Kesan Mendalam Selama Bimbingan Penyuluhan di SLB Tipe ABD
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Selama mengikuti kegiatan bimbingan penyuluhan di SLB Tipe ABD, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga dan meninggalkan kesan mendalam. Kesempatan untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan anak-anak hebat di SLB merupakan anugerah yang patut saya syukuri. Di tengah keterbatasan yang mereka miliki—seperti tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara—tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Hal ini menjadi refleksi tersendiri bagi saya, ketika melihat masih ada sebagian anak yang diberi kesempurnaan fisik justru kurang bersungguh-sungguh dalam belajar, bahkan ada yang sampai putus sekolah.
Kesan pertama saya saat tiba di SLB ABD sungguh di luar dugaan. Belajar bersama anak-anak SLB ternyata menyenangkan, mengasyikkan, dan penuh makna. Mereka tetap antusias diajak berkomunikasi meskipun secara fisik memiliki keterbatasan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Di balik keterbatasan tersebut, Allah menganugerahkan kelebihan lain yang luar biasa, salah satunya kemampuan mereka dalam memahami dan menggunakan bahasa isyarat yang diajarkan oleh para guru.
Dalam proses pembelajaran, anak-anak SLB menunjukkan kemampuan berpikir yang kompleks. Mereka harus melalui dua tahapan sekaligus, yaitu mengartikan bahasa isyarat terlebih dahulu, kemudian memahami materi pelajaran yang disampaikan. Sebagai contoh, dalam pembelajaran mengaji, mereka mampu menguasai huruf Braille dengan sangat baik. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami yang belum pernah mempelajarinya, karena membaca huruf Braille membutuhkan kepekaan dan latihan yang tidak sederhana.
Keberhasilan anak-anak SLB dalam belajar tidak terlepas dari peran para pendidik yang luar biasa. Sosok guru di SLB ABD adalah pribadi-pribadi yang memiliki kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan yang luar biasa. Mereka mendampingi anak-anak dengan penuh kasih, mengarahkan, membimbing, serta memberdayakan anak-anak yang awalnya dianggap tidak berdaya menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. Dedikasi para pendidik inilah yang patut diapresiasi dan menjadi teladan bagi dunia pendidikan.
Pengalaman di SLB ABD juga mengubah cara pandang saya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Selama ini, masih ada sebagian masyarakat yang memberikan stigma negatif terhadap mereka yang tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara. Namun setelah menyaksikan langsung proses pembelajaran di SLB, saya menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah luar biasa. Mereka mampu belajar, mengaji, berhitung, serta mengembangkan berbagai kreativitas layaknya manusia pada umumnya.
Apabila mereka diberikan kesempatan yang sama, didukung dengan fasilitas yang memadai, serta diasah kecerdasannya secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin mereka akan tumbuh menjadi anak-anak hebat yang mampu berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat, sebagaimana anak-anak yang diberi kesempurnaan fisik.
Salah satu pengalaman paling berkesan selama bimbingan penyuluhan di SLB adalah ketika saya didampingi oleh seorang guru SLB yang memiliki kompetensi tinggi dalam bahasa isyarat. Dengan gerakan tangan yang terstruktur dan ekspresif, pesan yang disampaikan dapat langsung dipahami oleh para murid. Ketika saya mencoba menirukan bahasa isyarat tersebut, saya merasakan betapa sulitnya memperagakan gerakan yang tepat. Jari-jari saya terasa kaku dan lamban, jauh tertinggal dibandingkan kecepatan dan keluwesan anak-anak SLB.
Hal yang paling mengharukan adalah ketika salah satu murid SLB dengan penuh kesabaran justru mengajari saya memperagakan bahasa isyarat. Di saat saya kebingungan, anak tersebut membantu dan membimbing saya dengan senyum tulus. Peristiwa sederhana ini menjadi pelajaran besar bagi saya tentang makna kerendahan hati, kesabaran, dan semangat berbagi ilmu tanpa memandang keterbatasan.
Pengalaman bimbingan penyuluhan di SLB Tipe ABD bukan sekadar kegiatan formal, melainkan perjalanan batin yang memperkaya cara pandang dan menumbuhkan empati. Anak-anak SLB bukanlah pribadi yang patut dikasihani, melainkan individu-individu hebat yang memiliki potensi besar. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, dukungan, dan kepercayaan agar mampu berkembang secara optimal.
Penulis:
Syaifu Nu’man, S.Ag (Penyuluh Agama Islam, Kementerian Agama Kota Malang)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?