Bahagia Bertumbuh di Madrasah: Cerita Ceria Perjalanan Adiwiyata MAN 1 Pasuruan
Oleh: Chaula Prihatiningtyas,S.Pd,M.Si
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Saya adalah seorang guru Madrasah Aliyah Negeri 1 Pasuruan. Bagi saya, madrasah bukan sekadar tempat mengajar dan bekerja, tetapi ruang pengabdian, ruang tumbuh, dan ruang belajar kehidupan. Dalam rangka Hari Amal Bakti Kementerian Agama, saya ingin berbagi kisah nyata perjalanan saya mulai sebagai guru anggota Tim Adiwiyata, kemudian Ketua atau Pembina Adiwiyata hingga sekarang sebagai Penasehat Tim Adiwiyata sekaligus Pengurus Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) kabupaten Pasuruan—sebuah perjalanan panjang yang penuh suka dan duka, namun selalu dibalut keceriaan sebagai warga madrasah.
Madrasah mengajarkan kami untuk menyeimbangkan ilmu, iman, dan amal. Nilainilai itulah yang menjadi fondasi ketika MAN 1 Pasuruan mulai melangkah dalam program Adiwiyata. Awalnya, program ini terasa berat. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai pekerjaan tambahan, bahkan beban. Namun saya meyakini satu hal: jika dikerjakan bersama dengan niat yang lurus, semua akan terasa ringan dan bermakna.
Sebagai Tim Adiwiyata, saya berada di garis depan sekaligus di tengah-tengah perjuangan. Bersama kepala madrasah, rekan-rekan guru, dan siswa, kami memulai dari langkah-langkah kecil. Kami menata lingkungan, membangun kebiasaan peduli kebersihan, dan menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman.
Tidak mudah. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan tubuh lelah dan pikiran penuh. Rapat demi rapat, koordinasi lintas tim, hingga pendampingan siswa sering menyita waktu dan tenaga. Bahkan tak jarang muncul rasa ragu: apakah usaha ini akan berhasil? Namun setiap kali saya melihat siswa tersenyum bangga dengan taman kelasnya, setiap kali saya menyaksikan guruguru bekerja tanpa pamrih, keraguan itu berubah menjadi keyakinan.
Perjalanan pertama adalah menuju Sekolah Adiwiyata Kabupaten, itu menjadi fase pembelajaran yang luar biasa. Kami tidak hanya berfokus pada administrasi dan penilaian, tetapi berusaha membangun budaya. Salah satu strategi yang kami lakukan adalah menghidupkan semangat Adiwiyata melalui berbagai kegiatan antara lain Diklat KPLH, Pemilihan Duta Lingkungan, lomba kreatif dan edukatif yang melibatkan seluruh warga madrasah. Tim Adiwiyata MAN 1 Pasuruan menggagas fashion show busana daur ulang, yang ternyata menjadi ajang paling ditunggu oleh siswa. Dari bahan bekas seperti plastik, kertas koran, dan karung, lahirlah karya-karya luar biasa. Saya masih ingat betul ekspresi percaya diri siswa saat melangkah di atas panggung, mengenakan busana hasil kreativitas mereka sendiri. Di momen itu, saya sadar bahwa pendidikan lingkungan tidak harus kaku; ia bisa ceria, menyenangkan, dan membangkitkan potensi.
Kami juga mengadakan lomba kebersihan dan keindahan kelas. Setiap kelas berlomba menampilkan ruang belajar yang bersih, rapi, dan hijau. Yang membuat saya terharu, siswa tidak lagi membersihkan kelas karena takut nilai berkurang, tetapi karena merasa memiliki. Mereka menata tanaman, membuat jadwal piket dengan kesadaran, dan saling mengingatkan. Dari sinilah karakter peduli lingkungan tumbuh secara alami.
Tak berhenti di situ, kreativitas siswa kami salurkan melalui lomba mendesain kaos peduli lingkungan. Kaos-kaos dengan pesan moral tentang menjaga bumi, mengurangi sampah plastik, dan cinta lingkungan menjadi simbol kebanggaan warga madrasah. Beberapa desain bahkan digunakan dalam kegiatan resmi sekolah. Siswa merasa dihargai, dan madrasah mendapatkan identitas baru sebagai sekolah yang ramah lingkungan.
Masih banyak kegiatan lain yang kami lakukan: lomba poster lingkungan, pembuatan eco-brick, bank sampah, hingga aksi tanam pohon bersama. Semua kegiatan itu bukan sekadar lomba, tetapi media pembelajaran karakter. Di sanalah letak keceriaan warga madrasah—belajar sambil berkarya, berkompetisi sambil menanam nilai.
Puncak kebahagiaan pertama kami adalah saat MAN 1 Pasuruan yang waktu itu masih bernama MAN Bangil dinobatkan sebagai Sekolah Adiwiyata Kabupaten pada tahun 2009, disusul tahun 2011 menjadi Sekolah Adiwiyata Propinsi. Tangis haru pecah diantara kami. Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Namun kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari tantangan yang lebih besar.
Menuju Sekolah Adiwiyata Nasional, kami diuji lebih keras. Standar semakin tinggi, tuntutan semakin kompleks. Ada kelelahan, ada perbedaan pendapat, bahkan ada rasa ingin menyerah. Saya sendiri pernah berada di titik terendah. Namun madrasah mengajarkan saya arti keikhlasan dan kebersamaan. Kami saling menguatkan, saling mengingatkan tujuan awal: mendidik generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan berakhlak.
Hari penilaian tingkat nasional menjadi momen yang tak akan pernah saya lupakan. Degup jantung terasa lebih cepat, namun hati kami penuh harap. Ketika akhirnya MAN 1 Pasuruan dinyatakan sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional 2013 kemudian diperpanjang lagi hingga tahun 2024, saya beserta Tim Adiwiyata terdiam lama. Segala lelah, keringat, dan pengorbanan terasa terbayar lunas. Tapi kami akan terus berjuang hingga mendapat gelar Sekolah Adiwiyata Mandiri sebagai gelar tertinggi untuk Sekolah adiwiyata.
Sebagai guru, saya belajar bahwa pendidikan sejati adalah keteladanan. Bahwa nilainilai agama yang diajarkan di kelas harus tercermin dalam tindakan nyata, termasuk dalam menjaga lingkungan. Adiwiyata bukan sekadar program, tetapi jalan dakwah ekologis yang sangat relevan dengan nilai-nilai Kementerian Agama.
Kini, setiap pagi saya melangkah di lingkungan MAN 1 Pasuruan dengan rasa syukur. Saya melihat madrasah yang bersih, hijau, dan penuh kehidupan. Saya melihat siswa yang ceria menjadi warga madrasah, bangga dengan sekolahnya, dan sadar akan perannya sebagai penjaga bumi.
Di Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke 80 tahun ini, saya ingin menegaskan bahwa madrasah adalah pusat peradaban. Madrasah bukan hanya mencetak lulusan berprestasi, tetapi juga manusia berkarakter. Dan saya bersyukur, menjadi bagian dari perjalanan itu—menjadi guru madrasah, menjadi bagian Adiwiyata sekolah, dan menjadi saksi bahwa dari madrasah, keceriaan dan kepedulian bisa tumbuh untuk Indonesia yang lebih baik. Sekarang mari kita lihat beberapa foto kegiatan Adiwiyata MAN 1 Pasuruan di bawah ini yang mencerminkan “Ceria dan Bahagia Menjadi Bagian Madrasah” yang juga peduli lingkungan.





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?