bahwa setiap anak berharga. Di sela-sela bimbingan KIR, di antara diskusi metodologi penelitian dan revisi karya tulis, kami berbagi tawa dan air mata. Keceriaan kecil lahir dari hal-hal sederhana, candaan saat penelitian gagal, senyum puas ketika ide akhirnya tersusun rapi, dan rasa lega ketika ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Madrasah perlahan menjadi rumah kedua baginya. Tempat ia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Tempat ia belajar bahwa kekurangannya bukanlah aib, melainkan cerita hidup yang bisa memberi makna. Dari situlah kebahagiaan mulai tumbuh pelan, namun nyata.
Suatu hari, datang kabar tentang LKTI Tingkat SMP/MTs se-Pasuruan Raya Gebyar Riset III MAN Kota Pasuruan. Dua siswa kembar dengan latar belakang yang sama, broken home memberanikan diri untuk ikut serta. Keputusan itu bukan hal mudah. Mereka membawa beban cerita hidup yang berat, namun juga semangat yang luar biasa. Proses bimbingan dipenuhi tantangan. Ada lelah, ada ragu, bahkan ada momen ingin menyerah. Namun madrasah mengajarkan satu hal penting: tidak ada mimpi yang terlalu tinggi jika diperjuangkan bersama.
Hari perlombaan tiba di MAN Kota Pasuruan. Saat presentasi berlangsung, sesuatu yang luar biasa terjadi. Salah satu siswa menyampaikan karya ilmiahnya dengan penuh keberanian. Ia tidak hanya memaparkan data dan analisis, tetapi juga menyelipkan pengalaman pribadinya tentang rasa kehilangan, perjuangan menerima diri, dan bagaimana ilmu pengetahuan menjadi jalan untuk berdamai dengan hidup. Presentasinya mengalir jujur, menyentuh, dan memukau.
Para juri dari dosen Universitas PGRI Wiranegara (Uniwara) Pasuruan terdiam, lalu tertegun. Bukan karena slide yang megah, tetapi karena kejujuran yang lahir dari hati. Dan ketika pengumuman itu disampaikan, Juara I LKTI Tingkat SMP/MTs se-Pasuruan Raya Gebyar Riset III MAN Kota Pasuruan, air mata bahagia tak terbendung. Alhamdulillah. Bukan hanya piala yang diraih, tetapi harga diri, kepercayaan diri, dan harapan baru.
Saat itu saya benar-benar merasakan arti bahagia menjadi bagian dari madrasah. Kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka atau peringkat, tetapi dengan perubahan hidup seorang anak. Dari yang merasa tidak berarti, menjadi anak yang berdiri tegak di hadapan dunia. Dari yang merasa sendirian, menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa madrasah adalah tempat tumbuhnya keceriaan yang menyejukkan, kebahagiaan yang menguatkan, dan inspirasi yang menggerakkan. Di madrasah, luka bisa menjadi kekuatan, dan keterbatasan bisa berubah menjadi prestasi. Menjadi guru di madrasah adalah anugerah karena di sanalah saya belajar bahwa mendidik adalah tentang memanusiakan manusia.
Kini, setiap kali melihat senyum anak-anak KIR, saya yakin: madrasah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat pulang. Dan selama masih ada anak-anak yang membutuhkan ruang untuk dipercaya dan dicintai, saya akan terus bahagia menjadi bagian dari madrasah.
Penulis
ZUHROTUL WARDAH, S.Pd, M.Pd.I
MTs. Negeri 5 Pasuruan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?