Kuliah Tamu IP UMM Ungkap Gen Z Lebih Percaya Medsos, Alarm Baru bagi Pemilu 2029
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Era kampanye baliho perlahan mulai ditinggalkan, Fakta mengejutkan terungkap di mana 100 persen Generasi Z di Jawa Timur kini menggantungkan informasi politiknya pada media sosial, dengan TikTok sebagai raja utamanya. Fenomena pergeseran 'Demokrasi Digital' inilah yang dikupas tuntas oleh Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Perludem dan RC-POL pada 7 Januari lalu kuliah tamu dengan tema Arah Demokrasi Masa Depan Menyongsong Pemilu 2029.
Ardi Firdiansyah, M.IP. Direktur Riset and Consulting Policy (RC-POL) menjelaskan bahwa ruang digital saat ini menjadi sumber utama informasi politik sekaligus arena pertukaran gagasan dan debat publik, khususnya bagi generasi Z. Demokrasi digital dinilai mampu meningkatkan partisipasi politik, namun juga menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan preferensi politik.
Ardi memaparkan hasil survei RC-POL pasca Pemilu Serentak Agustus 2024 yang menunjukkan bahwa 100 persen pemilih Gen Z di Jawa Timur memperoleh informasi politik dari media sosial. Platform TikTok menjadi sumber utama dengan persentase 48 persen, disusul Instagram 25 persen, X sebesar 21 persen, YouTube 4 persen, serta Facebook dan WhatsApp masing-masing 1 persen. “Kondisi ini menandakan bahwa kampanye pemilu ke depan tidak lagi bergantung pada baliho atau poster fisik, melainkan membutuhkan regulasi yang jelas terhadap kampanye di media sosial,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa karakter politik generasi Z yang cenderung responsif terhadap isu-isu yang sedang ramai, namun belum sepenuhnya berorientasi pada partisipasi politik jangka panjang. Generasi ini dinilai memilih secara rasional sekaligus emosional, dengan mempertimbangkan program kerja dan dampak kebijakan, namun juga dipengaruhi oleh kedekatan perasaan terhadap figur tertentu. Oleh karena itu, literasi politik dan penguatan kesadaran demokrasi menjadi hal penting agar partisipasi politik Gen Z tidak hanya bersifat sesaat.
Sementara itu, Heroik Mutaqin Pratama, M.IP. Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menjelaskan bahwa pemilu merupakan elemen fundamental dalam negara demokrasi. Ia juga menyoroti masih adanya sejumlah persoalan dalam sistem pemilu, seperti instabilitas politik yang sering muncul dalam sistem parlementer serta praktik politik uang yang dipicu oleh tingginya persaingan antar calon. “Sebuah negara tidak dapat disebut demokratis tanpa adanya pemilu yang berintegritas,” ujarnya.
Heroik sapaan akrabnya juga menekankan pentingnya perbaikan sistem pemilu tanpa menghilangkan mekanisme pemilihan langsung, khususnya pemilihan kepala daerah. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pemisahan antara pemilu nasional dan pemilu daerah. “Selama ini perhatian publik terlalu terpusat pada pemilihan presiden, sementara pemilihan legislatif kurang mendapat perhatian,” tuturnya.
Dengan pemisahan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih fokus menilai calon legislatif dan kualitas kebijakan yang ditawarkan. Selain itu, ia juga memaparkan usulan penyederhanaan tahapan pemilu, seperti percepatan penetapan partai politik peserta pemilu, penyederhanaan pendaftaran pemilih, hingga efisiensi waktu pemungutan dan penghitungan suara.
Melalui kuliah tamu ini, UMM berharap mahasiswa semakin kritis dan melek politik dalam menghadapi dinamika demokrasi ke depan, sekaligus mampu berperan aktif dalam mengawal proses pemilu yang lebih berintegritas menuju Pemilu 2029.(*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?