Dari Langkah Kecil Menuju Jejak Nyata Menebar Bahagia di Madrasah
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Menjadi bagian dari madrasah adalah sebuah keberkahan, Dalam perjalanan, tiada henti untuk menemukan makna dan berbagi inspirasi. Bagi saya makna itu terpatri dalam dunia literasi, sebuah kekuatan yang mampu membuka cakrawala dan mengubah kehidupan. Literasi sering dianggap kegiatan yang serius dan kaku padahal salah satu sumber kebahagiaan yang paling murni.
Diawali dengan keyakinan bahwa Pendidikan adalah pilar utama perubahan. Saat diberi amanah menjadi jembatan ilmu bagi sesama guru, sebuah kehormatan bagi saya. Perjalanan saya di dunia literasi Kabupaten Pasuruan bukan secara tiba-tiba, melainkan rangkaian cerita indah sebagai guru madrasah. Dan keberhasilan itu bukan hanya dari hitungan buku yang tercetak, melainkan membangun jiwa-jiwa literat yang mampu menginspirasi mereka terus maju, berprestasi dengan menebar aroma bahagia.
Kebahagiaan saya bermula saat mengikuti program GELEM (Gerakan Litrasi Madrasah). Semangat membara untuk menuangkan gagasan dalam bentuk buku. Ketekunan itu membawa saya meraih juara 2 guru literasi tingkat Kabupaten Pasuruan. Sebagai pengurus KKG-MI Kabupaten turut serta mendukung program GELEM yang digagas oleh Kasi Pendma Kabupaten Pasuruan Bpk. Najib Kusnanto, S.Ag., M.Si. dengan tema “MENGGAYUK 1001 BUKU”.
Saya ikut berperan dalam program tersebut. Turut membimbing, mengedit, dan menampung semua tulisan karya guru di Kecamatan Beji dan Gempol dengan target waktu yang telah ditentukan. Melihat buku karya rekan sejawat sampai menjadi buku ber-ISBN adalah momen yang sangat membahagiakan. Sebagai koordinator literasi rasa bangga yang meledak, saat saya sadar, bahwa guru madrasah mampu berkarya secara kolektif, disalah satu aktifitas yang luar biasa.
Sepertinya aura literasi tidak dapat pisah dalam kehidupan saya. Melalui media sosial mencoba berenang sambil mencari kail. Ternyata FIM menarik saya hingga masuk dalam gubangan GML (Guru Motivator Literasi). Gelora semangat ini semakin menyala saat terpilih sebagai guru motivator dari FIM (Forum Indonesia Menulis). Saat itu saya memulai misi kecil, memberi makna untuk madrasah. Kepala Madrasah sangat mendukung terhadap program GML. Bpk Abd. Muid, S.Ag., M.Pd., sangat antusias, beliau turut mengawal dan memfasilitasi kegiatan literasi di MIN 1 Pasuruan.
Batapa bahagia ketika saya bersama wali kelas berhasil mengajak murid kelas 3, 4, 5 dan 6 untuk berani menulis puisi yang pertama kali untuk mereka. Hasilnya sungguh luar biasa, telah terkumpul, lebih dari 300 karya puisi yang lahir dari tangan - tangan mungil mereka. Begitu pula gurunya turut serta dalam penulisan buku antologi. Kebahagiaan saya membuncah melihat binar mata mereka saat menyadari bahwa tulisannya bukan sekadar coretan, melainkan sebuah karya yang dibukukan. Keberhasilan itu bukan hanya tentang buku yang tercetak, tapi tentang kepercayaan diri murid yang mulai tumbuh melalui literasi.
Madrasah Reform membuka pendaftaran Fasilitator, alhamdulillah saya terpilih sebagai FASDA LITERASI daerah Kabupaten Pasuruan melalui program bantuan PKB dari Madrasah Education Quality Reform (MEQR). Sejak turun SK sebagai FASDA (Fasilitator Daerah) tahun 2021-2024. Jam terbang untuk menghadiri undangan Pokja KKG-MI yang mendapat bantuan, kian membanjiri, dan saya harus selektif. Karena menyesuaikan tugas sebagai guru kelas MI. Tugas saya bukan sekadar menjalankan program “in-on-in” atau menyiapkan materi dan sarana prasarana pelatihan. Lebih dari itu, saya hadir sebagai pembimbing teman sejawat. Di ruang-ruang pelatihan PKB (Program Kegiatan Berkelanjutan), saya berusaha yang terbaik, meskipun banyak kekurangan. Suasana yang dibangun dengan menerapkan pendekatan pembelajaran orang dewasa yang menyenangkan. Kami berdiskusi, tertawa, memecahkan permasalahan yang ada di madrasah dengan suka cita. Membedah makna literasi untuk solusi bersama dengan semangat kekeluargaan. Melihat antusias guru-guru MI Kabupaten Pasuruan, disaat menerima materi literasi melalui pendekatan humanis. Ada kebahagiaan yang unik ketika saya berbagi pengalaman dan keilmuan. Mereka takjub, terdiam, terpaku, menyadari betapa luasnya cakrawala keilmuan literasi. Saya bersyukur:
- Diberi ruang untuk berbagi pengalaman, ilmu tidak berhenti tapi mengalir menjadi manfaat bagi orang lain.
- Menginspirasi perubahan, menanam kesadaran bahwa literasi adalah kunci membuka dunia bagi anak didik di madrasah.
- Belajar dari teman sejawat, hubungan ini bersifat take and give, saya memberi ilmu dan mendapat inspirasi dari kegigihan mereka.
Dari materi yang disampaikan seperti: Fonologis, Bigbook, Running Record, Literasi kelas atas, Literasi kelas bawah, membaca cepat dll, saya selalu menambahkan materi Mendesain Kelas Literat. Alasan mengapa materi tersebut selalu saya sisipkan di sela materi yang diajukan oleh guru MI, karena materi tersebut sangat penting. Jika kelas terdesain secara literat akan berimbas terhadap motivasi belajar siswa. Disaat ruang kelas tertata rapi dan indah, kaya akan bacaan, alat peraga, tempelan karya siswa. Mereka akan lebih semangat, merasa senang, ceria disaat proses belajar mengajar berlangsung, karena tidak membosankan. Warga belajar akan merasakan kebahagiaan, nikmatnya belajar di madrasah.
Kebahagiaan ini kian lengkap saat melihat para guru merasa nyaman belajar bersama teman sejawat. Mereka antusias, praktik membuat alat peraga secara berkelompok, tidak ada sekat atau canggung, yang ada hanyalah semangat untuk maju bersama. Mereka senang, puas karena merasa didengar, didukung dan dirangkul dalam wadah KKG-MI Kabupaten Pasuruan. Kebetulan saya menjabat sebagai sekretaris di KKG-MI Kabupaten hingga sekarang. Pesan saya satu “untuk membangun kelas literat mulailah dari diri sendiri.”
Ditunjuk sebagai ketua tim Literasi di MIN 1 Pasuruan, fokus saya semakin mengakar terkait literasi. Dua tahun terakhir ada program menarik, dimana murid MIN 1 Pasuruan mendapat porsi untuk berlaga di tingkat nasional. Melalui program GSMB (Gerakan Sekolah Menulis Buku). Saya dan tim literasi dapat mendampingi 80 murid dari kelas 5 dan 6. Mereka terjaring melalui tes menulis pengalaman pribadi melalui seleksi GSMB, sehingga terbitlah buku yang berjudul “HATI BOLEH PATAH, PENA TAK BOLEH PATAH UNTUK MENGGURAT” . Ide kreatif dari tim literasi Bpk Muhammad Anas, S.Ag., M.Pd.
Puncaknya di bulan Mei 2025 menjadi momen yang tak terlukapan. Dua murid MIN 1 Pasuruan bersinar ditingkat nasional. Ananda Ghibran Zain Alfatir masuk dalam urutan 5 besar terbaik nasional dan Rahayu Wahyu Pratama sebagai 100 nomine penulis terbaik tingkat nasional. Bersanding dengan guru tim literasi ibu Nur Cholisotin Nafsiyah dinobatkan sebagai penulis 100 nomine terbaik nasional. Alhamdulillah saya juga masuk Nyore Kandidat Sosialitator Daerah, mendapat predikat guru penggerak Nyalanesia tahun 2025.
Ditahun yang sama madrasah kami tetap bertahan sebagai MADRASAH LITERASI. Atas dukungn kepala madrasah yang baru Bpk Abdul Qodir, S.Pd.I., M.Pd. beliau mensuport seluruh program yang diajukan tim literasi, termasuk program NYALANESIA. Saya bersama tim literasi melaksanakan program bimbingan. Terdapat 123 murid yang terpilih untuk menulis puisi dan pengalaman pribadi. Melalui bimbingan yang tak kenal lelah, selalu ceria membimbing mereka. Lelah kami, tim literasi terbayarkan dengan kebahagiaan bersama terbitnya buku yang berjudul “ YA ALLAH IZINKAN AKU BERTUTUR” dari tulisan pengalaman pribadi dan “PALUNG AKSARA” dari kumpulan puisi. Dari serangkaian kebahagiaan menulis, terdapat 6 murid masuk daftar nominasi yang akan berlanjut pada tingkat nasional yaitu
- 3 murid, katagori penulis puisi terbaik tingkat madrasah
- 3 murid, katagori penulis pengalaman terbaik tingkat madrasah
Daftar nama murid diatas telah terpilih, dan akan dilombakan bersama penulis seluruh Indonesia pada bulan Mei 2026 mendatang.
Bersama tim literasi, pada bulan Mei 2025 kami tak henti membersamai dengan murid dan dewan guru untuk menulis puisi yang bertemakan Ramadhan. Sehingga mampu menghasilkan 435 karya puisi (kolaborasi menulis puisi bersama Menteri Agama RI) berdasarkan edaran Kemenag Provinsi Jawa Timur.
Dari rangkaian cerita berbagi inspirasi, literasi memiliki peran dalam membersamai guru-guru madrasah. Program GELEM (Gerakan Literasi Madrasah) satu guru satu buku, merupakan hal tersulit bagi guru yang belum terbiasa menulis. Berkat keteguhan dan ketelatenan koordinator bersama guru MI kecamatan Beji dan Gempol, hingga mampu melewati badai. Endingnya mereka bahagia memiliki pengalaman menulis buku.
Demikian juga murid MIN 1 Pasuruan dengan kegigihan GML (Guru Motivator Literasi) mampu mengantarkan murid sampai menghasilkan 300 lebih karya puisi dalam bentuk antologi dari kelas 3, 4, 5 dan 6. Sungguh bahagia melihat tangan mungilnya mendekap sebuah buku kecil dari hasil coretannya.
Dalam kebersamaan guru-guru MI di Kabupaten Pasuruan melalui FASDA LITERASI memberi kesan tersendiri. Adanya ikatan saling membutuhkan, belajar memberi dan menerima, lahirlah aura positif melalui keceriaan mereka dalam mendesain kelas literat. Materi literasi yang diberikan berdampak terhadap motivasi belajar siswa dan prestasi madrasah. Menjadi Fasilitator Daerah adalah tentang menebar cahaya, dan saya bangga menjadi bagian dari cahaya disetiap madrasah di Kabupaten Pasuruan.
Literasi tidak hanya kegiatan menulis buku, namun bagaimana dapat menginspirasi murid sehingga dapat membawa kejuaraan ditingkat nasional. Membuktikan PROGRAM LITERASI di MIN 1 Pasuruan benar-benar bernyawa dan muncul di semua saluran yang menghasilkan prestasi dan membawa aroma kebahagian. Jika satu buku mampu mengubah dunia, maka satu kelas literat mampu melahirkan ribuan pemimpi besar.
Bagi saya madrasah adalah rumah untuk bertumbuh. Literasi telah mengubah cara saya memandang Pendidikan. Bahwa dengan menulis kita sedang mengabdikan kebahagiaan. Saya ingin terus berlari membawa cahaya literasi agar setiap sudut madrasah menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi anak bangsa untuk bermimpi. Dan saya bangga telah menjadi bagian dari madrasah sehingga dapat mengantarkan mereka pada posisi yang paling berharga. Sungguh bahagia bersama mereka. Mari melangkah dengan senyum, sebab guru yang bahagia akan melahirkan murid yang luar biasa. Literasi bukan hanya soal membaca kata, namun soal membaca dunia dengan hati yang bahagia.
Oleh : Maufuza (MIN 1 Pasuruan)
Foto Pendukung












Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?