Banner Iklan

80 Tahun Kemenag, Tentang Lencana, Syahdu Suara, dan Jari Hati di Bulusari

Anis Hidayatie
03 Januari 2026 | 17.59 WIB Last Updated 2026-01-03T10:59:54Z


 80 Tahun Kemenag, Tentang Lencana, Syahdu Suara, dan Jari Hati di Bulusari

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Sabtu pagi, 3 Januari 2026, lapangan MIN 2 Bulusari, Pasuruan, menjadi saksi bisu sebuah harmoni. Sepeda saya parkir di tempat yang telah disediakan panitia. Helm saya letakkan pula.  Dengan langkah yakin dan ceria kaki melangkah menuju kerumunan manusia berseragam putih-hitam. Dari wajah-wajah itu, senyum lebar menghiasi bibir mereka.

“Hai, Bu… Lujeng,” sapa saya pada salah satu seraya menebar senyum seolah bertemu keluarga sendiri. Jabat tangan dan kecup pipi pun terjadi. Roman pujangga mengalir spontan, melahirkan komunikasi hangat tanpa arahan. Ya, inilah keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan.

Di bawah bentangan langit biru cerah, dengan kehangatan matahari yang menemani, kami—keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan—berkhidmat merayakan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80. Angka ini bukan sekadar bilangan usia. Ia adalah untaian tasbih pengabdian yang panjang; setiap butirnya merekam doa, kerja keras, dan ketulusan yang dipersembahkan untuk umat dan bangsa.

Delapan puluh tahun adalah bentangan cakrawala tempat kita melukis jejak integritas. Sebuah perjalanan yang tidak diukur oleh rotasi waktu semata, melainkan oleh seberapa dalam manfaat yang telah kita tanam di relung hati masyarakat.

Upacara tahun ini terasa istimewa karena Inspektur Upacara adalah Bupati Pasuruan terpilih pada pemilu beberapa bulan lalu, Rusdi Sutejo. Momen ini tak saya lewatkan. Ponsel saya keluarkan, cekrek–cekrek bak fotografer dadakan, mengabadikan sosok Bupati Pasuruan, Bapak Rusdi Sutejo, yang dikenal kerap turun langsung menemui masyarakat. Dalam hati saya bergumam, “Jokowi KW.”

Saat beliau membacakan amanat Menteri Agama Republik Indonesia, pesan kuat meresap ke sanubari: “Umat rukun dan sinergi, Indonesia damai dan maju.” Tema ini bukan sekadar slogan. Menteri Agama menegaskan bahwa kerukunan adalah energi kebangsaan.

Satu penegasan yang sangat membekas di hati saya adalah bahwa Kementerian Agama merupakan penjaga nalar agama. Di era kecerdasan buatan ini, kami para ASN diingatkan agar tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga teguh pada integritas dan etika yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan. Kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan energi besar yang lahir dari sinergi perbedaan.

Di tengah barisan, telinga saya dimanjakan oleh paduan suara siswa-siswi MAN 1 Pasuruan. Semangat ’45 dan alunan melodi merdu saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya menambah gairah dalam mengikuti khidmatnya upacara. Melodi itu menyatu dengan angin pagi yang mulai menghangat oleh sinar matahari, seolah alam pun turut larut dalam suasana emosional yang menyentuh relung hati terdalam.

Bagi saya, HAB Kemenag bukan sekadar seremoni. Ia adalah momen reuni penuh kehangatan. “Bu… iya… hei, apa kabar?” Sapaan-sapaan itu terdengar berulang, membawa rasa akrab di tengah lapangan.

Kegembiraan memuncak ketika saya dapat berpose bersama rekan-rekan. Dengan gaya jari hati (finger heart), kami seakan ingin menyampaikan bahwa pengabdian ini dijalani dengan cinta yang tulus. Foto kebersamaan itu menjadi bukti bahwa kerukunan dan sinergi bukan hanya slogan, melainkan napas dalam keseharian kami di Kabupaten Pasuruan.

Menjelang akhir upacara, diumumkan berbagai penghargaan, mulai dari siswa berprestasi, guru berprestasi, hingga penganugerahan Satyalancana Kehormatan—penghargaan bagi ASN yang telah mendedikasikan diri bagi instansi dan negara. Penghargaan ini disahkan dan ditandatangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Dalam deretan nama yang dipanggil pembawa acara, terdengar nama saya. Haru pun membuncah saat prosesi penyematan Satyalancana berlangsung. Berdiri di antara para penerima penghargaan 10 tahun masa bakti, saya melangkah maju menerima Satyalancana 20 Tahun.

Dua puluh tahun bukanlah angka yang kecil. Lencana perak yang kini tersemat di dada adalah saksi perjalanan panjang penuh integritas. Sebagaimana pesan Menteri Agama, agama harus hadir sebagai solusi. Selama dua dasawarsa ini, saya berusaha menjadi bagian dari solusi tersebut bagi umat.

Dengan tatapan penuh harap, saya menanamkan niat untuk terus bermanfaat dan berinovasi—bagi siswa-siswi saya, instansi, agama, dan negara. Amin.

Bulusari menjadi saksi bisu niat suci dan angan terdalam di relung hati saya. Dari tempat ini, saya membawa pulang lebih dari sekadar piagam dan medali. Saya membawa semangat baru.

Jika 80 tahun Kementerian Agama telah memberi manfaat nyata bagi umat, maka tugas saya—dan kita semua—adalah memastikan manfaat itu terus mengalir, semakin luas dan adaptif secara digital, tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Selamat Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia.

Teruslah rukun, teruslah bersinergi, demi Indonesia yang lebih maju.

Oleh:

Sri Sunarni


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • 80 Tahun Kemenag, Tentang Lencana, Syahdu Suara, dan Jari Hati di Bulusari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now