Enam Pemenang Lomba foto bersama Gus Bay, Gus Shampton, Kamad MAN 2 Samsuddin, dan Anis
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang tak sekadar memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 dengan seremoni. Melalui Lomba Menulis Esai HAB Kemenag 2026, bertajuk "Aku Bagian dari Kemenag Kota Malang, Antara Pengabdian dan Kesan Tak Terlupakan."
Lembaga ini menyalakan kembali obor literasi dan tradisi intelektual di kalangan aparatur sipil negara (ASN) dan sivitas Kemenag.
Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Achmad Shmapton, S.HI, M.Ag, menegaskan bahwa lomba menulis Esay ini menjadi langkah awal membangun budaya berpikir reflektif dan produktif melalui tulisan.
Antusiasme peserta, menurutnya, menjadi bukti bahwa potensi literasi di lingkungan Kemenag sangat besar.
“Alhamdulillah, saya senang sekali. Banyak teman-teman yang mulai tergerak untuk menulis. Bahkan tadi ada yang mengusulkan agar dibuatkan komunitas menulis supaya bisa berlatih bersama,” ujar Gus Shampton saat wawancara usai acara penyerahan hadiah di MAN 2 Kota Malang, Kamis 1 Januari 2025.
Ia menambahkan, menulis bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi bagian dari khazanah besar peradaban Islam. Banyak ulama terdahulu dikenal dunia justru karena karya-karya tulisnya yang melintasi zaman.
“Menulis adalah khazanah ulama-ulama kita di masa lalu. Kita ingin membangun kembali semangat itu di Kementerian Agama. Hari Amal Bakti harus diisi dengan kegiatan yang inspiratif dan berdampak jangka panjang,” tegasnya.
Sejumlah esai peserta dinilai mampu menghadirkan kejujuran batin, refleksi pengabdian, hingga pengalaman personal yang menyentuh. Hal inilah yang menurut Shmapton menjadi kekuatan utama lomba tersebut.
“Banyak peserta sudah berani mengungkapkan kata hatinya lewat tulisan. Tulisan itu kelak akan dibaca, dan dari sanalah manfaatnya mengalir ke generasi berikutnya,” imbuhnya.
Sebagai tindak lanjut, Kemenag Kota Malang berencana membentuk Komunitas Penulis Kementerian Agama, sebagai ruang belajar bersama, berlatih, dan saling menguatkan budaya menulis di lingkungan Kemenag.
Lomba esai ini dinilai oleh empat lapis juri yang kompeten di bidang literasi dan pemikiran publik, Anis Hidayatie (Ketua Komunitas Menulis Buku Indonesia, editor, pimpinan JatimSatuNews.com), Saifullah Syahid (penulis esay dan redaktur Maiyah.com), Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi (kolumnis, humorolog, editor Expert Times Indonesia), serta Kepala Kemenag Kota Malang sendiri.
Salah satu juri, Gus Bay memaparkan bahwa esai bukan sekadar cerita personal, melainkan tulisan nonfiksi yang memuat renungan, kritik, dan wacana.
“Esai itu harus utuh, dari gagasan hingga paragraf terakhir. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Maka saya yakin para peserta punya idola bacaan—entah Gunawan dengan Catatan Pinggir, Gus Dur yang mampu menerjemahkan budaya, seni, bahkan sepak bola ke dalam tulisan, atau tokoh lain semisal Dahlan Iskan atau AS Laksana,” jelasnya.
Menurut Gus Bay disamping kriteria, aspek yang dinilai antara lain judul, sudut pandang, gaya bahasa, dan kejutan dalam tulisan.
“Yang saya tunggu adalah kejutan. Ada tulisan yang membuat terharu, ada yang membuat tertawa, ada yang memberikan kesan. Itulah yang akhirnya kami pilih,” ungkapnya.
Anugerah pemenang Lomba menulis Esay diakhiri dengan doa oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Malang sebagai tuan rumah, H. Samsuddin.
Dari seluruh peserta, dewan juri menetapkan enam pemenang terbaik, yaitu:
Luluk Mufidah
“Kimia Sebagai Dakwah, Cinta Sebagai Kurikulum, dan Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan di Kemenag Kota Malang”
Rachmawati
“Di Antara Pengabdian dan Ketidakpastian”
Ema F.A.
“Menjemput Kejernihan”
Handri S.
“Tidak Ada yang Kebetulan”
Heri Mulyo Cahyo
“Pengabdian yang Tak Tercatat di SK”
Eka Wijayanti, S.S “Kinerja Berbasis Cinta: Sebuah Ikhtiar Transformatif untuk Mengukir Manfaat Substantif dan Kesan Bermakna dalam Pendidikan."






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?