Ketua PDDI Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini dan rombongan Petik Jambu di Kebun Matsuri (topi coklat kaos lengan panjang)
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM:;Kebun Jambu Matsuri di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, kembali mencuri perhatian. Tak hanya dikenal sebagai sentra jambu merah yang produktif, kebun ini juga mulai dilirik sebagai destinasi wisata petik buah yang edukatif dan inspiratif.
Hal tersebut terlihat saat Ketua PDDI Kabupaten Pasuruan yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhammad Zaini, berkunjung langsung ke Kebun Matsuri, Rabu (14/1/2026). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian studi banding pelaksanaan donor darah PDDI Kabupaten Malang di Desa Ngabab.
Didampingi Bidan Yuliana, penggerak donor darah sukarela di Desa Ngabab, Muhammad Zaini bersama jajaran pengurus PDDI Kabupaten Pasuruan diajak melihat langsung kebun jambu milik Matsuri, petani jambu merah yang dikenal konsisten dan berhasil.
Dengan wajah ceria, Muhammad Zaini turut memetik jambu merah langsung dari pohonnya. Meski harus berjalan cukup jauh ke dalam kebun, semangatnya tak surut. Jambu merah segar yang digenggam di tangannya disambut tawa lebar dan decak kagum.
“Buah jambunya sangat sehat. Ini layak menjadi destinasi wisata petik buah. Kegigihan dan konsistensi Pak Matsuri akan saya bawa ke Kabupaten Pasuruan sebagai inspirasi bagi petani kami,” ujar Muhammad Zaini.
Kebun Matsuri memiliki 97 pohon jambu merah, seluruhnya dalam kondisi sehat dan berbuah lebat. Dalam satu masa panen, satu pohon mampu menghasilkan 70 hingga 80 kilogram buah, dengan masa panen berlangsung hingga tiga bulan. Setelahnya, pohon cukup dipangkas untuk kembali berbuah tanpa harus menunggu lama.
“Pohon-pohon ini ditanam sejak 2021. Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang mati. Kuncinya perawatan yang tepat,” ungkap Matsuri saat ditemui, Kamis (15/1/2026).
Keunggulan lain kebun ini adalah kontinuitas panen. Jambu dapat dipetik setiap hari atau dua hari sekali sesuai permintaan pasar, sehingga petani tidak harus menunggu panen raya.
Salah satu kunci keberhasilan Kebun Matsuri adalah teknik pembungkusan buah menggunakan plastik sejak ukuran jambu sebesar telur. Metode ini diterapkan selama sekitar dua bulan hingga panen.
Cara tersebut terbukti efektif menjaga kualitas buah sekaligus mencegah serangan lalat buah, tanpa ketergantungan pada pestisida berlebihan. Menariknya, seluruh teknik budidaya ini dipelajari Matsuri secara otodidak, tanpa pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Meski jambu merah di kebun ini memiliki biji yang cukup banyak, Matsuri menyarankan pengolahan menjadi jus agar lebih nyaman dikonsumsi.
Harga jambu merah di Kebun Matsuri tergolong ramah di kantong, berkisar Rp6.000–Rp7.000 per kilogram di tingkat kebun. Harga tersebut berlaku baik untuk pembeli yang datang langsung maupun penjualan dari rumah.
Dibanding jambu kristal yang harganya lebih mahal namun produksinya terbatas, jambu merah di Kebun Matsuri unggul dari sisi kuantitas, kontinuitas, dan stabilitas pasokan.
Ke depan, Matsuri berharap para petani jambu di Desa Ngabab dan sekitarnya dapat lebih sering berkumpul untuk berbagi pengalaman budidaya dan pemasaran, sehingga kesejahteraan petani semakin meningkat dan desa semakin dikenal sebagai sentra jambu merah unggulan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?