Ketika Mengajar Menjadi Ibadah: Catatan Inspiratif dari Madrasah
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Mengajar sering dipahami sebagai profesi—sebuah pekerjaan yang dijalani demi tanggung jawab dan penghidupan. Namun perjalanan saya di madrasah mengajarkan bahwa mengajar dapat melampaui batas profesi dan menjelma menjadi ibadah. Ia bukan hanya aktivitas menyampaikan ilmu, melainkan proses menata niat, melatih kesabaran, dan menjaga keikhlasan dalam setiap langkah pengabdian.
Jarak antara tempat tinggal saya dan madrasah kurang lebih 35 kilometer. Jarak ini saya tempuh hampir setiap hari, melintasi jalan yang tidak selalu bersahabat. Bagi saya, jarak bukan sekadar angka, melainkan ruang kontemplasi. Setiap kilometer adalah pengingat bahwa pengabdian tidak selalu dekat dengan kenyamanan. Dalam perjalanan itu, saya belajar tentang keteguhan—tetap berangkat meski lelah, tetap hadir meski cuaca dan kondisi sering kali menguji.
Ada satu sore yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Sepulang sekolah dan bimbingan belajar sekitar pukul 16.00 WIB, hujan turun sangat lebat. Langit menggelap, angin berembus kencang, dan petir menyambar berulang kali. Di tengah perjalanan pulang, kilatan petir menyambar begitu dekat hingga membuat saya terhenti sejenak. Pada momen itu, saya benar-benar merasakan betapa rapuhnya manusia. Tidak ada yang bisa diandalkan selain keyakinan dan kepasrahan. Saya melanjutkan perjalanan dengan hati yang berserah, percaya bahwa langkah yang diniatkan baik akan selalu berada dalam penjagaan.
Musim penghujan menghadirkan ujian yang lebih panjang. Banjir di berbagai titik sering membuat perjalanan pulang tersendat. Pernah suatu hari, saya baru tiba di rumah pukul 17.30 WIB, dengan tubuh basah dan tenaga terkuras. Namun dalam kelelahan itu, saya justru menemukan ketenangan. Saya belajar bahwa sabar bukan berarti meniadakan rasa letih, melainkan menerima letih sebagai bagian dari pengabdian. Dalam diam, keikhlasan bekerja paling dalam.
Ujian terberat datang ketika saya menjadi korban tabrak lari saat berangkat ke madrasah. Benturan keras membuat saya terjatuh. Jari-jari tangan kanan patah dan mengalami pendarahan hebat. Rasa sakit yang luar biasa memaksa saya berhenti dan merenung. Di titik itulah saya berhadapan dengan keterbatasan diri yang paling nyata. Namun justru dari peristiwa itu, saya belajar tentang makna tawakal: berusaha semampunya, lalu menerima ketentuan dengan lapang dada.
Dalam masa pemulihan, saya menata ulang niat. Saya menyadari bahwa mengajar adalah amanah. Amanah tidak selalu menunggu kondisi sempurna, tetapi menuntut kesungguhan hati untuk tetap bertanggung jawab. Saya kembali ke madrasah dengan keterbatasan, menyesuaikan gerak, menahan nyeri, dan menjaga niat agar tetap lurus. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa ibadah tidak selalu hadir dalam bentuk yang agung, tetapi sering bersembunyi dalam ketekunan yang sederhana.
Madrasah menjadi ruang spiritual yang hidup bagi saya. Di sanalah nilai-nilai tidak hanya diucapkan, tetapi diupayakan. Doa-doa yang dilantunkan setiap pagi, salam yang terucap dengan tulus, dan wajah-wajah siswa yang penuh harap menjadi penguat langkah saya. Setiap senyum mereka adalah pengingat bahwa tugas seorang guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi menjaga harapan agar tetap menyala.
Saya belajar bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga kepekaan hati. Ketika siswa belajar disiplin, berani mencoba, dan bertanggung jawab, di situlah hakikat pendidikan bekerja. Madrasah memberi ruang bagi tumbuhnya nilai-nilai tersebut—nilai yang kelak akan menjadi bekal mereka dalam menghadapi kehidupan yang lebih luas.
Refleksi terdalam dari seluruh perjalanan ini membawa saya pada satu kesadaran penting: amal yang dilakukan dengan niat tulus tidak pernah sia-sia. Setiap kilometer yang ditempuh, setiap hujan yang dilewati, setiap rasa sakit yang ditahan, semuanya memiliki nilai ketika diniatkan sebagai bentuk pengabdian. Mengajar, dalam makna ini, bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bagian dari perjalanan memaknai hidup.
Kini, saya tidak lagi menghitung jarak atau menakar risiko. Yang saya jaga adalah niat—agar tetap bersih dan terarah. Sebab saya percaya, ketika niat dijaga, setiap langkah akan menemukan maknanya, meski tidak selalu terlihat oleh manusia. Madrasah telah mengajarkan saya bahwa pengabdian sejati adalah kesetiaan pada nilai, kesabaran dalam ujian, dan keikhlasan dalam memberi.
Ketika mengajar menjadi ibadah, maka setiap hari di madrasah adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Di sanalah saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang terus bertumbuh menjadi manusia yang lebih utuh—manusia yang menjaga amanah, merawat harapan, dan berjalan dengan keyakinan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan selalu bernilai.
Penulis: Masniya Ulfah, MTsN 6 Pasuruan




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?